Cinta Sepanjang Masa

Devi Murti
Karya Devi Murti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 September 2016
Cinta Sepanjang Masa

CINTA SEPANJANG MASA

Oleh: Devi Murti Prakastiwi

Adalah nenek dari ibukku, sosok yang sangat aku kagumi karena segala hal yang ada dalam hidupnya. Kebersyukurannya dan kesetiaannya mengajarkanku bahwa hidup itu tentang perjuangan dan bersyukur nrimo ing pandum. Pun dengan kesetiaan mengantarkannya kepada cinta sejati yang walaupun maut memisahkan cinta itu tetap tidak hilang.

Si-Mbok, begitu aku akrab memanggilnya. Umurnya sudah kepala tujuh dan sehari-hari simbok tinggal dengan keponakanku yang baru masuk SMP. Sehari-hari beliau ke sawah untuk tandur maupun cari pakan ternak. Hidupnya sangat sederhana, bersahaja, tidak banyak menuntut walaupun tuntutan hidupnya begitu banyak.

“Simbok mana, Da?” tanyaku setiap aku pulang ke rumah simbok untuk menengoknya. Karena rindu dengannya sering tak terbendung.

Neng ngalas, mbak!”

“Oh, ke ladang!”

Seringnya memang begitu, ketika aku ke rumah simbok pasti sedang pergi entah ke ladang, ke rumah tetangga, pasar, atau ke rumah saudara perempuan se-suami. Tapi aku tetap menikmati kampung simbok, keramahtamahan tetangganya, hijaunya pemandangan di hutan dan pepohonan dekat rumah, yang jelas sejuk dan selalu meninggalkan rindu untuk datang kembali ke rumah simbok.

Memori yang paling melekat adalah ketika setiap pagi ataupun sore kalau simbok sedang menanak nasi, pasti aku ganggu untuk membuat air tajin. Air tajin itu air yang dipakai untuk menanak nasi yang kemudian ketika mendidih diambil sedikit-sedikit dan dikasih gula. Itu favoritku sekali, kata simbok persis seperti yang dulu dilakukan almarhum kakek yang hobinya minum air tajin. Memang tak seenak susu formula, tapi menikmatinya di rumah simbok itu lebih enak dari apapun.

“Aku mau minta thiwul ke tempat Mbah.”

Yo gek sono, suruh anter Pida!”

Hal uniknya, aku punya dua nenek dari ibukku walaupun bukan nenek kandung tapi benar-benar sudah akrab dan aku anggap nenek kandungku sendiri. Biasa aku akrab memanggilnya Simbah. Simbah ini merupakan istri pertama dari kakekku. Jaman dulu mungkin biasa seorang lelaki beristri lebih dari satu, entah dulu menyebutnya poligami atau apa. Tapi aku salut simbok dan simbah selalu akur, malah benar-benar jadi saudara baik. Sama anaknya simbah pun aku bisa akrab seperti pakdhe sendiri. Sebenarnya aku paham soal ini juga setelah aku dewasa, dulu mengertinya ya simbah itu kakaknya simbok.

Mereka hidup bersahaja, penuh syukur, jarang mengeluh walaupun ujian hidup datang, dan yang pasti mereka selalu akur walaupun dulunya simbah adalah mantan istri dari kakek. Pada akhirnya mereka saling memaafkan dan menerima satu sama lain. Begitu pun yang diajarkan kepada anak cucunya untuk saling menyayangi dan menjadikannya saudara.

Simbok sering mengajarkanku tentang perjuangan hidup, pengorbanan, keikhlasan, ketulusan hati, dan kesetiaan. Wajahnya menyiratkan betapa keras perjuangan hidup yang selama ini simbok jalani, tapi simbok tidak pernah putus asa. Senyum selalu terkembang setiap saat, apalagi ketika bertemu cucu-cucunya. Meskipun sudah tua, toh simbok masih memaksakan diri untuk ngurus sawah, ternak, tak ada putus asanya.

“Simbok istirahat sih, ikut bapak sama ibuk aja di rumah.”

“Lha nanti yang ngurus sawah sama ternak sopo?”

Aku tidak bisa berbuat banyak, mungkin simbok memang ingin menghabiskan masa tua di tanah kelahirannya. Pengorbanan dan keikhlasan untuk mengurus keluarganya sebagai single parents  semenjak ibu kecil karena ketulusan dan kesetiaannya dalam mencintai mbah kakung. Kakek sudah lama meninggal sejak ibuk masih kelas 2 SD, dan waktu itu simbok mengurus ibuk, bulek, ditambah keponakannya sendiri. Banting tulang sendiri mencari nafkah, sedang ibuk dan bulek bergantian mengurus keponakannya, yakni anak dari adiknya simbok.Aku pernah menanyakan perihal masa muda simbok dulu, tentang pernikahannya, tentang kakek.

“Kenapa gak nikah lagi to mbok waktu muda? Emang gak ada yang ngelamar setelah simbok jadi janda?”

“Lhoh, jangan salah! Simbok dulu banyak yang ngantri mau ngelamar!”

 “Lha terus kenapa gak nikah lagi? Kan enak kalau dulu simbok nikah lagi, gak perlu hidup susah. Ada yang bantu nyariin nafkah.”

Tresnoku wes tak kubur bareng kekubure simbahmu!

Artinya beliau sudah menutup hati dan tetap akan menjaga kesetiaan cintanya buat mbah kakung sampai akhir hayat dan sampai bertemu di surga-Nya nanti. Alasan yang kuat dan tulus bagi simbok karena ingin sehidup sesurga dengan simbah kakung dan memilih untuk hidup sendiri menjadi janda sampai punya cucu-cucu sebesar sekarang. Dan selalu ingat apa yang sering disampaikan simbok, nasehat dan wejangannya yang selalu menghadirkan haru.

Sing penting ikhlas!”

  • view 188