Hai kamu

dewi adwinda
Karya dewi adwinda Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Juli 2017
Hai kamu

Hai kamu.  .

 

Hari inii aku ingin menuliskan tentang kamu. Pria dari masalalu. 



Sebenernya kamu bukan orang baru dihidupku. 13 tahun silam kita ditakdirkan berada di satu sekolah yang sama. Meskipun jaman SMP dulu kita nggak pernah sekelas, nggak pernah deket atau mungkin nggak pernah ngobrol langsung, tapi seenggaknya kita saling tau satu sama lain. 


Tahun 2015,entah gimana ceritanya kamu tiba2 BBM. Sebagai teman lama kita basa basi seputar kabar, kuliah dmn, kesibukannya apa dan rasan2 tentang guru jaman SMP. Aku orang yang suka males kl balesin chat yg membosankan atau gak jelas. Tapi ternyata kamu cukup gokil dan bisa ngimbangin topik absurb ku. Sampai pada akhirnya kamu meminta bertemu. Jujur, aku lupa wajah kamu tuh yg mana, karena jaman sekolah ga pernah ngobrol sama sekali.

 

Aku masih inget hari dimana kita kopi darat saat aku masih sibuk jualan online. Kamu nungguin aku selesai kirim barang terus kita lanjut ngobrol di tukang jagung bakar. 
Kesan pertama, kamu menyenangkan. 



Kedekatan ituu terus berlanjut. Bahkan kamu juga sempet beberapa kali nganterin aku ke kampus buat ngurusin keperluan wisuda. Ga cuma itu, kamu juga pernah nemenin kondangan di rumah temenku yg jauhnya ga ketulungan. Aku tau dan ngerasa kamu punya perasaan lebih.  Aku cerita ke beberapa sahabat yg aku percaya, aku meminta mereka menilai gimana kamu. Menurut mereka kamu baik. Tapi pada saat itu, trauma kisah lama masih membekas di otakku. Aku masih takut, aku masih ragu untuk menjalin hubungan baru. Kekecewaan terhadap pasangan sebelumnya membuat penilaian semua lelaki itu sama. 


Naif memang, tapi aku bener bener nggak bisa terima kamu. Padahal orangtuaku, terutama ibukku suka banget sama kamu. Bapakku, pria yg nggak pernah komentar tentang temen-temen cowokku sampe menyarankan aku jalan sama kamu. Banyak pertikaian didalam batinku saat itu. Aku nyaman deket sama kamu, aku suka caramu memperlakukanku, hal sederhana seperti masangin helm, nganterin aku kemana mana, ngenalin aku ke ibukmu, ke om tantemu, ke temen2 kampusmu, u treat me like a princess. 



Tapi disatu sisi trauma itu bikin aku minder. Aku bener bener nggak siap dikecewain lagi. Apalagi saat itu kamu pengen serius sama aku, kamu sering ngajak berhayal tentang rumah tangga sm aku, jalan2 ke beberapa negara sama aku,  rencana beli ini itu, punya anak dan banyak hal lain. Aku tersentuh, aku suka ngakak aja kl kamu uda bilang kayak gitu, tapi didalam hati aku pun sering amin'in hal hal konyolmu itu. 



Banyak temen temen yg tanya, gimana perasaanku ke kamu. Dan lagi lagi aku harus jadi munafik, aku gamau ngakuin hal itu ke mereka. Aku gamau ngaku kl aku suka deket kamu, aku gamau ngaku aku care sama kamu, aku gamau ngaku aku peduli sama kamu, aku gamau ngaku aku jatuh hati sama kamu. 


Berbulan bulan kita jalan tanpa status, kadang aku ngerasa jadi orang jahat. Tapi aku juga kadang dibikin bingung sama sikap kamu. kamu ga peka. kamu cuek. kamu kurang inisiatif untuk bikin aku tersentuh. Sampe beberapa kali aku suka bandingin kamu sama mantanku, jahat banget kan.


