Perempuan dan Kekosongan

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Desember 2017
Perempuan dan Kekosongan

Aku mempercepat langkah, mengayun gerak kedua kaki lebih cepat dari semula. Menyongsong masuk menuju gerbang sebuah apertemen bernuansa klasik. Seorang security melambaikan tangan dan tersenyum kearahku. Aku membalas senyumnya, namun tak bisa menyapanya lebih lama.

Pintu apartemen nomer 405 masih tertutup rapat. Ku lirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kiriku. Persis jam 7 pagi. Aku tekan bel satu kali.

Beberapa detik tak ada jawaban. Ku tekan kembali sebanyak dua kali. Masih sepi. Aku memandangi spageti dalam wadah ungu yang kubawa sedari tadi, berharap pagi ini bisa sejenak melewatkan sarapan bersama.

Setelah beberapa menit. Kau menghambur keluar dengan setelan kemeja rapi lengkap dengan tas kerjamu.

"Hai Flory, sudah lama menunggu? " sapamu sambil mencium keningku dengan cepat. Aku tersenyum dan mengangguk. Menunjukkan wadah ungu ke hadapanmu.

"Sorry, aku terburu-buru. Sarapan sendiri ya." Kau berlalu melambaikan tangan kepadaku. Aku menunduk lesu, sia-sia sudah upayaku bangun pagi dan membuat sarapan untuk kita.

xxx

"Lagi apa? " Ku pilih namamu sebagai alamat pengiriman massage yang baru saja ku tulis.

Tidak ada notifikasi apapun. Aku masih menunggu, sambil merapikan buku-buku yang ada di bookstoreku yang berukuran 4x6 meter ini.

"Bekerja. " jawabmu singkat setelah beberapa jam berlalu.

"Oo.. sibuk ya? " tanyaku.

"Iya.. kamu sedang apa? " kali ini responmu tak menunggu detik berubah.

"Stay di bookstore, melayani beberapa pelanggan. Setelah kesibukanmu selesai, bisa kah kita berbincang sore ini? " Aku mulai merencanakan mengajakmu melalui senja di taman kota.

Hening. Tidak ada balasan apapun hingga sore berlalu.

xxx

"Flory, sibukkah? " pesan masuk menyapa darimu.

Terlihat dua panggilan masuk pagi ini dari namamu. Oh sorry, beberapa pelanggan membuatku tak bisa menjawab telfonmu tadi.

"Hhmmm, tidak. Kau akan menelfon? " tanyaku berharap sekali bisa mendengar suaramu hari ini.

"Tidak. Aq sedang menyetir, kita berbincang lewat WA saja." jawaban yang sedikit membuat kecewa.

Lalu selanjutnya, tidak satupun chatku yang berbalas. Semua pertanyaan itu kamu biarkan menggantung, bahkan hingga pagi kembali datang menjelang.

xxx

Pagi ini masih terlalu dini, aku sudah berdiri mengetuk pintu apartemenmu. Kau membukakan pintu dengan wajah kusut. Tanpa mempersilahkanku masuk, aku kembali harus menelan kekecewaan atas kesibukanmu.

"Kau sering tidak membalas chatku akhir-akhir ini. Kenapa? " aku memasang tampang memelas menghadapmu. Kau tersenyum, mengacak-acak rambut panjangku.

"Tidak apa-apa. Aku tidak punya cukup waktu untuk mengetik jawaban . "

"Bisakah sore ini kita nonton? "

Kau menggeleng.

"Tidak bisa, Flory. Aku tidak ada waktu."

"Kau sibuk sekali ya. Kita sudah lama tidak berbicara berdua. "

"Mengertilah, waktunya tidak tepat. "

"Ada apa sebenarnya? "

Kau hanya tersenyum lalu menyuruhku pergi karena kau harus segera menemui seseorang diluar sana.

xxx

Entah ini sudah hari ke berapa. Aku merasa sangat merindukanmu. Namun semua menjadi percuma, aku tak mungkin bersaing dengan semua aktivitasmu yang jauh lebih penting.

"Flory, semuanya baik-baik saja. Tenang saja ya. Aku hanya belum punya waktu yang tepat untuk menjelaskan kepadamu. "

Bagaimana aku bisa tenang, secuilpun tidak ada penjelasan atas perubahan sikapmu. Bagian mana yang harus aku mengerti, kenyataanmya tidak banyak yang aku tau tentang hari-harimu kini.

Haruskah aku menunggu sampai waktu kosongmu ada? Seperti itukah? Seolah sekarang sulit sekali untuk sekedar bertukar sapa.

Kau menyengajakan diri untuk menjauh atau aku yang ternyata berdiri ribuan kilometer dari hadapmu?

Kecamuk pertanyaan itu masih tergantung dilangit-langit kamarku, menunggumu menyapa lalu menenangkan semuanya. Sebelum prasangka dan logika saling menyerang untuk menjatuhkan.

#17.11.17

  • view 120