Kenangan

Devi Susila
Karya Devi Susila Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 November 2017
Kenangan

 Sudah hampir 1 minggu mas Luthfi tak memberi kabar. Bahkan mampir ke rumah ibu untuk sekedar bertemu anak-anak  saja tidak. Aku sudah pasrah, tak ada lagi yang perlu dipertahankan. Kubulatkan tekat untuk menjadi orang tua tunggal. Mas Luthfi sudah keterlaluan, ini kali kedua dia berkhianat. Aku muak dengan permohonan maaf nya. Aku lelah harus terus menjadi istri yang setia dan menerima segala kesalahannya. Aku bahkan trauma dengan pesan-pesan yang selalu dikirimkan wanita gila itu..
  
Sudahlah, aku malas kalau harus kembali memikirkan semua itu. Malam ini acara pernikahan Windy. Sudah jauh-jauh hari dia memberitahu ku untuk dapat hadir dan menemani nya di hari bahagianya ini. Aahh, pasti lah aku akan banyak bertemu teman-teman lama semasa SMA dulu. Seru pastinya, lumayan untuk menghilangkan jenuh ini.
 
Perlahan aku melangkah pelan ke pintu, semoga anak-anak tak tahu kalau bunda nya hendak pergi keluar sebentar. Tapi sapaan lembut itu seketika menghentikan langkahku..
"Kamu mau kemana nduk?"
Aku cuma senyum, sembari berkata "Titip anak2 ya bu, malam ini acaranya Windy"
Dan kembali bergegas melangkah keluar.
"Kamu belum mau pulang? Kamu itu masih istri sah nya Luthfi.."
Aku terhenyak. Seperti nya ibu mulai merasakan kejenuhan ku. Aku tau ibu hanya mencoba menasehatiku.
"Hanin cuma sebentar bu, selesai ijab kabul nanti Hanin pulang.." ujarku sembari terus berlalu. 
 
Dan tepat seperti dugaan ku, begitu banyak wajah-wajah yang lama tak kujumpai hadir disana.
"Hanindya..?" tanya seorang perempuan di depan sana. Aku mengangguk seraya mengingat2 siapa perempuan ini. Dia mencoba menghampiri, "Tika, anak IPS 2.." ujarnya sambil mengulurkan tangan. Dan aku pun ingat kembali. Yaah, Tika.. dulu pernah sekelas dengan ku di kelas 1.
"Kamu apa kabar? Makin cakep aja.."ucapnya kembali. "Pangling aku, beda banget sama yang dulu, cantik jeng.."
Sekali lagi aku hanya tersenyum. Benarkah? Aahh, sepertinya aku sudah hampir lupa dengan masa lalu. Aku baru ingat dulu aku adalah murid perempuan  yang paling cuek, ga banyak gaya apalagi mengikuti tren terbaru. Walau tak kupungkiri sesekali ingin rasanya seperti mereka, populer dan disukai banyak murid lelaki. Dan bicara murid lelaki, aku jadi teringat nama itu lagi. Gibran.. Apa kabarnya pujaan hatiku semasa SMA dulu? Apakah dia juga hadir disini??
Jadi ingin tertawa sendiri. Disaat teman-teman yang lebih populer banyak yang mendekati nya, aku malah ikut-ikutan ingin menjadi pesaing mereka? Satu kata yang aku ingat saat itu "mimpi kamu Nin.."
Dan akhirnya aku pun hanya bisa menjadi penggemar rahasianya. Walau pernah satu kali kuberanikan diri menuliskan isi hati ini dan ku selipkan didalam bukunya. Sampai kini pun aku tak tahu, entah dia mengenali tulisan itu atau tidak. Karena sampai dimasa kelulusan sekolah, hubungan kami hanya sebatas teman. Dan dia masih menganggap ku sama seperti biasa, tak ada yang berbeda. Aku pun juga tak mau terlalu mempedulikan perasaanku lagi kala itu, sebab Gibran sudah memiliki pacar.
Kenapa aku jadi mengingat-ingat masa lalu kembali?? 
 
