Untuk Sekeping Hati Tanpa Keyakinan

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Oktober 2017
Untuk Sekeping Hati Tanpa Keyakinan

Kepadamu tuan, ingin aku coba tuturkan tentang hebat dan menakjubkannya engkau menerobos sudut hatiku yang lama tak bertuan.

Disana tuan, pada sekeping hati yang hampir saja mati ada tetes tetes air asa yang membasah saat pertama kita berjumpa. Saat sepasang netra teduh mu menelusup merambati jengkal wajahku, ada riak-riak halus pada dada yang coba ku tepis seketika. Suaramu lembut menyapa, membahana ke relung-relung jiwa.

Hanya dalam sekejap masa, kitapun larut dalam sebuah romansa. Tanpa perlu banyak kata yang sering kali dusta, kita merenda hari dengan bahagia. Rasanya, tak ada waktu yang berlalu tanpa aku menanggung rindu. Dan tuan pun seolah tak hendak melewatkan temu pada tiap penghujung waktu.

Masa itu tuan, kau selimuti hati ini dengan aroma bunga yang semerbak mewangi. Kau hiasi setiap sel tubuh ini dengan keindahan prosa dan diksi surgawi. Kau menjadikan aku putri pada singgasana sang dewi.

Menyulam mimpi bersama, menyemai indah asa berdua. Seakan semesta telah menemukan jalan kebaikan untuk kita. Tak henti aku merangkai bait-bait doa, agar Yang Maha Kuasa memberikan ridho Nya kepada kita.

Tapi masa itu sudah berlalu tuan..sejak kau hempas semua mimpi  jauh menukik pada jurang tanpa dasar. Jauh mendebam ke dalam gelap perut bumi. Berkeping semua rasa rindu dan cinta. Yang tersisa hanya imajinasi diri yang membuai dalam sepi.

Aku kesakitan tuan, sembilu yang tergores membuat hati itu perlahan mati. Engkau sungguh hebat, memberikan banyak sekali kenyamanan tapi nyatanya tak mau tinggal. Engkau menyajikan sejuta bahagia meski rupanya tak bisa tertawa bersama. Engkau merajut banyak kisah tapi ternyata tak mau menjalin cerita.

Ternyata kita berbeda tuan, bukan saja beda status keimanan tapi juga beda keyakinan. Aku yang meyakini engkau sebagai cinta terakhirku, sedangkan engkau tak punya sedikitpun keyakinan itu. Aku yang meyakini tujuan kita sama, sedangkan engkau tak punya sedikitpun tujuan sepertiku.

Bukan jurang kepercayaan yang memisahkan kita tuan, tapi sejatinya harapan dan impian kitalah yang menjadi palung bagi jiwa kita tak bisa lagi saling meraih. Tak ada lagi sentuh hangatmu meraih jemariku, jarak itu sudah tak terlipat.

Ku tinggalkan engkau membisu memandangi debu. Menatapku berlalu tanpa berjanji mengulang temu. Aku sudah sangat kelelahan tuan, menjembatani perbedaan diantara kita yang semestinya tak ada.

  • view 43