Menjadi Pribumi di Bumi Para Nabi

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 November 2017
Menjadi Pribumi di Bumi Para Nabi

Malam belum terlalu pekat,  namun kelelahan perjalanan membuat nyala netraku redup tersisa lima watt. Ku langkahkan kaki dengan gontai, meletakkan tas troli dan barang lainnya. 

Suara Motowwif sudah memanggil-manggil menyuruh kami untuk segera masuk bis. Malam ini tak ada istirahat, semua tenaga harus langsung disiagakan melakukan umroh pertama. 

Selagi menunggu beberapa jamaah lain yang belum datang,  mataku melensa sebuah papan iklan berukuran cukup besar didepan hotel tempat kami menginap. Sebuah iklan telekomunikasi yang menawarkan kelebihan productnya. Yang tidak biasa adalah,  papan iklan itu berbahasa Indonesia. 

Setelah semua jamaah siap,  bispun melaju menuju Masjidil Haram. Kembali kudapati sebuah videotron tak jauh dari terminal bis hotel yang mengantar kami. Videotron tentang pelayanan masyarakat dari Pemerintah Arab Saudi,  dengan beberapa bagian yang menggunakan bahasa Indonesia. 

Awalnya aku merasa biasa,  namun lambat laun kesadaran mengusikku. Hei ini kan jauuuh dari bumi Nusantara.  Lalu mengapa negeri ini begitu familiar dengan negara tanah tumpah darahku?  Ah,  spesial sekali rupanya Bangsa Indonesia di negeri ini. Hatiku mengharu bahagia. 

Tak berapa lama tinggal di kota ini,  aku terperangah karena hampir semua toko yang kami kunjungi, kami dilayani dengan menggunakan bahasa Indonesia.  Demikian juga para laskar ataupun petugas kebersihan dan penyedia air zam zam, beberapa mampu berbahasa Indonesia meski hanya pada kalimat-kalimat atau ungkapan tertentu saja. 

Aku tersenyum,  seolah sedang menjadi pribumi di negeri asing. Jelas kota ini tidak mengenal peribahasa "Dimana bumi dipijak,  disitu langit dijunjung"  tapi pemahaman mereka melebihi makna dari peribahasa itu. 

Mereka mengambil peran dengan aktif menggunakan bahasa, karena bangsa kami menjadi bangsa dengan tingkat frekuensi perjalanan hajji dan travel yang tinggi. Kota ini tidak hanya menyambut kami dengan kemampuan bahasanya,  tapi lebih dari itu mereka tau bagaimana cara menjadikan kami pribumi di negari yang asing. 

Hal ini tentu saja menjadi salah satu yang menambah kenyamanan,  karena jujur saja bagi aku dan mungkin bagi sebagian besar yang berkunjung ke tanah haram ini,  bahasa menjadi kendala bagi kami dalam berkomunikasi. Tak pelak lagi,  bahasa Tarzan seringkali menjadi pilihan pada akhirnya.

Kota ini tahu betul bagaimana harus melayani pengunjungnya. Mereka mengetahui dengan baik masalah utama para tamunya,  dan berusaha memberi solusi dengan memggunakan bahasa sebisa mungkin.

  • view 41