Tentang Kamu, dan rasa ajaib ini

dewi adwinda
Karya dewi adwinda Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Juni 2016
Tentang Kamu, dan rasa ajaib ini

Jalan di mall, tabrakan sama cowok ganteng, kaya, baik, sholeh, dan saling jatuh cinta??

Yang mana cewe nya pedagang kue dipasar bisa ketemu sama calon pewaris utama sebuah perusahaan besar yang guantengnya bikin istighfar terus.

Kalo' nggak gitu kisah yang awalnya sok-sok an jadi musuh terus lama lama saling cinta.

Ditambah dengan gimmick kendaraan lelaki nya yang bikin keliyengan.

Atau perlakuan tokoh pria hingga membuat wanita itu jatuh cinta, entah itu bunga, dinner romantis, kado mahal dan apalah apalah yang bikin penonton (termasuk aku) berkata "aaaaa sooo sweeeeettt"

Kisah percintaan begitu tuh kayak kisah dongeng ala disney tentang seorang gadis biasa yang bertemu pangeran tanpa disengaja, lalu saling pandang, pangeran nya melawan nenek sihir, sang gadis tersentuh lalu besoknya menikah dan bahagia untuk selama lama nya, tamat ~~

Nah loh bayangin dah, cewek mana yang nggak berkhayal memiliki kisah cinta bak negeri dongeng kalo' setiap harinya  mereka diracuni tayangan kayak begitu.

Parahnya lagi, hal-hal fiksi yang cuma karangan aja, yang biasanya di awal tayangan selalu ada catatan kaki "cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, tempat, karakter dan peristiwa yang sama adalah hanya kebetulan semata tanpa direkayasa" tak luput bikin para orangtua, terutama ibu-ibu yang nimbrung nonton bareng anaknya, ikutan berkhayal yang enggak-enggak, ngarep pake banget kalo' anak gadisnya kelak bisa bernasib sama dengan yang ada di film.

Disitulah asal muasal timbulnya para gadis menetapkan kriteria jodoh masa depannya.

Yang mana pria itu harus mapan, punya mobil, ada rumah, ganteng kalo' bisa, sukak ngajakin shopping, jalan-jalan ke luar negeri, beliin gadget bagus, ngajakin dinner di tempat mahal, dan bayarin ongkos di salon kecantikan.

Dan dari situlah banyak pria yang menganggap cewek itu matre karna nggak bisa memenuhi kriteria yang sudah cewek tetapkan diatas. Andai tuh cowok nekat pacaran sama cewek padahal dia belom kerja, bisa dipastikan dia bakal bela-belain nilap duit SPP, nipu bapak nya alasan bayar buku pelajaran, bohongin ibuknya pulang telat karna ada kerja kelompok atau bahkan penipuan keji lainnya biar bisa ngajakin ceweknya nonton bioskop.

Yah senaif itulah pikiran masa abege ku yang kebanyakan diracuni sama kisah percintaan di ftv, sinetron, film bisokop dan novel remaja.

***

Kata orang makin nambah umur, makin dewasalah pemikiran kita.

Mungkin orang-orang kadang ada benernya.

Beberapa hari yang lalu usiaku bertambah.

Angka 24 yang kata orang usia krusial muncul pertanyaan "kapan nikah?"

Angka 24 yang mana tanggungjawabmu ke orangtua mulai dipertanyakan setelah kamu menjadi "sarjana muda"

Angka 24 dimana kamu sudah mempunyai rencana matang untuk masa depanmu, termasuk "calon suami".

Mungkin ini adalah gambaran umum perasaan temen-temen seangkatan yang sedang melanda relung hatinya, kecuali mereka yang sudah berhasil ketemu jodohnya bahkan sudah punya "buah hati", mereka sedikit beruntung karna sudah lepas dari belenggu pertanyaan nomer satu.

Tapi, tentang jodoh, aku merasa sekarang sedikit lebih simpel.

Dibanding jaman abege yang memiliki banyak persyaratan untuk mencari laki-laki.