Dan sembari menyaksikan ijab kabul Windy yang berjalan begitu haru, aku pun kembali teringat masa itu. Masa-masa dimana ini pernah aku lalui, dimana mas Luthi terlihat gagah mengenakan jas hitam lengkap nya sembari menggenggam erat tangan ayah mengucapkan janji suci itu. Yaa Allah, rasanya air mata ini ingin tumpah. Bahagia itu, apakah hanya akan berakhir seperti ini? Rasanya ingin marah, kecewa dengan sikap mas Lutfhi yang tak menghargai semua yang telah aku beri. Aku pikir cinta nya suci dan tak akan terbagi. Tapi nyatanya dia masih saja berhubungan dengan perempuan itu. Walau dia sudah memohon- mohon maaf dan mengakui salah nya, walau dia berkata ini hanyalah jebakan dan permainan dari wanita itu. Aku tetap tak bisa melupakan semuanya. Hatiku hancur, mas Luthfi masih mengulang kesalahan yang sama. Mas Luthfi berbohong lagi dan melanggar janji nya sendiri.. Dan disaat air mata ini akan tumpah, suara itu seketika menggetarkan hatiku.
"Nindya.." ujar seorang lelaki yang begitu sangat ku kenal menyapa ku seraya mengulurkan tangannya. Segera ku usap air mata ku. Sambil tersenyum kikuk aku pun membalas sapaannya dan menjabat tangan itu "Gibran.."ujar ku penuh semangat seolah menemukan sesuatu yang telah lama hilang.
"Apa kabar Nin, udah lama ya ga ketemu.." balasnya dengan senyum. Aahh Gibran, lagi-lagi senyum itu. Hatiku kembali bergetar. "Iya, kan kamu nya yang sekarang jauh ga ada kabar berita" timpa ku.
"Namanya juga tugas Nin, mau ga mau lah.. kamu makin cakep aja pake hijab" ujarnya sedikit menggoda. Ya ampun, Gibran bahkan masih mengenali ku dengan penampilan baru ku kini.
"Kan biar dibilang sholeha.."aku balas menggoda. 
"Sendiri aja Nin, mana suami?" tanya nya sembari celingak celinguk ke samping ku. "Ooh, lagi ga enak badan. Kamu??" potongku.
"Biasa lah Nin, sibuk.. kamu ga kerja?"timpalnya.
"Ahh kamu, kan dari kemarin-kemarin juga tau kalau setamat kuliah aku langsung merit" jawabku malu-malu.
"Kamu kan ga ngundang aku.. takut aku baper ya?" timpal nya seketika mengingatkan ku tentang sesuatu yang sudah lama aku pendam. Maksud Gibran apa? Apa dia tau siapa pengirim surat itu? Tapi saat kelulusan kenapa dia bersikap biasa-biasa saja? Sejak kuliah sampai menjelang menikah saja aku tak pernah mendapati kabar beritanya lagi. Dan hari ini dia hadir dihadapan ku, seolah mencoba mengungkit sesuatu yang aku sendiri sudah tak mau lagi untuk mengingatnya. Bukankah dia juga sudah menikah? Kenapa harus bertanya hal-hal yang sedikit memancing? Ku coba untuk tetap tenang, walau sebenarnya aku berharap sesuatu yang membuatku berbunga-bunga akan terlontar dari mulut nya. Ingat anak-anak Nin, ingat nasehat ibu mu tadi.. 
Percakapan kami tiba-tiba terhenti tatkala beberapa teman lelaki sekelas ku datang menghampiri. Aryo dan Dimas. Mereka masih tetap kompak. Masih selengekan seperti dulu walau sudah beranak 2 seperti aku. 
"Heiii Hanin, Gibran.. lagi cerita apa nich??" Ujar Dimas dengan nada kepo nya. Aryo pun tak kalah ingin berkomentar "sepertinya ada sesuatu nich.."timpa nya sambil mengedipkan mata.
"Yaahh, sedikit bernostalgia boleh lah.. betul kan Nin?"tanya Gibran semakin memanaskan situasi.
"Kayak nya kita ketinggalan berita nich, cerita apa bro? Jangan bilang lo naksir Hanin ya, ntar mas nya ngamuk loh" Dimas kembali berceloteh penuh sumringah.. 
"Yaahh, gw tau.. itu kan karena takdir berkata lain aja.. " ujar Gibran seakan penuh makna.
Aku hanya tersenyum mengikuti pembicaraan mereka sembari terus mecuri pandangan pada Gibran yang sedari tadi tak henti menatap ku.
Dan entah apa yang mereka katakan seterusnya, aku sudah tak menyimaknya lagi. Perasaan ku benar-benar galau. Gibran, apa maksud perkataanya? Bercanda tapi begitu penuh makna seolah mengisyaratkan sesuatu. Tapi dia masih tetap biasa, sedang aku kian terpuruk dan hanyut kembali dalam kenangan ???? 
 
