Makna Pengabdian Seorang Anak

Devi Adia
Karya Devi Adia Kategori Project
dipublikasikan 06 Agustus 2017
Teman Wisuda

Teman Wisuda


hadiah untuk kamu, teman kamu, kaka tingkat kamu setelah dinyatakan lulus dari perguruan tinggi

Kategori Spiritual

98 Hak Cipta Terlindungi
Makna Pengabdian Seorang Anak

Nak, Sampai kapanpun kau tak bisa membalas kebaikan orang tuamu.

Membaca kutipan diatas memang terasa pas tertohok ke hati. Bagaimana tidak memang fakta kebaikan orang tua memang tak pernah bebalas dari segi materi. Namun, bukan berarti kita tidak bersungguh- sungguh untuk mengabdi bukan ?

Perkenalkan, saya adalah mahasiswi tingkat akhir yang sedang menikmati libur panjang setelah kemarin berjuang di klinik. Mungkin ini adalah liburan terlama dari sebelumnya. Saya yang kebetulan tidak mudik memiliki perasaan khawatir jika liburan yang lama ini tidak diisi dengan kegiatan yang positif. Teman-teman dari fakultas lain sedang menikmati masa KKN, KKL, PPKT atau semacamnya yang saya rasa semua waktunya digunakan untuk hal yang bermanfaat. Untuk itu setelah ada rasa resah, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan sederhana yang saya bertekad disetiap perjalanannya mendapat banyak pelajaran, hikmah berharga yang belum saya temui di dunia perkuliahan. Atau ini bisa disebut sekaligus mencari inspirasi bakal skripsi saya. Apapun itu, saya tidak ingin memberatkan diri saya. Perjalanan ini belum sampai ke luar negeri atau luar pulau, namun yang saya sungguhkan adalah menemui hikmah. Bukankah ada pepatah bilang bahwa hikmah adalah harta orang mukmin yang hilang?

Perjalanan pertama ini sudah direncanakan untuk menjenguk ayah saudari saya yang dulu berjuang di kota terbaik, Depok. Dia adalah salah satu inspirasi saya dalam menebarkan kebaikan. Nanti saya akan jelaskan di bawah J

Qodarullah perjalanan ini di reschedule hari karena kebetulan saya masih di luar kota dan cuaca yang di harapkan petani Depok belakangan ini, musim hujan.

Akhirnya dengan izin Allah perjalanan ini dimulai. Walau kami hanya ber3, saya dan 2 saudari seperjuangan juga. Sehari sebelumnya sempat hopeless karena banyak yang respon dan merasa bakalan wacana saja. Namun ternyata niat kita menjenguk sudah diijabah Allah dan keadaan saat itu mendukung.

Sampai dirumah saudari kami itu, disambut hangat dan di perlihatkan kondisi sebenarnya. Ayahnya yang terbaring lemah, suara parau dan bahkan apa yang dikatakan sudah tidak jelas. Seketika saya iba dan segera ku tepis rasa simpatis namun harus berganti menjadi rasa empati. Tidak boleh ada kesedihan terbawa perasaan yang saya munculkan, nanti keluarga saudari saya tidak semangat untuk menikmati hidupnya. Saat itu beliau sedang disuapkan dengan menu makanan cair alisan makanan blender sangat cair dan lembut.

Akhirnya kami banyak mengobrol mengenai penyakit yang dialami, berbagai usaha yang telah dilakukan, hingga pada satu titik yang saya ambil hikmah adalah pengabdian anak kepada orang tuanya yang tinggal semata wayang.

Saudari saya ini adalah perempuan tegar, tangguh, kuat dan sangat menghangatkan jiwanya. Respect pada siapapun dan yang terpenting dia adalah calon guru masa depan. Dengan keadaanya yang saat ini sedang menikmati masa masa KKN mengabdi di salah satu sekolah dibilangan Jakarta, tak menjadikan dia lemah atau mengeluh. Dia sosok yang pandai menyembunyikan perasaan sedihnya kepada orang lain. Hingga berita ayahnya sakit ini bukan infomasi yang didapatkan langsug dari dia.

Pengabdian anak memang tidak akan bisa membalas kebaikan orang tua. Sebab ketika kita mengabdi mungkin pada saat masa masa menunggu masa ajal atau kematian orang tua kita . Beda halnya dengan pengabdian orang tua  yang dilakukan untuk menunggu masa masa tumbuh kembang kita sebagai anak.

Kadang rasa jenuh memang mungkin terjadi bagi anak yang menemani orang tua sakit. Tidak sedikit yang berputus asa atau mungkin bilang jujur ke orang tua untuk mengungkapan rasa capek mengasuh untuk orang tua. Namun teman percayalah, keberkahan datang dari mana saja tapi bisa salah satunya adalah balasan atas ikhlasnya kita kepada orang tua.

Pengabdian anak memang tak akan bisa membalas semua kebaikan orangtua, namun maukah kita bersungguh-sunggu mengabdi ?

Banyak sekali tugas dan tanggung jawab serta kewajiban kita kepada orang tua. Kita tak perlu menuntut hak-hak secara keras kepada orangtua, karena tanpa menuntut pun orang tua lebih tau akan hak hak kita yang harus mereka tunaikan. Maka penting bahwa jita harus lebih memahami cepat juga mengenai tanggung jawab dan kewajiban.

Bagi kita yang masih bersekolah, kuliah atau menuntut ilmu, alangkah baiknya jika kita bisa membanggakan orangtua dengan versi terbaik kita. Tidak selalu dengan capaian prestasi akademik, namun dari non akademikpun bisa di toreh. Sehingga pengabdian kita adalah bisa memperkuatkan minset bahwa murid harus lebih pintar daripada guru. Fokus menjadi hal utama dalam belajar, planning menjadi bekal dimasa depan, softskill dan hardskill terasah sebagai nilai bonus dalam mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, serta akhirnya  membuka pikiran menjadi syarat untuk bisa menyerap berbagai informasi dan pengetahuan untuk kemudian di olah, filter.

Sebenarnya orang tua yang baik tidak akan banyak menutut dalam perjalanan tumbuh kembang anaknya. Mereka hanya khawatir jika yang dilakukan sia-sia dan akan ada hal buruk menimpa. Orang tua pada dasarnya hanya perlu diyakinkan dengan mimpi-mimpi kita. Hingga akhirnya pendidikan, jabatan atau apapun tidak akan pernah membuat kita sombong dan berpaling dari orang tua.

Maka pada perjalanan spiritual Part 1 ini mengajarkan untuk berusaha maksimal dalam mengabdi pada orang tua dalam setiap kondisi, karena sampai kapanpun kita memang tidak bisa membalas jasa mereka dan dengan berusaha maksimal adalah salah satu usaha bahwa kita bersungguh sungguh dalam mengabdi.

 

Depok, 03 Agustus 2017

  • view 49