Entah ini efek kedewasaan atau karna sering menjadi saksi kehidupan oranglain yang menemukan jodohnya yang membuat diri ini makin sadar bahwa menikah dan mencari pendamping hidup tak melulu tentang kemapanan materi atau seberapa lama nya kalian menjalin hubungan kekasih.

Iya memang, nggak munafik bahwa materi penting, tapi bukan berarti itu segalanya.

Dan nggak sedikit dari kisah temen (atau mungkin kisahku sendiri) yang uda pacaran bertahun-tahun, upload foto berdua di segala sosmed, kemana-mana di anter jemput, saling mengenal kedua orangtua tapi nyatanya kandas juga.

Oke, mungkin faktor apes bisa jadi pengaruh kenapa bisa sampek kandas.

Tapi banyak juga kisah membahagiakan bagaimana sederhana nya mereka bertemu dengan jodoh.

Mereka dipertemukan saat mereka sudah sama-sama siap, sama-sama lelah mencari, sama-sama yakin bahwa dia adalah orang yang tepat untuk menua bersama. Tanpa embel-embel kisah alay ala FTV. Hmm Allah emang sutradara super keren kan?

***

Sekarang, ada seorang pria biasa disisiku yang tidak pernah menawarkan kemewahan atau janji untuk bisa membelikan isi dunia untukku.

Dia pun bukan tipe pria romantis yang akan memperlakukanku bagaikan putri atau menuliskan puisi bagai pujangga. Kadang dia ga peka, kurang inisitaif, nyebelin. 

Bukan, dia hanyalah seorang pria biasa.

Pria biasa dengan segala kekurangannya dan hanya bisa berjanji akan membahagiakanku mati-matian dengan cara nya yang dewasa.

Terdengar ajaib memang bagaimana dia bisa membuatku sangat merasa nyaman meskipun perlauannya sederhana padaku. 

Dia memang tak dapat kutemui setiap saat, tak pernah memberikan pelukan hangatnya saat aq bimbang. Tapi, pendampingannya sanggup membuatku merasa tak sendiri. Pria itu mengerti ketika sifat moody ku kambuh menjelang PMS, begitu sabar dengerin rengekanku cerita tentang hal buruk yang aku alami saat itu, membuatku tertawa meski hanya lewat chating. 

Pesan singkatnya di bbm bisa banget jadi penyemangat. Kadang sering senyum sendiri kalo' dia sudah mulai keluarin gombalan alay nya itu yang kadang norak tapi sukses bikin aku tersipu malu :)

Iya, pria itu lah yang ingin aku dampingi. Pria biasa yang bersamanya aku merasa nyaman, bersamanya aku yakin bahwa hidup berumah tangga yang sulit itu dapat aku lalui.

Kriteria mapan dan memiliki rumah serta mobil yang menjadi standartku dulu kini menguap.

Aku hanya ingin bersamanya, tumbuh dewasa dan menua bersamanya, berjuang bersamanya mengumpulkan materi bersama untuk membeli rumah serta mobil impian kami bersama. Aku rasa itu lebih mengharukan ketimbang aku berada disisi pria yang telah memiliki segalanya tanpa ada perasaan saling memperjuangkan satu sama lain.

Kini, hanya doa lah penguat kami. Niat baik yang di ucapkannya adalah hal yang diam-diam aku mohonkan juga kepada Tuhan. Meskipun nggak ada jaminan jika bersamanya aku akan bahagia selama-lama nya, tapi setidaknya saat badai masalah menerjang, dia nggak akan dengan mudah melepaskanku, insyaallah :)

Karena jatuh cinta itu mudah, tapi bertahan dengan pilihan yang sudah kita pilihlah tantangan terberatnya.

Menjauhkan rasa bosan yang mungkin melanda dan selalu menemukan cara untuk selalu kembali jatuh cinta kepada orang yang sama adalah komitmen untuk tetap survive

 

 

  • view 264