Waktu terus berjalan, malam semakin dingin. Ku putuskan untuk pulang, anak-anak pasti sudah merengek-rengek bertanya pada Eyangnya. Sesaat aku berpamitan pada Windy dan orang tua nya. Ku percepat langkah tanpa berpamitan lagi pada yang lain. Semoga masih ada taksi yang mangkal di depan sana.
"Nindya.." sayup-sayup suara itu terdengar kembali. Gibran? 
"Kamu mau pulang? Aku antar ya?" tawarnya.. 
"Iya, tapi ga usah Gi.. Aku bisa pulang sendiri kok, ntar ngerepotin kamu.." ujarku lirih
"Gapapa, waktu ku kosong kok. Lagian ga ada yang nungguin.."balasnya seraya tersenyum.
Yaah sudah lah, anggap saja ada seseorang yang sedang berbaik hati ingin menawarkan bantuan.
Gibran pun perlahan mulai melaju sembari sesekali menatapi ku. Hening, tak ada kata-kata yang bisa ku ucapkan. Sedikit grogi mungkin. Akhirnya aku bisa berdua saja dengan nya. Aahh, entah lah...
"Ngomong dong Nin, jangan diam aja" tiba-tiba Gibran berkomentar.
"Tadi kan udah, mo ngomong apa lagi?" jawabku sedikit ragu. Aku yakin Gibran tau aku sedang kikuk.
"Pulang kemana Nin?"tanya nya kembali
"Rumah ibu, kamu masih tau kan alamatnya?"ujarku datar.
"Rumah ibu?" celetuknya sembari mengernyitkan dahi. "Katanya suami mu lagi ga enak badan, kok malah ke rumah ibu?"
Sontak aku kaget. Aku salah berkata, aku terlalu hanyut dalam suasana sampai tak ingat ucapan ku tadi. Aku pun kian kikuk "oohh ya, mau lihat anak-anak dulu.  Mereka tadi minta dianterin ke rumah Eyangnya"balasku seketika.
Gibran menghentikan mobilnya, sembari kemudian memegang tanganku. "Kamu ada masalah Nin? Dia menyakitimu?"tanya nya sembari menatapku dalam. Aku berusaha untuk kuat dan melepaskan genggamannya. "Sok tau kamu Gi.."ujarku mencoba tersenyum.
"Ternyata kamu masih Hanindya yang ku kenal dulu Nin. Masih suka menyimpan sendiri perasaan yang kamu punya dan tak ingin orang lain tau"ucapnya dingin.
"Maksud mu apa Gi? Ga ada apa-apa kok" aku kembali mencoba mencairkan suasana. 
"Bohong kamu Nin, aku tau sesuatu yang buruk terjadi padamu.. seperti aku tau tentang perasaan mu dulu padaku" ujaranya kembali.
Aku terdiam. Gibran, jadi selama ini dia tau yang aku rasa? Lalu kenapa tak membalas surat ku, kenapa hanya diam dan membiarkan ku berlalu.
"Aku tau kamu menyukai ku Nin, memperhatikan ku setiap saat. Jauh sebelum surat itu sampai ke tangan ku.." ujarnya mencoba menjelaskan. "Tapi kamu seakan tak mempercayai ku Nin, kamu seakan menganggapku terlalu tak pantas untuk mu.."
"Karena kamu memang tak pantas untuk ku Gi,, karena kita berbeda, jauh berbeda"timpaku mencoba menangkis segala pernyataan nya.
"Bukan kecantikan yang aku mau Nin, bukan itu yang sebenarnya aku inginkan. Mereka yang pernah ada didekatku, hanyalah kebohongan semata. Tapi ketulusanmu, selalu tak bisa beranjak dari hatiku. Bahkan hingga detik ini.." terangnya kembali..
"Kamu itu berbeda Nin, ga ada yang bisa menyamaimu.. ketulusan mu, kebaikan mu. Tapi setiap kali aku mencoba mendekatimu kamu malah menghindari ku.."
