Ingin Memelukmu Sekali Lagi

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 September 2017
Perempuan Penyulam Sabar

Perempuan Penyulam Sabar


Ujian yang tak letih menghampiri, pilu yang belum bosan menyelimuti.. memaksa diri, menyulam benang-benang sabar agar hati tak terserak lalu mati.

Kategori Cerita Pendek

1.1 K
Ingin Memelukmu Sekali Lagi

Hari Pertama

Pikiranku masih sadar, namun saraf-saraf ku seolah kehilangan kekuatannya. Aku kehilangan kontrol atas separuh raga diriku sendiri. Sepasang netra yang mengerjap, indra dengar yang masih mampu menangkap dengan jelas pembicaraan yang berlangsung di ruangan ini serta senyum yang masih bisa aku sunggingkan. Semua masih mampu aku lakukan dengan sadar, namun hanya sebatas itu dan aku tak lagi kuasa menggerakkan kaki atau merasakan apapun pada separuh bagian badan yang lainnya.

“Sabar ya mbak, sebentar lagi selesai kok” terdengar suara lelaki yang sedari tadi mengajakku berbincang.

Aku hanya tersenyum lemah. Ku upayakan tetap tersadar dan merespon ucapannya meski hanya dengan senyum dan anggukan kecil. Suara gunting dan peralatan medis lain yang bergemerincing, serta perbincangan antara dokter dan perawat yang hanya terpisah tirai kecil terdengar jelas.  Jantungku berdebar makin kencang, suhu ruangan terasa amat sangat dingin. Aku menggigil. Tubuhku berguncang, terasa ada yang menekan di bagian perut atas. Agak sesak aku rasa. Aku mengeluh pelan. Lelaki yang berada disampingku sedari tadi mengelap keringat dingin di keningku. Oh, ini tentu saja bukan adegan romantis. Meski ku lirik dia tersenyum manis. Aku tak lagi mampu membalas senyumnya. Sekali lagi aku mengeluh menahan tekanan pada perut bagian atas. Tak lama terdengar tangisan suara bayi.

“Selamat bu, bayi nya laki-laki, ganteng lo, hidungnya mancung.” Lelaki itu berbisik kepadaku sambil menyuntikkan cairan ke infusku. Aku berusaha tersenyum. Sekali lagi aku merasa tubuhku berguncang diiringi suara deru seperti mesin yang sedang menyedot cairan. Aku lunglai dan mataku seolah tak bisa lagi aku buka. Perlahan suara-suara itu menghilang berganti sunyi dan diam.

...

“Mana bayiku mbak?” tanyaku kepada perawat yang kala itu memeriksa tekanan darah di lengan kiriku. Dia tersenyum.

“Iya bu, sebentar lagi akan di bawa kesini. Adek tadi biru bu, jadi masih di rawat di ruang NICU.” Suara perawat pelan menggema dihatiku. Jantungku berdebar kencang.

“Apa ada masalah dengan anak saya?” cemas aku bertanya.

“Mungkin adek kedinginan saja kok bu. Ibu tenang saja disini ya. Kalau kondisi adek sudah membaik, pasti di bawa kesini.” Senyum perawat itu masih mengembang lalu berlalu dari hadapanku.

Ku lirik jam dinding yang ada di ruangan ini. Sudah menjelang siang hari, artinya sudah berlalu 4 jam sejak proses SC berlalu. Ruangan berwarna pink ini terasa gerah dan panas. Meski Ac terlihat menyala dengan suhu yang tampak 20 derajat celcius.

....

“Adek gak bisa di bawa ke ruangan ini, Bun. Harus di inkubator.” Suara suamiku seakan menyentak-nyentak di telingaku.

“Aku mau kesana.” Pintaku

“Belum bisa, ada jadwal kunjungannya. Bunda juga kan belum bisa turun. Klo sudah bisa baru kita kesana ya.” Katanya sambil membelai kepalaku dengan lembut. Air mataku menetes jatuh. Ia mengusapnya, mencium pipiku dengan perlahan.

“Jangan menangis, adek gak papa kok. Kita berdoa ya. Bunda fokus sama pemulihan luka nya dulu.” Dia menggenggam tanganku.

Sekuat hati aku menahan sakit, berupaya menggerakkan bagian kakiku yang masih terasa kaku. Aku harus bisa turun dari tempat tidur ini untuk berjalan menemui bayiku.

