Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 20 Maret 2018   14:45 WIB
Bidadari tak bersayap

Dedicated for Odamun in the world

Aku masih duduk disini sembari meringkik menahan sakit. Sengaja aku memilih tempat ini karena ruangannya tak begitu dingin seperti di depan ruangan dokter. Dari kejauhan tampak seorang wanita muda datang menghampiri ku.

"Mba tiara.." ujarnya sambil tersenyum.

Ku tolehkan pandangan pada si empunya suara yang cukup tak asing ku dengar.

"Fika.." jawabku sembari bergeser dan mempersilahkan nya duduk disamping ku.

Wanita sederhana berperawakan tinggi besar ini sudah beberapa bulan ini ku kenal. Disini, seperti saat ini. Ketika sedang mengantri masuk di ruang tunggu.

"Apa kabar mba?"ujarnya kembali dengan wajah ramah. 

"Biasa, lagi kumatnya"ujarku sedikit terbata.

Aahhh, nyeri ini mengalahkan sadarku. Tapi setiap kali kulihat wajah itu, aku hanya bisa terdiam malu. Malu padanya yang mampu menghadapi semua ini. Melewati masa-masa sulit nya tanpa keluh dan mewarnai hari siapapun yang berada disampingnya dengan senyum.

Aku tau, dibalik wajah ramah itu terselip perasaan sedih yang dalam. Dibalik tubuh yang besar itu terdapat sakit yang teramat sangat yang cukup membahayakan nyawa nya. Bahkan di usia nya yang tergolong masih sangat muda, seolah tak menyurutkan kekuatannya untuk bangkit. Melawan segala rasa yang dia tanggung seorang diri.

Berkali-kali dia harus opname, namun berkali-kali pula dia mencoba untuk kembali kuat.  Aku ingat betul saat pertama kali bertemu dengannya. Diantrian imunologi yang sebelumnya hanya ku jumpai pasien manula dengan riwayat diabetes. Akhirnya ku temukan sesosok wanita hebat yang luar biasa ini.

Bagaimana dengan penuh hangat nya dia menyapaku. Dan bagaimana pula aku langsung menyeletuk menebak penyakitnya.

"Mba SLE bukan?"

Dan bagaimana mimik yang ku dapat setelah pertanyaan itu. Tak ada gurat sedih sedikitpun tergambar di wajahnya.

Begitu tenang dan ikhlas. Seolah tak mau menyalahkan siapapun bahkan Tuhan yang telah menakdirkan hidupnya seperti saat ini.

"Wahh, mba hebat bisa langsung tau. Pasti lihat body ku ya?" balasnya sembari tertawa kecil.

Aku bahkan ingat cerita-cerita sedihnya diawal menjalani penyakit nya.

Dimana seketika badannya tak mampu bergerak, bahkan untuk menyuapi anaknya pun dia tak sanggup.

"Itu sendok sampe aku balut pake kain ditangan mba biar ga lepas"ujarnya dengan mata bekaca-kaca.

Atau ketika kita sedang bicara perihal brain fog. Dia bercerita pernah tersesat jalan pulang. Atau sesekali pingsan di jalan. Atau pula pernah lupa dengan dirinya sendiri.

Tapi lagi-lagi perempuan ramah ini tak menitikkan air mata. Masih berusaha untuk tegar. Malah seketika dia mengguyoni ku.

"Inilah kelebihan kita mba. Sakit tapi ga keliatan sakit. Sakit tapi badan makin gede"

"Walau kadang suka sedih juga saat ada sebagian orang yang menganggap kita pura-pura sakit lah, sok manja lah" 

Yaah, walau akhirnya Fika menyadari bahwa mereka hanya sedang tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa dia harus lebih sering menghabiskan waktu nya di rumah dan tak memiliki waktu luang lagi untuk bertemu teman-teman disana agar tak terus menerus terpapar matahari.

Aku tersentak dari lamunan. Saat Fika mencoba memegang tanganku.

"Sakit ya mba?" Ujarnya penuh simpati.

Aku pun tersenyum dan membalas genggaman hangat itu.

"Seperti biasa, dek Fika pasti tau rasanya"

Fika semakin menggenggam ku erat. "Kuat mba, mba pasti bisa. Aku yakin mba bisa" 

Yaahh, kata-katanya itu, seketika menyadarkan ku. Ingat Tiara, sakit mu tak separah sakitnya. Malu tiara, malu.. berhentilah mengeluh dan berlarut-larut dalam penderitaan mu. Ini tak seberat yang dia rasakan.

