Misi Kecil Penyelamatan Bumi (Bagian II): “Nggak Usah Pakai Kresek, Mas.”

Dewi Syafrina
Karya Dewi Syafrina Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 April 2016
Misi Kecil Penyelamatan Bumi (Bagian II):  “Nggak Usah Pakai Kresek, Mas.”

 

Sepuluh hari semenjak peraturan baru tentang penyelamatan bumi kami susun, ada hal-hal lucu yang kami hadapi dari orang-orang yang menghadapi keanehan kami. Demi tidak ingin dikenai denda Rp 5.000,00—yang dengan uang segitu kami bisa beli ayam goreng—kami selalu menolak kresek saat berbelanja. Solusinya masing-masing kami sudah menyiapkan tas belanja yang bisa dibawa ke mana saja.

Pertama kali aksi ini kami terapkan di sekitar kosan ketika membeli bihun goreng dan capcay. Kami sungguh penasaran dengan reaksi orang yang menghadapi keanehan kami ini. Tidak seperti Mbak-mbak kasir di Indomaret yang selalu bertanya, “Pakai kresek, Mbak?”, Mas-mas penjual bihun dengan murah hati akan memberikan kresek kepada pembeli tanpa bertanya terlebih dahulu.

Untuk mengantisipasi pemberian kresek itu, Aldresti sudah bersiap-siap dengan kalimat anti kreseknya. Mata kami sama-sama memperhatikan gerak-gerak si mas saat membungkus bihun. Dan ketika bihun selesai dibungkus, tangan si Mas bergerak menuju kresek.

“Nggak usah pakai kresek, Mas.”. Si Mas menatap Aldresti aneh. “Masuk sini aja,” sambung Aldresti sambil menyodorkan tas belanjanya. Si Mas senyum-senyum masih dengan wajah keheranan. Kami kira kalimat kami tadi akan membuat si Mas ingat bahwa kami anti kresek. Ternyata tidak. Untuk pesanan kedua—capcay—tangan si Mas refleks menuju kresek lagi.

“Mas, nggak usah pakai kresek,” ucap Aldresti sekali lagi. Si Mas menurut dan kembali senyum-senyum.

Yang membuat sungkan adalah ketika si Mas penjual bihun sudah terlanjur memasukkan  bungkusan bihun ke dalam kresek. Saat itu—beberapa hari setelah kejadian yang pertama—aku pergi membeli bihun sendiri. Pembeli yang ramai membuat aku tidak mendapatkan kursi untuk menunggu. Ini membuat aku tidak bisa “mengintai” si Mas dan mengantisipasi penggunaan kresek sebab aku berdiri di depan etalase, bukan di samping seperti sebelumnya. Aku tidak leluasa melihat gerak-gerik si Mas. Tanpa kusanga pesananku sudah selesai.

Melihat bungkusan bihunku sudah di dalam kresek, aku langsung bilang, “Nggak usah pakai kresek, Mas.” Sejujurnya aku sungkan, seperti telah menolak pemberian orang. Padahal “Cuma” kresek.

“Nggak apa-apa, Mba.” Si Mas menolak penolakan kresekku.

“Nggak, nggak usah. Masuk sini saja.” Aku membukakan tas belanjaku. Kemudian aku berlalu.

Setelah ini mungkin aku akan dicap sebagai pembeli yang aneh. :v

Di swalayan kami juga harus menghadapi wajah penuh tanya Mba di kasir. Swalayan yang bukan Indomaret akan memberikan kresek cuma-cuma. Ketika beberapa makanan kecil kami bawa ke kasir, Mba kasir sudah bersiap-siap dengan kresek. Lagi-lagi kalimat itu keluar, “Nggak usah pakai kresek, Mba. Di sini saja.” Aku menunjukkan tas belanja kami.

 

Belum Terbiasa

Hari-hari selanjutnya kami melakukan hal yang sama. Namun sepuluh hari ternyata belum cukup untuk membuat kami terbiasa.

Keesokan harinya, saat panas terik, aku tergerak membeli buah. Apalagi melihat si Bapak penjual buah yang sepertinya sudah lelah menunggu pembeli. Aku mendekati gerobaknya.

Ting!

Aku baru ingat. Bagaimana cara membawa buah-buah ini tanpa kresek?

Akhirnya aku pasrah. Tidak mungkin aku batal membelinya sementara si Bapak sudah menyodorkan kresek untuk buah-buah yang ingin kuambil. Aku pulang dan merasa telah gagal menyelamatkan bumi. #lebaaay

Solusinya seperti ini: ketika ingin membeli buah seharusnya aku pulang dulu. Walaupun aku selalu membawa tas belanja, tetapi tetap tidak mungkin memasukkan buah yang sudah dipotong ke dalamnya. Untuk itu aku harus membawa tempat khusus seperti tupperware. Dengan membawa tupperware aku akan terhindar dari penggunaan kresek.

Maka hari itu, aku harus merelakan Rp 5000,00-ku dan memasukkannya ke celengan Aldresti. Mengetahui hal itu Aldresti tertawa bahagia. -_-

Ketidakterbiasaan kami berlanjut pada hari-hari lain. Beberapa kali kami keluar kos berniat membeli sate atau cemilan lain, tetapi lupa membawa tas belanja. Itu menyebalkan sekali karena harus sama-sama membayar denda. Pernah juga suatu kali kami ke swalayan dan kembali lupa membawa tas belanja sehingga kami memutuskan membeli satu barang saja—aku membeli sampo, Aldresti membeli minuman. Dengan begitu, kami masih dapat menghindari penggunaan kresek karena belanjaan kami masih bisa kami bawa tanpa kresek. Namun tetap saja aneh, aku menggenggam sebotol sampo hingga sampai di kos. -_-

“Sepertinya kita harus menggantungkan tas belanja di dekat pintu agar tidak lupa lagi,” ujarku sambil menatap sampo di genggamanku.

 

Malang, 14 April 2016

 

 

 

  • view 277