Misi Kecil Penyelamatan Bumi (Bagian 1): Peraturan Baru

Dewi Syafrina
Karya Dewi Syafrina Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 April 2016
Misi Kecil Penyelamatan Bumi (Bagian 1): Peraturan Baru

?

Kemarin malam pengerjaan tugasku terusik dengan kegiatan kecil teman sekamarku (perkenalkan namanya Aldresti) yang membawa secarik kertas dan pensil warna seraya berkata, ?Aku ingin membuat catatan pengingat agar selalu membawa kantong belanja ke mana pun aku pergi.? Aku sedang berusaha keras merevisi tugas Psikolinguistik Lanjut menoleh, ?Diet kantong plastik?? Aldresti mengangguk.

?Kenapa kita tidak tulis peraturan demi penyelamatan bumi secara lengkap. Aku punya sesuatu.? Aku kemudian berdiri dan mencari brosur dari WWF yang sudah lima bulan yang lalu aku dapatkan, tetapi hanya aku simpan. Terdapat tujuh kebiasaan kecil yang dapat menyelamatkan bumi dari kerusakan. Aku memperlihatkan brosur itu.

?Wah, bagus juga!? Habislah malam itu Aldresti menulis ulang peraturan yang ada di dalam brosur menjadi lebih ringkas di secarik kertas. Kami juga menetapkan hukuman denda bagi yang melanggar. Benar-benar semua misi penyelamatan bumi dari dua orang yang belum dikenal dunia.

***

Jadi kami sepakat akan menjalankan tujuh langkah penyelamatan bumi ini. Empat di antaranya adalah langkah yang jika dilanggar akan mendapatkan hukuman: denda. Untuk menjalankan peraturan ini, sudah tersedia dua buah celengan yang diberi nama kami masing-masing. Uniknya, jika melanggar empat peraturan yang telah kami tetapkan bukan berarti kami memasukkan uang denda ke celengan? masing-masing, tetapi dimasukkan ke celengan teman. Misalnya, jika aku melanggar, aku harus memasukkan uang dendaku ke celengan Aldresti yang itu berarti aku memberi uang kepada Aldresti secara cuma-Cuma. Sungguh aku tidak rela~ (Maka, jangan melanggar! :v)

Terdapat empat jenis pelanggaran yang kami tetapkan yaitu:

  1. Rp 1.000,00 untuk penggunaan tisu lebih dari lima helai per hari

Kertas dan tisu berbahan dasar bubur (pulp) yang diperoleh dari pohon. Penebangan pohon yang tidak terencana dan berlebihan dapat memicu pemanasan global dan mengancam kelestarian kekayaan hayati. Maka aksi yang perlu dilakukan adalah mempertimbangkan keefesienan dalam mencetak, gunakan surat elektronik, dan kurangi pemakaian tisu. [Himbauan WWF]

Aku punya kebiasaan buruk ?basah dikit-tisu-basah dikit-tisu?. Oleh sebab itu, aku dan Aldresti menetapkan denda Rp 1.000,00 untuk penggunaan tisu lebih dari lima helai dalam sehari. Kami memilih Rp 1.000,00 karena bagaimanapun kami tidak bisa sama sekali tidak menggunakan tisu. Paling tidak dalam sehari kami akan menggunakan lima helai tisu, apalagi Malang yang bersuhu dingin dan penghujan memicu flu berkepanjangan (terutama aku). Jadi kami tidak bisa menghentikan penggunaan tisu, tetapi masih bisa mengurangi pemakaiannya.

?

  1. Rp 5.000,00 untuk penggunaan kemasan plastik (air minum mineral)

Setiap tahun milyaran botol plastik kemasan air minum diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Padahal, untuk membuat 1 botol plastik ukuran 1 liter diperlukan 3 liter air, minyak bumi, serta energi listrik yang tidak sedikit. Sementara alam membutuhkan ratusan tahun untuk mengurai plastik. Maka aksi yang harus dilakukan adalah mulai membawa botol minum sendiri dan hindari penggunaan produk sekali pakai, seperti air minum kemasan. [Himbauan WWF]

Kami menetapkan Rp 5.000,00 untuk pelanggaran ini, walaupun sebenarnya Rp 5.000,00 belum apa-apa dibandingkan dengan lamanya alam mengurai plastik. Namun peraturan ini masih kami batasi untuk kemasan air mineral, bukan air berasa, seperti teh, jus, dan lain-lain.

