Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 14 November 2017   07:17 WIB
Hadiah

Hadiah 
Dalam masyarakat kita, hadiah selalu identik dengan moment2 spesial. Menurut istilah syar’i, hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang tertentu dengan tujuan terwujudnya hubungan baik dan mendapatkan pahala dari Allah tanpa adanya permintaan dan syarat. Hukumnya diperbolehkan apabila tidak ada larangan syar’i. Disunnahkan apabila dalam rangka menyambung silaturrahim, kasih sayang dan rasa cinta. Disyariatkan apabila bertujuan untuk membalas budi dan kebaikan orang lain. Dan terkadang bisa menjadi haram atau perantara menuju perkara yang haram, dan ia merupakan hadiah yang berbentuk suatu yang haram, atau termasuk suap menyuap. Hal-hal seperti ini hendaknya selalu kita perhatikan. Jangan sampai justru menjerumuskan dalam dosa. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
 
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencinta”.
 
(HR Bukhari)
 
Dalam keseharian, saya pun mengenal hadiah sebagai pemberian dari seseorang karena bentuk perhatian/kasih sayang. Tak perlu menunggu moment apapun. Karena begitu lah ajaran dalam keluarga. Tak harus menunggu ketika ulang tahun, ketika naik kelas, atau pun moment2 lainnya. Hakikat yang saya dapat? Tentu saja lebih kepada bentuk kasih sayang yang tulus dan tanpa paksaan. Berapapun nominal nya, sebesar apa pun bentuk nya, semenawan apapun rupanya. Inti dari hadiah itu sendiri adalah ketulusan dan perhatian. Dan itu pun sekarang saya terapkan pada anak2. Jadi tak ada paksaan atau pun rengekan meminta. Tak harus menunggu moment2 tertentu.
Puncaknya adalah ketika dia (si kakak) membelikan sepasang anting kawat di sekolah nya, lalu dg antusias nya memberikan kepada saya (Ammi) sebagai hadiah untuk Ammi (tau ammi nya ga pake antingan). Disitu saya semakin belajar tentang makna sesungguhnya dari hadiah.. bahwa hadiah adalah pemberian yg tulus dari hati sebagai ungkapan perhatian kepada kita, tanpa pamrih dan tanpa hari spesial apapun..
 

Karya : Devi Susila