Akhirnya aku memutuskan untuk mundur. Mundur untuk membiarkanmu bebas. Aku merasa terlalu egois menggenggam kamu disaat aku masih labil. Terlalu jahat membiarkan kamu menuruti egoku. Malam ituu, aku chat kamu panjang lebar. 
Aku minta maaf dan berterimakasih sama semua hal yg pernah terjadi. Sedih, pastilah. Melepaskan orang yg sudah tergenggam nggak semudah teorinya. Aku tau kamu orang baik, dan saat aku memutuskan mundur, aku tegas bilang ke diriku, jangan pernah menyesal. 



Merelakan janji yg uda kita bikin, merelakan khayalan sederhana yg kita obrolin, merelakan kamu fokus dengan hal yg ingin kamu kejar. Saat kita nggak bersama, banyak yang nanyain kamu kemana. Temen kerja, temen kuliah bahkan ibukku juga nanyain. Aku bilang kamu sibuk skripsi, kamu sibuk penelitian, kamu sibuk sama kuliahmu. Aku ngga ingin mereka bertanya hal lebih mendalam. 



Aku pernah bertaruh sama takdir. Aku bilang, kalau bulan juni aku ulangtaun dan kamu masih inget untuk ngucapin, aku bakal bersedia nunggu kamu. Tapi nyatanya, saat aku ulangtaun kamu ngga inget, aku nunggu seharian dan kamu tetep nggak muncul. Disitulah dilema terbesarku. Aku ngga bisa pegang janji buat nunggu kamu, karena aku kalah bertaruh sama takdir. Akhirnya aku mencoba menjalin hubungan dengan laki laki lain. Ya kebodohan berlanjut, menjadikan oranglain sebagai pelampiasan, jahat. 

Hai kamu.  .

Waktu berlalu, aku masih sering kepo di facebookmu. Sedikit sedih saat liat kamu punya cewe baru. Finally you got another girl ya. Sempet sebel juga dan menganggap "tuh kan, cuma janji doang". Lihat kamu lulus kuliah, lihat kamu berhasil wisuda, aku turut bahagia. Terus muncul postingan kamu sedang berjuang buat masuk TNI, kamu lulus test ini itu dan sampai kamu lolos jadi perwira. Aku tau tiap detail mu, aku terharu melihat kamu yang berhasil mewujudkan apaa yang kamu mau. 



Nggak pernah sedikitpun terpikir untuk ganggu kebahagiaanmu. Aku nyoba menepikanmu dari hidupku, aku sudah merelakanmu dengan siapapun kamu berjalan. Tapi, suatu malam, kamu muncul lagi. Moment idul fitri chat ucapan minal aidzin dateng dari kamu. Sedikit kaget dan ngga nyangka sih. Tapi aku pikir, oh u just wanna to say sorry as an old friend. Lalu shubuh2 kamu telpon, suara yg hampir setahun ga pernah aku denger kini muncul lagi. Kita basa basi tentang kabar, kamu tanya tentang pekerjaaanku dan aku tanya tentang keseharianmu. Terus nggak ada angin nggak ada hujan kamu bilang hal hal yang bikin aku baper "ndut, nikah yuk"



Andai kamu tau, wanita single di usia ku sangat rentan mendengar kata itu. Meskipun kamu bukan orang pertama yg pernah ngucap hal serupa, tapi kata2 "lamar, nikah, rabi" selalu sukses bikin baper. 

 

Lalu aku cek instagrammu, dan aku menemukan potret perempuan disana. Dia cantik. Dan dari captionmu kamu sayang banget sama dia. Bahkan ada juga komenmu yg bilang sebentar lagi akan melamar cewe itu. 

 

Sempet kecewa sih, kenapa kamu tiba tiba dateng dan ngajakin nikah disaat kamu uda punya cewe yg uda mau kamu seriusin juga. Aku nyoba bersikap sekalem mungkin, aku anggep kamu lagi iseng doang, toh kamu bukan lah satu satunya lelaki yg pernah baperin pake kata2 lamar. Langsung seketika tembok pertahanan anti hati rapuh aku bangun. Aku mencoba melihatmu sebagai sahabat. Aku coba denger kisah kisah kamu selama kita nggak kontek. Tanpa rasa baper, aku nyoba nahan sebisaku. 

