TENTANG KITA..., ESOK HINGGA KAPANPUN

Detik Nur Dianti
Karya Detik Nur Dianti Kategori Renungan
dipublikasikan 15 Maret 2017
TENTANG KITA..., ESOK HINGGA KAPANPUN

Teruntukmu calon imamku...

Sebentar lagi. Iya, sebentar lagi semua akan dimulai. Tentang aku dan kamu, tentang cinta kita, tentang realita kehidupan, tentang semua impian kita, tentang kekuranganmu dan kekuranganku, tentang kelebihanmu dan kelebihanku, dan kita memulai semuanya karenaNYA. 26 Hari lagi engkau akan mengatakan kepada seluruh dunia bahwa engkau akan menggantikan tanggungjawab ayah dan ibuku untuk menjaga dan membimbingku, hingga kapanpun tentunya.


Apakah engkau merasakan sesuatu seperti yang kurasakan di saat semua lebih dekat dengan hari itu??... Sebuah perasaan bahagia bahkan sangat bahagia. Tapi di sudut hati kecil ada perasaan takut, atau sejenis ragu. Apakah memang setiap orang yang akan menikah merasakan hal sama seperti itu?. Aku takut bagaimana jika aku bukanlah perempuan yang setiap kekurangnku akan kau terima dengan tulus, aku takut karena setelah kau mengucapakan janji suci itu aku sudah menjadi milikmu seutuhnya, bahkan ibuku yang melahirkanku tak memiliki hak atas diriku sebesar hak kamu. Aku takut setelah aku menjadi milikmu, aku akan merasa jauh dari ibuku, atau mungkin ibuku yang merasa jauh dari aku. Dan juga semua saudaraku, aku takut setelah kita menikah aku menjadi orang lain bagi mereka, atau mereka menjadi orang lain bagiku. Iya, semua keadaan akan berubah bukan?...Dan aku sangat takut dengan hal itu. Yang aku harapkan kau adalah laki-laki yang mencintaiku dan seluruh apapun yang ada di diriku, termasuk semua keluargaku. Maka salah satu pintaku kepadamu calon imamku, kelak jika aku merindukan mereka...izinkanlah aku berjumpa dan melepas titik-titik rindu itu. Semoga engkau selalu ridho akan keinginanku selama itu tak pernah melanggar agama kita.


Dan hal kedua yang aku takutkan ialah ini. Dulu, entah kapan yang pasti saat itu aku masih sangat kecil dan belum mengenal cinta... hingga sekarang aku sudah akan menikah. Aku sering mendengar kalimat dari orang-orang yang sudah menikah, juga teman-temanku yang pernikahnnya baru seumur jamur. Kalimat itu yang hingga kini menjadi hal yang tak pernah aku setujui. Mereka semua bilang bahwa orang yang sangat kita cintai, yang menjadi pasangan hidup kita, yang menjadi suami atau istri kita ketika sudah menikah, dan menjalani rumah tangga, mereka akan seperti seorang teman diantara satu sama lain. Dia yang di mata kita ialah orang yang paling romantis, dan senantiasa membuat hati kita berbunga-bunga saat dulu sebelum menikah atau di awal menikah, lama kelamaan segala romantisme itu gugur, bunga-bunga yang sering tumbuh di hati kitapun sudah layu tak nampak lagi. Mereka yang dulu saling menciptakan perhatian untuk satu sama lain, kini mereka saling bersikap dingin, keseharian dalam berkomunikasi sekedar dianggap menggugurkan kewajiban sebagai suami atau istri. Tak ada lagi panggilan sayang, tak ada lagi waktu-waktu indah untuk menikmati kasih sayang layaknya awal mereka bertemu. Sebagian besar yang aku dengar dan lihat, tidak sedikit yang berbicara dengan suami atau istrinya dengan kalimat kasar, bukan lemah lembut layaknya awal dulu saat mereka saling ingin mengenal.

Mungkin mereka sudah lupa caranya membahagiakan pasangannya, bahkan juga lupa membahagiakan dirinya sendiri hingga mereka lupa betapa indahnya rumah tangga mereka jika sikap dan semua hal yang dinilai romantis tetap tercipta meskipun mereka bukan anak muda lagi. Mereka tak sadar bahwa mereka saling membutuhkan perhatian-perhatian kecil yang sudah saling mereka hapus dari kamus cinta mereka. Mereka pun sudah lupa untuk mengungkapkan kalimat cinta kepada orang yang dicintainya, yang semakin hari semakin termakan usia. Segala kegiatan di setiap hari hanya terlewati begitu saja dengan judul ‘KITA ADALAH SUAMI ISTRI’ tanpa adanya warna kasih sayang dan cinta yang seharusnya mereka buat selalu bersemi.


Wahai calon imamku, mungkin engkau juga sering mendengar itu dari mereka semua yang sudah menapaki rumah tangga. Aku ingin kelak kita TIDAK AKAN PERNAH mengatkan hal yang sama seperti yang mereka utarakan tentang pernikahan . Dan aku yang belum menikah sangat membenci kalimat itu. Bahkan dalam hati aku mengatakan mereka semua ‘BODOH’. Bukankah pasangan hidup mereka ialah anugerah terindah dariNYA?, merekalah yang senatiasa menemani langkah, melengkapi apapun yang kurang dari mereka, dan banyak hal yang tak bisa dihitung dengan jari tentang pengorbanan yang dilakukan oleh suami atau istri.


Engkau akan menjadi hal terindahku hingga kapanpun, mencintai dan memberikan perhatian untukmu adalah kewajibanku juga kebahagiaanku, dan akupun ingin engkau selalu menumbuhkan bunga-bunga itu seperti awal kita didekatkan olehNYA. Maukah engkau berjanji, engkau akan menjadi lelakiku yang akan selalu mencintaiku dalam keadaan apapun, dalam keadaan kurangmu atau lebihmu, saat kau dibawah ataupun di atas. Sayang, kelak aku tak ingin kehilangan perhatian-perhatian kecil yang selalu kita ciptakan seperti sekarang. Maka jika suatu saat aku marah atau bahkan sekedar diam kepadamu, bukan berarti aku tak ingin berbicara baik-baik denganmu, maka ingatlah bahwa saat itulah aku mulai merasa ada yang kurang tentang perhatian itu. Tetaplah bimbing aku dengan kesabaranmu, cintai aku dengan kelembutanmu, dan tetaplah menjaga setia itu meski kelak aku tak muda lagi, meskipun kelak jutaan perempuan kapanpun bisa saja menjadi penggoda imanmu. Ingatlah selalu moment indah saat kita saling jatuh cinta. Semoga aku dan kamu selalu dikarunia keberkahan, hingga Jannahnya, Insya Allah. Amiin.


PANDAAN, 15 MARET 2016

  • view 121