Suamiku..

Devi Susila
Karya Devi Susila Kategori Renungan
dipublikasikan 13 November 2017
Suamiku..

Bunda..
Cobalah sesekali pandangi suami ketika tengah tertidur pulas sepulang bekerja. Pandangi dalam2 wajahnya. Dan lihatlah ada segurat lelah disana. Lelah dan penat yang begitu besar, yang tak pernah ia perlihatkan pada kita dikesehariannya saat sedang berkumpul bersama di rumah.
Tentang bagaimana berat harinya selama bekerja tadi, tentang bagaimana besarnya beban yang ia tanggung, tentang bagaimana rumitnya masalah yang ia hadapai dengan orang-orang diluar sana. Bagaimana keadaannya seharian tadi. Entah makannya yang terlambat. Entah teriknya mentari yang menyengat kulit. Entah letihnya tubuh yang tak ada jeda mengerjakan setumpuk pekerjaan. Entah tekanan yang ia dapat oleh orang2 disekitarnya. Entah pula rasa sakit yang ia peroleh akibat kecelakaan2 kecil saat bekerja.
Pandangi lagi dalam2 wajahnya. Usap dahinya. Dan perhatikan helai2 putih yang mulai tumbuh diantara rambut hitamnya. Begitu cepat waktu berlalu. Begitu semakin berkurang pula kesempatan kita untuk terus disampingnya. Dan bertanya lah sendiri pada hati, apakah sudah dipergunakan dengan baik waktu2 yang terbuang itu. Apakah pernah kita pergunakan dengan baik untuk membahagiakannya? Apakah sering kita memakinya, menuduhnya, menyuguhkan wajah kusut saat ia pulang bekerja, tak menyapanya bahkan cuek dan tak melayani nya saat sedang berselisih? Apakah kita sering mengeluarkan kata2 tak pantas atau keluhan2 kekesalan tentang hari2 kita di rumah? 
 
Perhatikan pula tubuhnya, lalu belailah telapak tangannya. Rasakan urat2 yang sedikit mencolok keluar diantara jemarinya itu. Rasakan pula kulit2 kasar ditelapak tangannya. Mungkin juga ada goresan2 luka kecil  atau lepuhan2 yang tak pernah ia tunjukan pada kita.
Lalu perlahan pijatlah kakinya. Dan rasakan pula tumit yang kasar dan sedikit pecah itu. 
Dan itu lah tubuh yang telah melakukan segala hal tanpa lelah demi menafkahi kita dan anak2. Begitu penuh lelah disana.
 
Kemudian terakhir bayangkan jika tubuh itu mendadak menjadi kaku, pucat, dingin. Tak ada lagi helaan nafas yang terasa dari hidungnya, tak ada lagi detak di nadi dan dada nya ????????
 
Bunda, apakah kita pernah memikirkan hal2 ini tentang suami? 
Bukan hanya kita yang lelah di rumah, tapi suami pun lelah seharian bekerja diluar sana. Tapi tak jarang diantara mereka yang tak pernah memperlihatkan itu semua kepada kita. Begitu besarnya cinta suami kepada kita, lalu diantara kita masih saja ada yang mendzoliminya. Menuduhnya yang bukan2.
 
Bunda, bersabarlah. Jadikan lelah mu itu ibadah. Redakan amarah mu saat sedang bersamanya. Jangan pernah memaksakan kehendak. Maafkan segala kesalahan yang sengaja atau tak sengaja ia lakukan. Terima segala kekurangan dan kelebihannya. Do'akan ia disetiap sujud mu. Bukan kah setiap kita memimpikan keluarga yang sakinah, mawadah warhmah? Mulailah dari diri kita. Insyaallah, suami perlahan juga akan mengerti dan memahami kita.. 
Jazakallah khairan untuk 
 

  • view 27