Senja

Dewi Aurora
Karya Dewi Aurora Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Agustus 2016
Senja

Sore itu, senja tampak kemuning. Masih dengan buku dan kacamata yang tak lepas dari tempatnya. Aku menunggu, ya,,, aku sedang menunggu. Tanpa kepastian, entah akan datang ataukah tidak. Sms ku tak kau balas, kupikir, mungkin saja kau kelelahan karena hari ini harimu menyibukkan diri dirumah. Karena aku tau pekerjaanmu menuntut kau lebih banyak bersamanya sejak senin hingga sabtu.

Aku menyibukkan diri dengan membaca, sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling, nampak seorang ibu asyik berpose bersama sang buah hati yang dikelilingi tawa renyah dari anak-anak di sekelilingnya, sedangkan sang ayah sibuk mencari sudut mana yang paling baik untuk menghasilkan gambar yang paling bagus. Nampak pula beberapa lelaki yang sedang sibuk membersihkan kapal, mungkin saja mereka ABK kapal tersebut, pikirku; adapula beberapa anak muda yang berlalu lalang sambil bercengkrama, entah apa yang mereka perbincangkan. Aku tersenyum sambil kembali menghela napas panjang, memberi sedikit kelonggaran entah pada apa.

Tak berapa lama, ponselku berdering,.,, “Masih disana? Maaf, aku ketiduran” sms mu.

Dengan cepat kubalas,, “Tak apa, ia masih”.,,,,

“Boleh aku mandi dulu?” sms mu yang kedua.

Dan kubalas, “ia boleh”.

Kusimpan kembali ponselku didalam tas hitam kecil yang kubawa,,, langit,., ya, kini langit yang  menjadi objek penderita, mencari ketenangan dibalik pesona keindahannya. Ya, menatap langit biasanya selalu membuatku lebih tenang. Tapi, ah, langit kali ini seakan menggodaku menelusuri jejak yang masih tertinggal beberapa tahun yang lalu. Tempat ini, tempat yang dulu pernah kita singgahi, entahlah, topik apa yang kita perbincangkan dulu, aku lupa, yang ku tau, kita pernah berbagi canda dan impian ditempat ini.

………………………………….

“Hai……….”,. sapamu

“Hmm,., apa kabar? Jawabku tanpa menoleh.

“Baik, Alhamdulillah”,.,

Kekikukan setelah sekian lama tak bertemu. Percakapan yang mulai tak karuan. Ah, Apa yang kita perbincangkan?

18.00 wita….

19.00 wita ….

20.00 wita….

“aku hanya butuh waktumu 10 menit untuk bercerita, tapi sudah selama ini”, kataku sambil tersenyum satelah melihat arloji merah yang menempel ditangan kiriku.

“akupun berjanji akan pulang lebih awal pada ibu, tapi,,, aku masih disini.”, kamupun menimpali dengan senyuman.

Kita bercerita, tertawa, mengingat kembali semua yang terlewati. Kamu masih sama, masih dengan leluconmu, masih dengan sikapmu yang dulu, dan aku pun masih sama, dengan label  “keras kepala” katamu.

Banyak hal yang masing-masing ingin kita sampaikan. Tapi, entahlah. Hanya beberapa hal saja yang kita ceritakan.

Malam pun semakin larut, waktu menuntut kita untuk saling meninggalkan lagi.

Esok aku akan kembali ketempatku, kembali meninggalkan kenangan denganmu. Bedanya, kali ini aku pergi untuk melepaskan,..

kali ini aku pergi untuk meninggalkan semuanya dikota ini,

kali ini aku pergi untuk menata masa depan tanpa namamu,

kali ini aku lebih merasa bahagia, karena kali ini ada wanita baik lainnya yang menjagamu.

Sampaikan salam dan pesanku untuknya…

“Jagalah lelaki ini, tak perlu kau cemburuiku, karena aku berada di masa lalu dan kau berada di masa depannya. Tak perlu ragu, kau sedang berada ditangan yang tepat”

……………………………………………………..

Aku pamit.

Kali ini dengan senyuman ^_^

…………………………………………………….

Elegi dari sebuah perpisahan adalah awal pertemuan dengan seseorang yang baru.

  • view 583