 

 

Ketika kamu datang, aku curhat ke Tuhan tentang guyonan apalagi ini. Kamu datang untuk bales dendam atau memang karena takdir yg membawa kamu kembali, entahlah. Ada beberapa pria yg mencoba mendekat, mereka juga mengutarakan niat serius, tapi entah kenapa hati belum siap. Terus sekarang kamu muncul. Kebingungan makin menjadi. Apalagi sekarang sikapmu beda. 

 

 

Aku tau, aku uda nyakitin kamu banget. Dimatamu aku uda ngasih harapan palsu, dan mungkin kamu ingin aku merasakan hal serupa, ya semacam balas dendam lah. Siap ga siap, mau gamau aku harus menyiapkan hatiku untuk ha terburuk. 

 

 

Aku pernah bilang ke kamu, andai kamu masih ragu buat deket sama aku, biar aku yang mundur, mumpung rasaku juga belum terlalu dalam. Tapi kamu bilang jangan. 

Sekarang, terserah Tuhan mau dijadiin skenario drama kayak gimana. Aku siap. Aku siap untuk segala kemungkinan.  Aku pernah baca buku, katanya, ketika kamu cinta sama orang harus satu paket. Jangan mau gembira nya aja, tapi ada rasa kecewa, sedih, dan patah hati juga disana. Kalau km gamau panas ya jangan keluar rumah, kalau kamu gamau pedes ya jangan makan cabe, kalau kamu ga pengen patah hati ya jgn cinta sm orang, simpel kan. 

 

 

Jadi sekarang aku mencoba ridho sama takdir-Nya. Aku mencoba merayu hatimu lewat Tuhan. Aku membiarkan semesta meyakinkanmu bahwa aku uda nggak kayak dulu. Aku ingin membebaskanmu memilih apa aku masih layak untukmu. 

 

Semoga, saat kamu yakin, semua belum terlambat. Semoga aku masih sabar menunggumu, semoga aku masih ada di sisimu. Aku takut kalau kamu terlalu asik berlari sampai lupa aku tertinggal jauh dibelakang nggak sanggup untuk ngejar kamu. 

 

Menikah adalah satu tiket penting dalam kehidupan manusia. Aku nggak mau menyia nyia kan itu. Aku menikah bukan untuk mencari bahagia. Kata "Noe" Letto, kamu harus sudah selesai dengan dirimu. Jadi ketika menikah kamu ngga hanya berharap di bahagiakan, tapi memberi bahagia untuk pasanganmu. Aku mau jadi wanita tangguh yg bisa di banggakan, ibu cerdas untuk anak2ku dan menantu kesayangan mertuaku. 

 

Aku akan menghabiskan sisa hidup bersama pasangan yang semesta pilihkan. Aku mau mesra2an sm dia, sebel2an sama dia, konyol2an sm dia, bertukar pendapat sm dia, mendengar ceritanya, menyediakan kopinya, menyelimutinya ketika tidur, menggenggam tangannya ketika menghadapi masalah dan mengatakan "all is fine".

 

Aku akan berdiri saru shaf dibelakangnya. Mengamini segala doa nya. Mensupport segala usahanya. Mengasuh dan mendidik anak2nya. Memasak makanan kesukaannya. Dan menikmati segala anugerah Tuhan bersamanya. 

 

Hai kamu.  .

Sekarang aku berharap dia adalah kamu. Tapi jika bukan, aku nggak akan marah pada keadaan. Mungkin aku bukan yg terbaik untukmu, dan kamu bukan imam yg dipilih tuhan untukku. Apabila segala hal yg kita inginkan terpenuhi, darimana kita belajar ikhlas? 

Disenja yang sedang aku lihat kini, aku menulis semua tentang kamu, tentang kita, tentang harapanku. Biarkan Tuhan yg menjagamu disana, dari kejauhan, dari pandangan mata ku yg terbatas. Semua hubungan pasti akan berakhir, entah berakhir bahagia atau menyakitkan, setidaknya aku ingin kamu tau apaa yang ada di unek unekku. 

Terimakasih karena kamu pernah hadir di hidupku. 

Selamat atas pelantikan perwira yang sangat kamu impikan. 

Jaga kesehatanmu. 

Sampai jumpa, kamu ????

 

 

  • view 102