Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 4 Desember 2017   07:54 WIB
Kamboja di Ujung Senja

Aku mempercepat langkah menyusuri lorong rumah sakit yang terasa panjang. Kamar Edelweis no 10 yang terletak diujung Paviliun seolah terbentang ratusan kilometer jauhnya. Ku seka keringat dingin yang mengucur membasahi wajahku.

Pintu ruangan itu terbuka, seorang dokter dan beberapa perawat nampak memasang wajah serius. Memeriksa raga yang tergolek lemah diatas tempat tidur besi dengan beberapa selang yang terpasang disana.

Nafasku tertahan sejenak, ada rongga udara yang menahan jerit suaraku untuk mencelat keluar dari tenggorokan ini. Aku tercekat. Ku pandangi wajah-wajah diruangan itu bergantian. 
Mama, Kak Rosa, Mas Fadhim, tak luput wajah dokter dan perawat yang masih berjuang menyelamatkan nyawa. Dokter lalu menatapku, menepuk bahu ringkihku berkali-kali.

"Maafkan Kami Bu, Allah sudah memanggil suami Ibu untuk pulang. Kami sudah berusaha sebaik yang kami bisa, namun Allah yang lebih mengetahui yang terbaik untuk hambanya." Lirih suara dokter berusia sekitar 50 tahun itu namun terdengar sangat meremukkan hatiku.

Aku menghampiri jasad suamiku yang terbujur kaku. Dua orang perawat melepaskan selang dan alat yang masih menempel pada tubuhnya. Jiwa lelaki yang baru 5 tahun menemani hidupku itu kini telah terpisah dari raganya.

Airmataku tumpah tak terkendali, mulutku mengutuk diri dan takdir Tuhan yang tersaji sangat menyakitkan ini. Aku dirundung kehilangan dan ketakutan yang tiba-tiba terasa kelam dan mencekam.

Kupeluk Aira yang masih berusia 3 tahun. Wajahnya tak sedikitpun menyiratkan kesedihan. Aira belum tahu arti pergi dan tak akan kembali. Ia hanya menatapku dan menghapus rinai airmata yang tak henti sedari tadi.

"Ayah pergi jauh ya, Bunda?" suara kecilnya menyayat hatiku.

Tuhan, inikah keadilanmu padaku??

xxx

Luka itu telah berlalu beberapa tahun lalu. Tanah pekuburan itu telah lama mengering. Bunga kamboja yang ku tabur telah sirna terbawa angin senja.

"Kata teman-teman, Aira anak yatim ya Bunda? Teman-teman dan semua guru sayang sama Aira. Katanya, kalau menyayangi anak yatim akan disayang Rasulullah ya Bunda. Asyiiiik.. " terngiang suara Aira sore itu.

Air mataku meleleh. Ku peluk gadis kecil yang kini sudah menginjak kelas satu SD ini. Dia tak pernah menanyakan kapan Ayahnya pulang. Dan kini ia justru bahagia dengan predikat yatim yang disandangnya.

Bertahun-tahun aku berjuang untuk belajar sabar dan mengikhlaskan. Dan ternyata guru kesabaran itu ada dihadapanku. Pada sosok Aira akhirnya aku belajar tegar dan memaknai kehilangan dari sudut rasa syukur.

"Kata Bunda, Ayah kan hanya pulang. Berarti nanti kita juga akan menyusul Ayah pulang dan kita akan bertemu lagi sama Ayah. Kita gak boleh sedih kan Bun?" Aira tersenyum menatapku.

Memang benar, semua manusia pasti berpulang keharibaan Ilahi. Lantas mengapa ada rasa kehilangan saat jiwa orang terkasih terpisah dari raganya? Apakah ini hanya karena kita yang terlalu merasa memiliki hingga merasa pantas mengaku kehilangan?

Aku terpekur memandangi senyum Aira yang tak pernah hilang meski telah kehilangan sosok seorang Ayah. Aira tidak merasa kehilangan, karena ia tak pernah merasa memiliki.

Karya : desy febrianti