Cinta sehidup sesurga

Devi Susila
Karya Devi Susila Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2016
Cinta sehidup sesurga

Mungkin sebagian dari kita pernah merasakan patah hati, dikhianati oleh pasangan. Tapi pernahkah terbesit dalam hati untuk memaafkan dan melupakan yang terjadi? Tidak, tidak semua orang bisa dan mau menghapusnya dari ingatan.

Demikian juga hal nya dengan ku saat itu. Sakit, teramat sangat sakit. Meski berkali-kali aku memohon pada Tuhan untuk tak larut dalam emosi, meski susah payah ku paksakan untuk bangkit dan menata hati. Namun bayang-bayang kejadian itu tetap tak beranjak dari pikiran ku. Bagaimana tidak, orang yang begitu sangat aku cintai, begitu sangat aku percayai tiba-tiba berpaling tanpa sebab dan alasan yang jelas. Terlebih saat itu kondisi ku sedang hamil tua. Segenap rasa seketika tumpah saat itu. Marah, sedih, bingung, takut, semua bercampur menghancurkan diri. Pernah terlintas dibenak ku untuk menyudahi hidup. Pernah pula terpikir untuk pergi jauh saja dari nya. Tapi lagi-lagi si jabang bayi meredakan amarah itu. Tekanan semakin menjadi saat beberapa sahabat memberi pendapat. Inti nya mereka hanya memberi semangat untuk move on.
Aku mencoba bangkit, mencoba bersemangat demi anak yang akan segera ku lahirkan.


Dan hari yang ku nanti pun tiba. Senyum dari wajah kecil itu seketika meneduhkan hati ku yang saat itu sedang berkecamuk hebat. Untuk sesaat aku terlena dan lupa akan semua nya. Sikap ku pada suami pun sedikit melunak. Tak ada hening, tak ada tangis. Semua berganti senyum.
Aku pun mulai mencoba menata kembali hati dan hidup ku. Kembali hidup bersamanya, menjalani hari bersamanya dan putri kecil kami.


Namun, kebahagian yang baru ku dapat itu tak berlangsung lama. Masalah itu ternyata belum berakhir dan semakin rumit. Pikiran negatif kembali mengiang. Bahkan kami sempat bertengkar hebat. Walau akhirnya dia menyesali segala perbuatannya dan meminta maaf padaku. Tapi jelas saja kecewa ini sudah lebih dulu menghinggap, tak mau peduli lagi pada nya dan semua yg telah terjadi. Aku hanya mencoba pasrah, menjalani hari dengan topeng kebahagian. Sampai suatu hari aku mendapati sosok itu. Tentang hijrah seorang sahabat yang sama sekali tak pernah ku duga. Aku teramat sangat salut bahkan mulai terbius dengan pilihan hidup nya itu. Perlahan aku pun mencoba lebih dekat pada Tuhan. Meski tanpa panduan seorang guru, aku mencoba mencari dan memahami arti Din yg ku yakini ini. Aku mulai bergaul dengan mereka yang telah berhijrah meski hanya sebatas media sosial. Aku pun mulai memburu buku-buku yg mampu menunjang pemahamanku.

Yaahh,, lebih dekat dengan Tuhan itu lah ternyata pilihan terbaik. Jawaban dari segala gundah ku saat itu. Mencoba meluapkan dan mencurahkan segala perasaan pada Nya, bukan pada orang-orang terdekat atau pun medsos. Alhamdulillah, lambat laun bayang-bayang kejadian itu menghilang. Dan perasaan cinta pada suami yang dulu hampir mati perlahan tumbuh lagi bahkan kini semakin bersemi dan hanya mengharap ridho Nya. Cinta karena Allah, cinta sehidup sesurga.

Hijrah ku mungkin terbilang belum sempurna. Walau baru sebatas hati dan keyakinan. Walau belum bisa mencoba lebih syar'i seperti mereka-mereka yang telah menginspirasi ku. Tapi setidaknya kini aku merasa lebih nyaman dan bahagia. Pun suami perlahan juga mulai berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik. Walau belum sempurna tapi aku masih berharap suatu hari nanti aku dan suami bisa menjadi seperti mereka. Berhijrah lahir dan batin. Menuntun anak-anak kami pada kebaikan dan lebih dekat pada Rabb nya. Menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Satu pesan yang kini terus membekas di hati dan pikiran ku bahkan sampai detik ini. Jangan pernah mencari solusi atas permasalahan mu pada manusia, tapi minta lah hanya kepada Nya. Karena Dia adalah sebaik-baik pemberi jawaban dan pengatur hidup ini. Cintai pasangan hanya karena Allah, karena cinta karena Allah akan membuat cinta mu menjadi sehidup sesurga..

 

  • view 262