Himbauan untuk Perancang Busana

Dewi Syafrina
Karya Dewi Syafrina Kategori Budaya
dipublikasikan 07 April 2018
Himbauan untuk Perancang Busana

Kembali terjadi, di acara peragaan busana, seorang model mengenakan pakaian yang “sangat cantik” dan kepalanya dihiasi “suntiang”. Apakah itu pakaian adat Minangkabau? Jika mengatakan “iya”, adat Minangkabau tidak mengenal pakaian ketat dan terbuka yang dipasangkan dengan “suntiang” seperti itu. Jika mengatakan “tidak”, bagaimana bisa? Sementara “suntiang” merupakan bagian dari pakaian khas perempuan Minangkabau. Tidak sedikit pun muncul kebanggaan melihat seorang model, “anak daro”, atau perempuan lainnya yang mengenakan kombinasi pakaian seperti itu. Jika tujuannya ingin memperkenalkan kebudayaan daerah (pada acara peragaan busana), lebih baik pakaian adat Minangkabau tidak perlu diperkenalkan—jika caranya seperti itu.
 
Pakaian Minangkabau tidak hanya dilihat dari hiasan kepalanya atau tidak hanya dilihat dari bajunya. Nilai ke-minangkabau-an dilihat dari keseluruhan unit pakaian yang satu sama lain memiliki aturan pemakaian. Suntiang sebagai hiasan kepala khas perempuan Minangkabau tidak sepatutnya dikombinasikan dengan pakaian ketat dan terbuka. Suntiang seharusnya dipasangkan dengan “baju kuruang” yang mencerminkan falsafah hidup orang Minangkabau, adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah.
 
Mirisnya, di masa sekarang, dengan dalih membawa misi kemodernan, “suntiang” digunakan sekehendak hati; dikombinasikan dengan pakaian yang tidak sepatutnya dipasangkan. Agaknya, perlu himbauan tegas kepada masyarakat, orang tua, petinggi adat, bahkan publik figur yang sangat berpengaruh di mata masyarakat dan tentunya kepada perancang busana; bahwa atas tujuan dan keperluan apapun—upacara pernikahan adat Minangkabau, peragaan busana, ajang kompetisi pemilihan duta, putri, uda-uni dan lain-lainnya—tetaplah menggunakan pakaian adat Minangkabau dengan semestinya. Oleh sebab itu, perlu adanya aturan tegas beserta sanksi bagi yang melanggar agar keaslian pakaian adat Minangkabau tidak seenaknya dikombinasikan dengan pakaian yang tidak semestinya dipasangkan.
 
Untuk perancang busana yang ingin membawa kekhasan suatu daerah, pelajari dulu aturan di balik pakaian tersebut. Atau barangkali perlu himbauan bahwa baju adat, bagaimana pun, tidak boleh di"preteli" dalam perancangan busana. Masih banyak yang bisa digunakan untuk merancang busana yang inovatif, misalnya kreasi penggunaan songket, kain tenun, batik dan lain-lain. Namun, jika mencomot satu bagian dari pakaian adat, misalnya "suntiang", lalu dipasangkan pada pakaian yang lain, itu sungguh tidak bisa diterima.
 
Saat pakaian dirancang, diperagakan, lalu akhirnya dipakai oleh artis-artis (ataupun bukan artis; atau orang yang merasa artis) yang ingin menikah dengan adat Minangkabau, tetapi karena keartisannya dia ingin menggunakan pakaian yang katanya modern, saat itu pula rusaklah sudah pakaian adat Minangkabau.
 
Harapannya tentu saja, semoga perancang busana yang asli Minangkabau, tidak ikut-ikutan melakukan hal ini. Saya masih bersyukur saat mengetik nama "Anne Avantie" di google dan mendapati bahwa ia bukan orang Minangkabau.***
 
(Tulisan ini juga saya unggah di akun gurusiana.id

  • view 73