Menjejali Anak dengan Buku Jutaan, apakah salah?

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Lainnya
dipublikasikan 29 September 2017
Menjejali Anak dengan Buku Jutaan, apakah salah?

Berangkat dari gemes nya saya membaca sebuah tulisan seseemak yang tetiba ngehits gegara tulisannya yang menyarankan para emak melek literasi tapi berbau nyinyir pada beberapa isu SARA. Eh Mak, mbok yao..kalo mo mematahkan argumen orang tu ya pakai argumen juga dong Mak..bukan malah menyerang pribadinya. Sini tak kupas satu-satu dimana letak kesalahan pemikiran menurut saya pada tulisan si emak..
.
Sebelumnya kita satukan pemahaman dulu ya terkait beberapa hal yang sama si Emak di jadikan tema dalam tulisan nya.
.
Apa sih LITERASI? Menurut UNESCO, Literasi merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, berkomunikasi dan menghitung, menggunakan materi cetak dan tulisan yang terkait dengan berbagai bidang. Di era perkembangan teknologi informasi seperti saat ini, yang namanya melek literasi tidak lagi terbatas pada membaca buku di perpustakaan doang kan ya.. literasi dunia digital pun juga menyumbang berbagai informasi itu. Dengan melek literasi diharapkan masyarakat mampu memilah mana informasi hoax, sekedar cuitan haters atau informasi yang benar berdasar fakta. Masyarakat akan memiliki pondasi yang kuat sehingga tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten negatif dan informasi yang tersebar secara cetak ataupun digital.
.
Apasih HOAX? Hoax itu berita palsu, berita yang sama sekali tidak terjadi tapi dibuat seolah-olah terjadi yang bertujuan untuk memprovokasi, menyebarkan ketakutan dan kecemasan serta kebencian kepada sesuatu hal. Termasuk didalamnya adalah berita-berita atau informasi yang isinya argumen-argumen yang dangkal tapi penuh aroma sindiran.
.
Apasih CUITAN HATERS itu? Cuitan haters itu biasanya pemikiran atau pemahaman seseorang yang di tuliskan di laman media sosial pribadinya, biasanya isinya mengkritisi suatu fenomena yang tidak ia sukai. Metode penulisan nya bisa hanya asal njeplak atau memang berdasarkan hasil olah pikir dan fakta yang telah ia ramu sesuai dengan pemahaman pribadinya. Cuitan haters ini tidak selalu salah, selama tulisan dan ulasan yang disampaikan si haters ini disertai dengan bukti-bukti yang nyata (bukan bukti hoax).
.
Lalu dimana letak "aneh" nya tulisan si Emak itu?
.
Mulai dari judul..
.
Si Emak menulis judulnya “ANAK-ANAK DI JEJALI BUKU HARGA JUTAAN, SI MAMAH REFERENSINYA CUMA FELIX SIAUW?”
.
Kira-kira nih, setelah baca pemahaman tentang melek literasi, hoax dan cuitan haters..mamah mamah pada merasa gak kalau judul di atas penuh aroma kebencian? Masuk kategori hoax atau cuitan haters gak tulisannya? Kalo saya pribadi sih, langsung merasa bahwa tulisan si Emak ini adalah cuitan haters. Entah dia haters ke buku yang nilai nya jutaan atau ke Felix Siauw. Ekspektasi saya, tulisan dia akan membahas mengenai buku jutaan  beserta serba serbi kelebihan dan kekurangannya atau tentang salah dan benarnya argumen/tulisan felix siauw menurut pemahamannya. Kalau si Emak memang melek literasi, tulisan dia akan memaparkan fakta dong ya..Hhhmmm, ternyata enggak tuh...
.
Pada paragraf awal tulisan, kita akan disajikan oleh aroma nyinyir luar biasa pada mahmud (mamah muda) yang berupaya menyediakan bacaan berkualitas bagi putra putrinya. Apa ada yang salah ya, ketika para mahmud rela antre dengan cara ikut arisan demi mendapatkan sepaket buku untuk buah hati? Siapa sih yang gak tau Emak-emak, harga sayur beda Rp 500 saja bisa pindah penjual loh, apalagi ini yang rela menyisihkan uang bulanannya untuk membelikan buku anaknya meski harus sabar antre. Saya pribadi mengapresiasi usaha para Mahmud yang begini, logika nya, bagi Mahmud memberikan bacaan berkualitas bagi anak adalah sama penting dengan menyediakan sarapan bergizi agar keluarganya bisa hidup sehat dan tidak kekurangan gizi. Bukankah buku adalah gizi bagi otak? Tapi si Emak penulis ini malah menyindir para mahmud dengan mengatakan bahwa para mamah membelikan sepaket buku yang disertai boneka lucunya agar mamah asik bercengkrama di media sosial dan tak lupa membagikan situs hoax. Nah, ini namanya nyinyir apa nyinyir??
.
Gak hanya sampai disitu, si Emak melengkapi tulisannya dengan mengatakan bahwa laman FB si mamah berisi berbagai makian dan berita dari situs-situs nggak jelas termasuk ilusi tentang kebangkitan hantu-hantu komunis. La dalah! Ini yang ber ilusi saya atau si Emak yang nulis ini ya? Saya kok gak melihat ada ketersambungan antara si mamah membelikan buku anaknya senilai jutaan dengan kebangkitan hantu-hantu komunis versi laman FB si mamah. Misalnya pun si Emak menganggap bahwa para mahmud ini menyebar berita hoax di laman FB nya, apa lantas gak boleh belikan anaknya buku berkualitas? Bukannya justru bagus kan, para mahmud masih peduli dan ingin kelak anaknya lebih melek literasi yang lebih baik dari dirinya. Itu juga kalau bener si Mamah menyebar berita hoax lo ya..