?

  1. Rp 5.000,00 untuk penggunaan kantong plastik

Setiap tahun diproduksi 1 triliun kantong plastik untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia (sumber: reuseit.com). Padahal, alam membutuhkan waktu yang lama untuk mengurai 1 kantong plastik saja. Maka aksi yang perlu dilakukan adalah menolak kantong plastik dari toko saat berbelanja dan bawa sendiri tas belanja pakai ulang. [Himbauan WWF]

Walaupun pemerintah menetapkan Rp 200,00 untuk kantong berbayar, tampaknya tidak mengurangi keinginan masyarakat untuk diet kantong plastik. Kesadaran ini harus ditanamkan dalam diri masing-masing bahwa ini bukan perkara kantong plastik berbayar atau tidak, tetapi ada misi penyelamatan bumi di sini. Sebab itu, aku dan Aldresti menetapkan denda Rp 5.000,00 jika kami menerima kantong plastik dari siapapun.

?

  1. Rp 5.000,00 untuk pemborosan listrik

Listrik dalam jumlah Watt kecil akan terus mengalir pada charger dan peralatan elektronik lain yang tersambung ke stop kontak, mesti tidak digunakan. Maka aksi yang perlu dilakukan adalah gunakan lampu hemat energi, membiasakan mematikan lampu kalau sudah tidak digunakan, dan mencabut charger serta perangkat elektronik lainnya dari sumber listrik setelah digunakan. [Himbauan WWF]

Untuk peraturan ini memang perlu dijatuhi denda sebab kami (terutama Aldresti) acapkali tidak mencabut charger setelah pengisian batrai ponsel, dengan alasan jika ingin mengisi batrai lagi tinggal dipasang?praktis. Jadi, yang tidur paling terakhir atau yang paling akhir meninggalkan kamar berkewajiban mencabut stop kontak dan mematikan lampu kamar.

Masih ada tiga peraturan lagi yang tidak kami ikut sertakan dalam sistem denda. Pertama, hemat air. Barangkali kita boros penggunaan air bersih, tidak segera memperbaiki keran yang bocor, atau tidak menutup rapat kran air usai digunakan. WWF menyebutkan bahwa walaupun luasan terbesar bumi adalah air (97% lautan dan 3% sumber airr tawar), tetapi tak semua air tawar dapat dimanfaatkan manusia karena 2/3-nya es dan gletser. Maka, aksi yang perlu dilakukan adalah:

  1. Jangan biarkan air bersih terbuang percuma
  2. Perbaiki keran yang bocor dan biasakan menutup keran air rapat usai digunakan
  3. Rawatlah pohon dan jangan cemari sumber air bersih

Kedua, jalan kaki. Kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi menyumbang emisi gas rumah kaca yang berbahaya. Di Jakarta saja sektor transportasi menyumbang 47% dari total gas rumah kaca di Indonesia, termasuk kendaraan pribadi (sumber: DNPI dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI). Maka, aksi yang perlu dilakukan adalah:

  1. Beralih menggunakan transportasi umum
  2. Berjalan atau bersepeda jika bepergian dalam jarak dekat.

Ketiga, mengkonsumsi barang dalam negeri. Produk yang didatangkan dari luar negeri menyumbang emisi yang dihasilkan dari aktivitas pengriiman dan pengangkutan barang impor. Maka, aksi yang perlu dilakukan adalah memilih produk-produk lokal yang pastinya lebih hemat dan ramah lingkungan.

Ketiga peraturan ini tidak kami jatuhi denda sebab kami belum bisa menghindari ketiga hal ini sepenuhnya. Lagipula, kami tidak dapat mengukur seseorang dikatakan hemat atau boros air, begitu juga untuk penggunaan kendaraan dan pengkonsumsian barang impor.

***

Tuhan telah menyediakan bumi sebagai hunian yang nyaman. Sudah seharusnya kita menjaga rumah kita sendiri. Kami memang bukan siapa-siapa. Barangkali hanya dua orang mahasiswa yang belum dikenal dunia. Namun kebiasaan kecil ini barangkali berarti bagi bumi yang entah bertahan sampai kapan. Juga sebagai rasa syukur kepada Tuhan sebab telah Ia hidupi kita di atas tanah ini.? Dan lagi, belum terlambat untuk menyelamatkan bumi.

?

Malang, 5 April 2016

?

  • view 201