Spontan aku bangkit dan mencoba melawan nyeri di seluruh persendian ini. 

"Masih belum dikasih steroid mba?"tanyanya kembali

Aku mengangguk. "Tinggal 2 bln lagi dek Fika, do'akan aku kuat ya"ujarku mencoba tegar.

Yaahh, disaat harus melawan RA ini aku dihadapkan oleh penyakit lain yang memaksa imun ku untuk terus aktif. Dokter tak memberi terapi steroid selama pengobatan belum selesai. Sampai hari ini aku masih mengandalkan obat penghilang nyeri. Sementara nyeri ini sudah semakin menjadi saja rasanya. Tapi aku tak boleh kalah. Malu dengan wanita hebat ini yang sudah bertahun-tahun melalui harinya dengan berbagai macam rasa sakit.

"Mba sendirian? Ga ditemani suami?"lagi2 Fika mencoba mencairkan suasana. 

Aku tertunduk diam kembali. Mas Faiz, aku tak mau menyusahkan nya terus. Harus ikut-ikutan menunggu dokter hingga larut malam sembari membawa anak2 hingga kadang sering terlelap dipangkuan nya.

"Ga dek, kasihan anak2 dibawa terus sampe ketiduran disini"

Fika hanya hening, sembari mengirup nafas panjang kemudian kembali berkata-kata lagi.

"Kasihan mereka ya mba.. Sama seperti yang sering Fika rasakan" ujarnya tertunduk.

"Kadang suka ngerasa bersalah saat harus melibatkan mas Azam hampir disetiap saat. Karena Fika mas Azam harus sering cuti. Karena Fika mas Azam  harus sering terlibat mengerjakan pekerjaan rumah. Karena Fika mas Azam harus melawan lelah dan kantuk nya nemeni Fika kontrol agar istri nya ini ga ngelantur pulang ke rumah orang" lanjutnya tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

"Pernah satu kali Fika bilang sama mas Azam mba, mas cari aja pengganti Fika ga apa-apa, Fika ikhlas. Biar ada yang ngerawat mas, yang menyiapkan segala kebutuhan mas"

"Lalu??" timpalku penuh keingintahuan

"Mas Azam malah marah mba"jawabnya kembali sambil tertawa kecil.

"Katanya Fika ngelantur, Fika ga sayang lagi sama dia"

"Subhanallah, Allah itu maha adil ya mba. Percayalah, mereka yang berada disamping kita adalah orang-orang pilihan yang Allah titipkan pada kita yang penuh kekurangan ini"

Seketika Fika hening kembali. Tanpa sadar aku pun ikut larut dalam keheningan itu. Fika benar, bukan tanpa alasan jika mas Faiz hingga detik ini tak pernah berkata bosan atau pun lelah seperti yang aku rasakan. Karena mas Faiz adalah orang-orang pilihan itu. Yang akan selalu mendukung ku melalui semua. Yang akan selalu menemaniku  berjuang melawan semua ini. Seperti hal nya Azam yang ditakdirkan Allah untuk mendampingi Fika dengan segala kekurangan nya. 

Yaa Allah, maafkan aku yang sedari sore tadi menggerutu pada mas Faiz untuk menolak check up. Maafkan aku yang selalu mengomel pada mas Faiz tatkala dia mengingatkan ku untuk tak terlambat makan obat. Maafkan aku yang terkadang larut dalam kesakitan ini dan membiarkan mas Faiz mengerjakan segala pekerjaan rumah dan mengurus anak-anak. Aku terlalu egois. Aku hanya sibuk dengan kesedihanku sendiri..

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara suster memanggil namaku dari depan pintu.

"Fika, mba duluan ya" ujarku sembari berlalu meninggalkan nya.

Fika pun mengangguk senyum sembari kemunian kembali menghampiri lelaki hebat yang sedari tadi tengah duduk bersamanya.

Semangat itu kembali tumbuh. Aku harus kuat. Aku harus berjuang melawan keadaan ini. Dan aku tak boleh larut dalam kenyataan. Demi mas Faiz dan demi anak-anak. Tak ada penyakit yang tak ada obatnya. Walau harus mengkonsumsi obat bertahun-tahun lamanya. Aku ikhlas.. Karena ini adalah yang terbaik yang Allah takdirkan untukku. 

Terimakasih Fika, perempuan hebat yang telah menyadarkan ku. Semoga kau cepat pulih. Dan kita nanti akan terus bertemu sampai batas yang ditetapkan Allah..

 

Karya : Devi Susila