Hari Ibu Dan Para Perempuan Yang Termarjinalkan

Dewie DeAn
Karya Dewie DeAn Kategori Renungan
dipublikasikan 20 Desember 2016
Hari Ibu Dan Para Perempuan Yang Termarjinalkan

Dua hari lagi menjadi momen yang paling indah untuk ibu-ibu di seluruh Indonesia. Hari yang begitu spesial untuk memuliakan dirinya sebagai ibu. Meskipun untuk memuliakan sosok ibu tidak hanya dilakukan pada hari ini saja, melainkan harus dilakukan setiap hari. Bahkan, dalam ajaran Islam, ibu disebut sebanyak tiga kali lebih banyak dari pada ayah. Memang sudah semestinya ibu menjadi sosok yang paling dimuliakan.


Namun, saat merayakan atau memperingati hari ibu, masih banyak perempuan di negeri ini yang termajinalkan. Seharusnya di hari yang bahagia ini, wanita di negeri ini dapat tersenyum lepas, karena dapat menyaksikan hari keagungan yang memosisikan dirinya sebagai pencerah peradaban. Kaum perempuan selalu menjadi simbol kekuatan. Entah itu kekuatan dalam rumah tangga ataupun negara.


Berbicara tentang kaum perempuan memang tidak ada habisnya. Dari sikapnya yang lemah lembut. Bahkan dalam perlindungan hak asasi manusia (HAM) implementasinya masih sangat rendah terhadap kaum perempuan. Perempuan pada saat ini ternyata masih terus mengalami dikotomi, yaitu, apakah dirinya menjadi objek ataukah justru menjadi subjek, baik itu dalam pembangunan maupun dalam bidang lainnya seperti ekonomi. Bahkan dalam porsi rumah tangga sekali pun ternyata eksistensi kaum perempuan juga masih sangat terpinggirkan. Padahal, kemajuan dan eksistensi suatu bangsa dikaitkan dengan bagaimana peran aktif semua lapisan masyarakat, termasuk di dalamnya adalah kaum perempuan. 


Di negeri ini kaum ibu belum sepenuhnya dikatakan merdeka. Masih banyak para ibu bekerja ke luar negeri sebagai TKW untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya. Para ibu datang dari desa ataupun dari kota, mereka berbondong-bondong pergi merantau meninggalkan anak dan sanak saudara untuk mengadu nasib. Di hari yang bahagia ini seharusnya mereka bebas dari siksaan majikannya. Mungkin ini sebuah takdir yang harus dilalui.


Salahkah ibu-ibu berbondong-bondong ke negeri orang? Tidak! Naluri untuk bisa bertahan hidup dari himpitan ekonomi di tengah ancaman kemiskinan dan kelaparan di negeri sendiri telah “memaksa” mereka untuk menjalani nasib yang sesungguhnya sangat tidak mereka harapkan. Ketika mereka sampai di tempat majikan, mereka tidak punya tawaran selain "mengikuti" apa yang diinginkan sang majikan, ada pula yang mendapat majikan yang baik, sehingga terlepas dari siksa dan kekejaman dari majikan, tapi tidak sedikit pula yang mendapatkan perlakuan sebaliknya.


Sungguh, saya amat merindukan hari Ibu yang anggun dan agung. Kaum Ibu dapat merayakan hari kebesarannya dengan penuh senyuman, kedamaian, dan kebahagiaan, tanpa terancam rasa takut dan tekanan. Saya seringkali membayangkan wajah-wajah teman sekerja saya, ibu-ibu yang bekerja sebagai PRT yang sama-sama bekerja menjadi TKW. Mereka ibu-ibu yang tangguh, menegarkan hati dengan meninggalkan buah hati, demi meningkatkan ekonomi keluarga agar jauh lebih baik dan demi memberikan yang terbaik bagi pendidikan anak-anaknya juga memenuhi gizi anak-anaknya. Mereka tidak mau anak-anak mereka mengalami nasib yang sama seperti ibunya. Sungguh ironis, sementara di luar sana sebagian orang berteriak selamat hari ibu, tapi sebagian lagi para ibu masih terbelit kegelisahan, kepedihan, dan ketakutan di negeri orang.

 

  • view 308