.
Tapi di tulisan selanjutnya, si Emak malah membahas tentang aksi 212, isu PKI, Rohingya sampai hal remeh temeh seperti dalil haram memanggil Ummi dan Abi, cepol untuk perempuan berjilbab yang haram bahkan mengatakan entah hadisnya sahih atau hanya dianggap shahih. Dikit-dikit kok haram tulis si emak..lah, dikit-dikit kok nyinyir sih Mak. Lebih nyinyir lagi, si Emak mengatakan bahwa si mamah gak menghargai buku karena sumber referensi nya hanya dari cuitan Felix Siauw dan Tere Liye. Lalu dianggap si mamah gak baca buku berkualitas, gak menghargai sejarawan dan dianggap hanya punya waktu sedikit untuk membaca. Hellow, dimana nyambungnya dengan membeli kan buku sepaket jutaan buat anak?
.
Apa si Emak ini terjebak pada Logical Fallacy akut hingga ke sumsum tulang belakang nya ya? Kok sepertinya si Emak seolah tak lagi mampu berpikir objektif akan sebuah fenomena sosial. Jangan hanya pandai menyerukan si Mahmud untuk membaca  tema ndakik kalau dia sendiri cetek. Ini Mak, coba cari disini apa sih Logical Fallacy itu? ttps://www.i-jenius.com/2017/01/08/jenis-jenis-logical-fallacies-bagian-1/  
.
Contoh, kegagagalan berpikir pertama yaitu The Red Herring. Si Emak ini mengalihkan perbincangan dari permasalahan utama sehingga membuat orang bingung dan tidak fokus. Gimana tidak, dia menyerang mamah yang membelikan sepaket buku bernilai jutaan untuk anaknya dengan laman FB mamah yang berisi cuitan yang dianggap oleh si Emak hoax. Apa benar hoax? Atau sekedar berbeda pemahaman dan pemikiran saja dengan dirinya?? Kegagalan berpikir kedua, The Straw Man, si Emak selalu memberikan argumen yang menempatkan posisi “lawan” sebagai posisi ekstrim, mengancam dan tidak masuk akal. Bagaimana tidak, si Emak selalu menganggap bahwa para Mahmud dalam kondisi mengenaskan secara literasi. Apakah benar demikian? Atau itu hanya ilusinya saja? Kesalahan berpikir ketiga, Argument against the person, dimana si Emak menyerang pihak (orang) tertentu. Dalam hal ini dia menyebut Felix Siauw dan Tere Liye yang dianggapnya sering menulis tentang isu-isu yang dia sebutkan diatas dan menganggap kedua penulis tadi tidak kompeten.
.
Itu semua sekedar contoh saja, bisa saja masih banyak Logical Fallacy yang dilanggar oleh si Emak. 
.
Mak, tau kan kalau minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% artinya dari 1000 orang Cuma 1 yang rajin baca (UNESCO). Bahkan menurut penelitian The World’s Most Literate Nations, Central Connecticut State Unversity (2016) menemukan minat baca masyarakat indonesia pada urutan 60 dari 61 negara yang diteliti, hanya satu tingkat di atas Botswana dan satu tingkat di bawah Thailand.
.
Artinya apa, mbok yao, ayo di dukung upaya peningkatan minat baca masyarakat utamanya pada anak-anak. Termasuk di dalam nya menghargai para Mahmud yang rela gak nyalon demi menyediakan bacaan berkualitas bagi anak-anaknya. Bukannya malah di nyinyirin to Mak..
.
Jikapun Si Emak ini merasa pemahaman para Mahmud ini salah terkait isu 212, PKI, Rohingya dan hal lain.. Mbok yao, beri warna pemahaman yang menurut Emak benar yang seperti apa. Cobalah lawan argumen dengan argumen, lawan pemikiran dengan pemikiran..jangan hanya bisa nyinyir dan nyindir yang menurut saya malah gak relevan dengan tema utamanya.
Ayo Mak melek literasi bersama yuk.. bukan hanya sekedar mampu membaca buku berkualitas tapi mampu memahami, berkomunikasi dan merangkum beberapa informasi secara baik. Jika Emak merasa para mahmud gak tau menahu tentang isu PKI, coba hadirkan hasil pemikiran atau hasil Emak membaca dari buku yang Emak anggap berkualitas yang menulis tentang PKI. Bukan hanya dengan menyindir dan merendahkan Mamah yang membelikan sepaket buku jutaan bagi anaknya. Memangnya semua yang cemas akan bangkitnya hantu-hantu komunis lantas bisa di bilang tidak membaca buku berkualitas? Tidak begitu bukan...Apakah hanya karena para Mahmud berbeda pemahaman akan suatu isu politik atau sosial lantas di bilang mereka gak melek literasi? Tidak juga kan..
.
Yuk Mak,,,sama-sama bercermin,, Jangan-jangan kita menuduh orang lain tidak melek literasi padahal kita sendiri yang justru terkungkung dalam pemikiran kita sendiri dan tidak open minded terhadap pemikiran orang lain.
 
 
 
 
 

  • view 745