Perlahan, sekuat tenaga membalikkan badan. Bukan perkara mudah. Mungkin perempuan yang pernah mengalami SC tau rasa sakitnya membalikkan badan pasca operasi. Bertahap aku mulai bisa membalikkan badan dan belajar duduk. Jangan ditanya sesakit apa, karena rasanya luar biasa. Dengan luka sayatan sepanjang 10 cm di bawah perut yang masih basah, perih nya bukan kepalang ketika harus duduk. Menegakkan punggung dan mencoba untuk tidak melakukan gerakan yang terlalu berlebihan agar sakitnya tidak bertambah.

Ketika hari sudah berganti, keinginan kuat untuk dapat menemui bayi mungilku telah membuatku mampu berjalan tepat 24 jam pasca operasi.

...

Hari Kedua

Bayi laki-laki yang berusia 24 jam itu terlihat mungil dan tampan. Wajahnya lonjong dengan hidung bangir. Tangan-tangan kecilnya tertusuk jarum infus. Alat pernafasan juga menempel di bawah hidungnya. Hatiku gerimis. Bayi sekecil itu sudah harus merasakan sakitnya jarum infus. Ingin sekali aku mendekapnya. Namun kotak kaca kecil ini menghalangi sentuhan tanganku pada raganya.

“Bu, adek masih harus dirawat. Kemaren sudah kita lakukan rontgen di bagian paru-paru nya. Saya mencurigai paru-paru adek belum berkembang yang menyebabkan oksigen tidak dapat tertangkap oleh paru-parunya. Sehingga adek membiru, itu karena kekurangan oksigen” dokter specialis anak berjas putih di hadapanku menjelaskan dengan perlahan.

Aku melangkahkan kaki meninggalkan ruangan NICU. Memasrahkan perawatan dan penjagaan anakku pada perawat yang bertugas jaga disana. Bukan hanya gundah namun juga ada getar ketakutan yang melingkupi hatiku. Tak henti berdoa, memohon agar Tuhan segera memulihkan kondisi bayi lelakiku dan aku bisa memeluk dan mencium nya.

...

Hari ketiga

Ada pedih yang tak bisa aku ungkapkan. Penjelasan dokter pagi ini meruntuhkan sendi-sendi kekuatan yang ku bangun sedari kamaren.

“Adek harus di rujuk ke rumah sakit lain bu. Lebih baik kalau bisa ke Surabaya, disana peralatannya lebih lengkap. Tapi kondisi adek takut gak kuat, Bu. Jadi kami rujuk ke rumah sakit di Kota ini saja ya. Semoga disana bisa ditangani dengan baik dan adek bisa pulih.” Suara dokter yang tak lagi bisa membendung air mataku.

Suamiku memelukku. Aku minta dia yang menemani bayi kami di dalam ambulans. Dan aku sendiri disini harus mengurus semua administrasi rumah sakit. Dengan kondisi perut yang masih sangat perih dan sakit, aku harus menyelesaikan semuanya di rumah sakit ini. Lalu nanti menyusul suami dan bayiku ke rumah sakit yang sudah di rujuk.

Oh Tuhan, sakit sekali rasanya. Bukan karena jahitan sepanjang 10 cm yang masih baru di perutku, namun kenyataan bahwa bayi yang aku lahirkan mengalami kegagalan perkembangan paru-paru. Mengingat nafas nya yang sesak dan tinggal satu per satu membuat mataku tak henti merinai dan membasah. Aku memohon keajaibanmu Tuhan, aku memohon belas kasihmu kepada kami.

...

Dan kini, aku benar-benar memeluk bayi itu dengan tanganku. Menciumi pipinya dengan sepuasnya. Mobil yang membawa kami keluar dari rumah sakit menjadi saksi bahwa aku sudah hancur. Hatiku berkeping dan tubuhku kehilangan keseimbangannya. Tapi aku masih ingin terus memeluknya, menciumnya, sebelum akhirnya aku harus merelakan bayi kecil ini dikubur berkalang tanah.

Tuhan, aku kembalikan titipanMu ini. Terima kasih telah mempercayai rahimku sebagai tempat dia tumbuh dan berkembang selama sembilan bulan. Bersyukur telah dipilih oleh Mu untuk menjadi ibunya meski hanya 3 hari.
 

  • view 443