Pernah Mencinta

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Desember 2017
Pernah Mencinta

Jantungku berdegup kencang, bulir-bulir keringat dingin deras menuruni tebing dahi dan pipiku. Nafasku memburu bercampur ketakutan yang luar biasa.

Aku mengalami mimpi buruk yang terasa nyata. Ku lirik jam digital yang berjejer dengan lampu tidur disebelah ranjang kayu ini. Pukul 2 dini hari. Lelaki yang telah sepuluh tahun menemaniku menjalani lika liku kehidupan masih terlelap dalam tidur malamnya.

Kusingkirkan selimut yang menyelimuti sebagian raga ini. Aku duduk dipembaringan, kaki ini menyentuh lantai kayu mahoni yang terasa amat dingin.

Malam begitu sunyi. Bahkan angin malam seolah kelelahan untuk sekedar memberi ramai pada pekat yang masih meraja. Dinginpun tak mau mengalah, ia membekap gelap dengan beku yang menusuk tulang.

Aku menoleh, mengamati lekuk wajah lelaki berkaos putih yang larut dalam mimpinya. Wajahnya teduh, dengan detak nafas yang teratur. Ia nampak sangat tenang. Berbeda dengan hatiku yang berkemelut gundah.

Lelaki yang pernah hangat memberikan dekapan, menyeka air mata saat lara menggelayut langkah kaki ini, menghadirkan senyuman pada senja hariku. Dia yang pernah menjadi sandaran segala kegelisahan, penghapus kegundahan hati yang kerap menghampiri.

Namun ternyata, tak membutuhkan jarak ratusan kilometer untuk membuatnya jauh. Kami ada dalam bentang beberapa centi, bahkan rengkuh peluknya masih sangat mungkin terjadi. Namun sekat itu semakin nyata, tipis tak tersentuh, namun cukup mampu memisahkan kulit kami yang berada dalam satu selimut.

"Aku tidak mencintaimu lagi." ucapnya dingin malam itu. Setelah malam sebelumnya kudapati sebuah pesan manja masuk ke ponselnya.

"Karena perempuan itu?" tanyaku dengan suara bergetar. Dia menggeleng perlahan.

"Tidak, mungkin aku hanya tersadar sekarang. Dulu ataupun saat ini, aku tak pernah mencintaimu," dia menarik nafas berat, memalingkan wajahnya pada deretan bunga Anggrek di teras rumah kami, "kurasa pernikahan kita salah." kau merebahkan diri pada kursi rotan di sebelahku.

Jika dunia bisa mendengar suara gemuruh itu, kupastikan bahwa isinya akan luluh lantak mendengar gemeretak suara batinku yang tak lagi utuh. Aku bukan lagi hancur, namun semua tiba-tiba hilang. Rongga dadaku menganga.

Aku terpaku menunggu kelanjutan kata-katamu. Pikiran dan dadaku penuh oleh tanya, namun tak satupun kalimat yang mampu teruntai dari tenggorokan yang mulai mengering ini.

"Menurutmu apa yang salah dari semua ini?" Ujarmu sambil berpaling kearahku. Aku meneguhkan hati untuk menahan rinai airmata dari hati yang terluka.

"Sofia, Maria dan Mitch juga kesalahan?" ku sebut nama jiwa-jiwa mungil yang terlahir dari rahimku. Ia menundukkan wajahnya.

"Maafkan aku, maafkan aku." Suaramu terbata. Aku memejamkan mata.

"Lalu apa maumu sekarang? Kau ingin kita berpisah?" Aku bertahan dengan sisa-sisa ketabahan yang ada. Kau menggelengkan kepala dengan sangat perlahan.

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, aku ingin jujur terhadapmu tentang semua perasaanku. Sekarang ku serahkan keputusan kepadamu, kamu bisa menerima kondisi ini atau tidak?" kau menatapku dengan mata memerah.

Andai kamu tau, membunuhmu dan mencabik hatimu adalah hal yang sangat ingin aku lakukan saat ini. Dimana perasaanmu hingga dengan sangat kejam berkata hal yang sangat menyakiti hati ibu dari ketiga anakmu?

Apakah semua kenangan baik selama delapan tahun pernikahan kita tidak ada nilainya untukmu? Apakah kehadiran buah hati yang menjadi buah cinta kita tak meluluhkan hatimu untuk menahan diri tak menyakitiku?

Terbuat dari apa hatimu mas?

Aku menarik nafas panjang. Memalingkan wajah dari tatapan lelaki yang terlihat sangat menjijikkan itu. Aku beranjak dari dudukku.

"Mitch masih berusia 3 tahun, jika kau sanggup, bertahanlah hingga usianya 20 tahun. Hingga ia cukup matang dan dewasa untuk mendengar kisah pilu kedua orang tuanya. Jika tak sanggup, kau boleh meninggalkan aku kapan saja, karena ternyata aku salah memilih cinta" Aku melangkahkan kaki meninggalkannya.

Tak ada airmata, tapi aku sangat tau bahwa aku terluka parah.

Dan kisah menyedihkan itu kini telah berjalan dua tahun. Tak ada lagi cerita indah dan kehangatan didalam kamar kami. Semua drama bahagia hanya terjadi didepan anak-anak, hanya menunggu hingga mereka siap.

Aku tak lagi mempedulikan apakah lelaki yang tidur dalam satu pembaringan denganku ini pernah mencintaiku atau tidak. Karena bagiku, suamiku telah mati dan ia telah membawa pergi kepingan cinta yang selama ini kami rajut berdua.

  • view 149