Telaga Duka

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Agustus 2017
Perempuan Penyulam Sabar

Perempuan Penyulam Sabar


Ujian yang tak letih menghampiri, pilu yang belum bosan menyelimuti.. memaksa diri, menyulam benang-benang sabar agar hati tak terserak lalu mati.

Kategori Cerita Pendek

917
Telaga Duka

Dunia rasanya bergerak berotasi berlawanan arah dengan tangis ku. Dia tak mempedulikan hati ini yang seakan remuk redam tenggelam dalam carut marut kesedihan. Telfon baru saja ditutup, aku pun terduduk lunglai merasai tubuhku yang hilang saraf kendalinya.

 “Bapak jatuh dari tempat tidur. Kepalanya luka tapi menolak di bawa ke rumah sakit.” Tangis Kakak perempuanku yang selama ini merawat Bapak di Kampung terdengar dari seberang telfon. Teriris hati ini mendengar isak tangisnya.

“Duh Bapak, maafin aku yang tidak bisa ada di sana saat ini.” Jeritku tertahan, membayangkan seorang lelaki berusia 84 tahun dengan keriput di wajah yang meringis menahan sakit. Lelaki bermata teduh yang selalu memelukku ketika aku terserang kalut dan bimbang. Diusia senja kini, seharusnya aku mampu memberinya kebahagiaan. Melihatnya bersenda gurau bermain dengan kedua anak lelaki ku. Namun nyatanya, bentangan jarak 1000 Km membuat jemariku sulit menjangkaunya.

Bagaimana mugkin aku ada pada dua tempat berbeda. Dikota ini, aku harus sendiri merawat kakak pertamaku yang terbaring sekarat digerogoti penyakit kankernya. Sedangkan di tanah kelahiranku, ada Bapak yang juga terkulai lemah dengan penyakit yang juga parah. Tuhan, sungguh ujianmu berat untuk ku panggul sendiri. Maka aku mengharap kekuatanMu agar terasa ringan semua ini di pundakku. Meski kini, sudah satu minggu diri ini tak datang mengunjungi Kakak ku. Masih lekat terbayang dipelupuk mata segala caci maki nya kepada Ibu dan Bapak.

“Aku menyesal dilahirkan di keluarga seperti kalian. Kalian tidak pernah bisa mengerti dan mendukung keinginanku.” Suara keras kakak lelaki ku membelah dadaku. Penyakit kanker akut ternyata tak mampu membuatnya berpikir dan membuka hati.

“Ibu tidak pernah menyayangi aku, liat hidupku sekarang..semua gara-gara kalian.” Nafas lelaki yang ku sebut Kakak itu tersengal, membuat selang oksigen pada hidungnya terlepas. Aku masih membeku di sudut kamar, menahan amarah yang membuncah seolah terasa memecahkan saraf sadarku.

“Istiqfar mas, istiqfar. Semua ini bukan salah Bapak Ibu. Kenapa mas tidak mau fokus untuk kesembuhan penyakitnya. Banyak berdoa, bertaubat mas..” Suaraku serak menahan derai air mata yang bercucuran membilas hatiku yang menganga oleh luka.

“Aaaarrrggh... pergi kamu, pergi.. Aku muak melihat mukamu, ngakunya adik tapi gak mau nolong kakak nya yang sekarang sekarat.” Kakakku tak bisa mengendalikan amarahnya. Lontaran kata-kata itu telah sempurna membuat hatiku patah.

Aku beranjak pergi dengan langkah bergegas. Ku susuri lorong ruang ICU dengan jiwa lelah dan hancur berderak. Air mata yang sedari tadi berderai menambah perih luka hati di dada. Duh mas, sudah berkaratkah hatimu? Jika ujian sakit seperti ini saja tak mampu membuatmu mengingat dosa-dosa mu, lalu bagaimana lagi cara Tuhan membuatmu melemah?

Aku menarik nafas dalam. Hari ini adalah hari ke empat aku tak mengunjungi Kakak lelakiku di ruang ICU sejak kejadian sore lalu yang membuat hatiku tak lagi mampu bertahan dalam lelah. Aku menoleh ke arah kedua anak laki-laki ku yang sedang bermain di ruang tengah. Sering aku harus meninggalkan mereka demi merawat kakakku, menempuh puluhan kilometer dan kemacetan kota yang terkadang membuat jengah. Atas nama pengabdian seorang adik, enggan aku berkeluh kesah.

Ah, pengabdian... ya aku sebut ini pengabdian. Bukan hanya kali ini, ketika dia lemah dalam sakit. Kejadian masa silam lalu terlintas dalam benak, bagai slide film yang menayangkan ribuan kepedihan.

Masa ku ingat bagaimana aku harus menghabiskan masa kuliahku dengan tinggal bersama Kakak dan keluarganya. Selain mengirit biaya kost, Ibu ingin aku tetap terpantau dan tidak terjebak arus pergaulan ibukota. Aku menurut saja kala itu, karena bagiku tinggal bersama Kakakku adalah pilihan yang baik.

Kehidupan tak selalu memberi kita madu, nyatanya bratawali hidup jelas tersaji untuk dinikmati. Hari-hariku di rumah itu tak lantas menjadikanku adik bungsu yang manja. Aku harus membantu kakak iparku membereskan pekerjaan rumah tangga. Mulai dari mencuci pakaian, menyetrika hingga menjaga anak lelaki mereka yang kala itu masih berusia dua tahun. Tidak ada agenda bermain bersama teman selepas kuliah, karena aku harus secepatnya tiba dirumah demi menemani ponakanku yang masih lucu-lucu nya itu. Mendengar kakakku marah atau mengatakan hal yang kasar menjadi bagian yang harus ku telan hampir setiap hari. Ku luaskan hati untuk berpikir bahwa semua ini ia lakukan untuk menjadikanku perempuan mandiri dan kuat.

Namun ternyata, kepahitan itu tak berhenti hanya sampai disana. Bahkan ketika aku sudah menikah dan tinggal terpisah, ia tak juga henti menghinakan dan memberikan ku makian kasarnya. Dan Kakakku adalah tema paling sering penyebab pertengkaran antara aku dan suamiku. Duh gusti, sampai kapan ujian ini berakhir? Tak usah berhitung perihal finansial karena sudah berderet panjang uang yang harus ku keluarkan untuk Kakakku. Atas nama pengabdian, aku memberinya dengan hati terbuka. Namun nyatanya, jiwanya telah sangat berkarat hingga tak sedikitpun ia menghargai semua itu.

Tuhan,,,pada sisa kekuatan dan kesabaran yang masih bisa ku peluk, aku mohon bukalah pintu hati Kakakku..karena kami, keluarganya telah sangat lelah selalu mengalah dan dipersalahkan atas semua hal tak baik yang menimpanya.

Ku teguhkan hatiku untuk kembali menelfon Kakak perempuanku di tanah kelahiran nun jauh disana.

“Mbak, besok aku pulang ya. Aku ingin sekali memeluk Bapak. Karena aku butuh kekuatan lebih untuk kembali datang ke ICU merawat mas. Aku butuh pelukan Ibu dan Bapak.” Terisak aku mengabarkan Kakak perempuan di ujung sana.

  • view 79