Aku terhenyak. Gibran seolah benar-benar ingin kembali ke masa-masa itu. 
"Dan kenyataan nya sekarang kita tak sepaham dengan pasangan kita masing-masing? bukan" tanya nya kembali.
"Maksud mu?" Ujarku penuh tanya.
"Aku tau kamu sedang punya masalah dengan suami mu. Demikian juga aku Nin.."
"Lalu mau mu apa?" tanya ku lirih
Gibran kembali menggenggam tangan ku sembari berkata " kita perbaiki semuanya Nin.."
Aku terdiam ditengah tatapan dan permohonannya itu. Aahhh, akhirnya.. Ini lah yang sedari dulu aku nantikan darinya. Ingin rasanya saat itu juga memeluknya. Meluapkan semua rasa ini. Menumpahkan segala kekecewaan ini. Tapi aku tersadar dengan perkataan ibu tadi. Tidak, ini salah. Itu hanya masa lalu. Air mata ku seketika tumpah tak terbendung. Gibran mencoba mengusapnya, tapi aku melarang nya.
"Putar balik ke depan Gi.. dipertigaan tadi" ujar ku sembari menangis.. 
Gibran pun kembali melajukan mobilnya. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami. Hingga akhirnya aku meminta berhenti. Gibran pun kembali menggenggam jemariku. "Maafkan aku Nin.."
Aku hanya tersenyum sembari berucap "tak ada yang perlu dimaafkan Gi.. semua hanya masa lalu. Segala yang terjadi kini anggaplah hanya ujian dari Tuhan untuk mendewasakan kita, mendewasakan pernikhan kita. Percayalah dia adalah yang terbaik yang Tuhan berikan untuk mu, demikian juga sebaliknya dengan ku.." ujarku sembari berlalu keluar meninggalkannya. "Nindya.." teriaknya seolah masih tak menginginkan ku berlalu. Aku hanya menoleh sembari tersenyum dan berkata "Terimakasih Gi, terimakasih untuk segala kejujuran mu tadi.. Pulanglah padanya dan jalani hidup mu seperti sebelumnya, tanpa aku.. " ujarku kembali seraya terus  berlalu dan berlari menuju rumah utih mungil di hadapanku. Terimakasih sudah mengatakan semua nya Gi. Terimakasih atas perhatian dan kejujuranmu. Terimakasih sudah menjadi kenangan  terindah dalam hidupku. Aku tau kau sedang mengalami hal yang sama seperti ku. Aku tau saat ini kau butuh seseorang untuk menemani mu, meluapkan segala gundah mu. Tapi aku masih milik mas Luthfi. Aku ibu dari anak-anaknya. aku wanita yang Allah pilihkan untuk menemani sisa hidupnya. Dan semua ini, hanyalah ujian dari Allah yang harus aku hadapi dan terima dengan ikhlas, demikian juga harusnya dengan mu. Mas Luthfi pun sudah memohon maaf dan menceritakan semua nya. Tak ada hak ku untuk menghakiminya tanpa memberinya kesempatan kembali untuk memperbaiki semuanya. 
Aku semakin tak kuasa melangkahkan kaki ini untuk sampai disana dan mengetuk pintu itu. Tak lama berselang sosok yang begitu aku benci hingga tadi sore muncul dihadapanku. Ku peluk erat tubuhnya. Dan mas Luthfi pun balas memeluk erat tubuhku sembari berkata "jangan pergi, jangan pernah pergi lagi dari ku.." ujarnya lirih.
 
Sayup-sayup dari kejauhan ku dengar deru mobil melaju perlahan. Terimakasih untuk semuanya Gi, tetap lah menjadi kenangan terindah untuk ku...
 

  • view 40