Merindui mu, Ayah..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Agustus 2017
Merindui mu, Ayah..

“Bu, besok hari Ayah. Kata bu guru, besok ada kegiatan bersama Ayah. Ni undangannya.” Kayla menyodorkan selembar undangan ke arah ku. Aku menyandarkan kepala pada bantalan sofa merah yang ada di ruang tengah. Membaca undangan itu membuat rasa nyeri tiba-tiba mendentum hati ini.

“Bu, kenapa sih Ayah gak pulang-pulang? Apa Ayah sudah gak sayang sama kita?” suara Kayla terdengar semakin memporak porandakan ritme hentakan pada jantungku. Aku menarik nafas panjang, menoleh ke arah gadis kecil berusia 9 tahun yang duduk tak jauh dari tempat aku menselonjorkan kaki.

“Ayah sedang bekerja, dik. Kalau sudah selesai bekerja nya, pasti pulang dan menemui adik Kayla.” Ku tata nada suaraku memberikan sedikit ketenangan kepadanya. Meski mungkin gadis kecil ini sudah bosan dengan kalimat jawabanku yang selalu sama setiap kali dia bertanya perihal Ayah.

“Jadi, besok Kayla gak bisa mengikuti kegiatan itu? Kan gak ada Ayah.” Matanya mulai terlihat mengembun dengan raut wajah yang sama sekali tak tersentuh senyum. Aku menghampiri dan memeluknya, menciumi rambut panjang miliknya.

“Besok Ibu temui bu guru ya, Ibu yang akan temani Kayla. Atau kita sewa aja yuk Ayah lain.” Kataku menggodanya untuk memancing tawa ceria Kayla. Dia menggeleng perlahan.

“Kayla gak mau Ayah sewaan yang cuma sehari. Kayla mau ayah yang bisa diajak main, nemenin belajar, ngajak jalan-jalan, nganter sekolah, beliin makanan. Kayla mau Ayah beneran Ibu.” Katanya merajuk menarik-narik lengan bajuku.

“Iya, nanti Ibu sewain Ayah gak cuma sehari. Mau berapa, sebulan?” Kataku berkedip menggodanya. Aku melihat wajahnya tersenyum geli, lalu dia menelusupkan wajahnya kedalam pelukanku. Oh Tuhan, Kayla menangis. Aku mendekapnya erat, menata hatiku yang mulai mengombak. Ada selaksa embun yang lantas merinai dari sudut mata ini. Buru-buru aku mengusapnya, Kayla tak boleh melihat ibu nya lemah.

“Sayang, mau gak besok pulang sekolah temenin Ibu ke toko buku. Rasanya lama ya gak beli buku. Kebetulan besok kan Sabtu, Ibu libur kerja. Jadi setelah kegiatan di sekolah, kita langsung hunting buku yuk.” Aku melepaskan pelukan pada kayla dan mencoba memancing senyum mungil nya. Gadis bermata bulat itu mengangguk pelan.

“Sekarang, anak manis nya Ibu ngerjakan PR dulu ya. Belajar. Lalu bobok.” Ku usap kepalanya dengan lembut, Kayla mengangguk dan beranjak berlalu meninggalkan ku di ruang tengah.

Aku memejamkan mata, ku biarkan gerimis tangis berlarian menuruni ceruk pipi ini. Tak mampu lagi ku seimbangkan nada denyut jantung ini dengan gemuruh di dada yang tak tentu iramanya. Aku tidak bisa membayangkan terluka nya kayla mengetahui bahwa Ayah dan Ibu nya sedang dalam proses perceraian. Tak ku temukan cara untuk memberi tahu kepadanya tentang semua ini.

Kenangan puluhan tahun lalu membayang di pelupuk mataku. Pertengkaran yang masih lekat dalam ingatan. Aku terpuruk lunglai di balik pintu kamar, mendekap kedua lututku membulirkan banyak air mata diantara beku suaraku. Aku hanya sanggup mendengarkan pertengkaran Ayah dan ibu malam itu. Usia ku kala itu 17 tahun, genap ketika aku menapak masa remaja putih abu-abu. Dan aku sangat mengerti bahwa keutuhan keluargaku sedang dirundung ujian perpisahan. Tubuhku menggigil menahan takut dan deraan rasa kecewa yang entah aku tujukan pada siapa. Terpisah dari salah satu atau keduanya pasti akan sangat berat bagiku. Meski kenyataannya, sosok Ayah tidak selalu menjadi bagian cerita hari-hariku. Ada jarak yang seolah tak bisa aku singkap antara diri ini dan dirinya. Ayah bukan sosok yang galak atau harus aku takuti. Namun entah, kami jarang sekali memiliki momen bersama. Ayah terlalu sibuk di luar rumah dan Ibu seakan tak perduli apakah hari ini Ayah akan pulang atau tidak.

Dan semua seakan berjalan sangat buram. Masa remaja yang aku lewati tanpa sepenuhnya bisa merasakan kehangatan sosok Ayah. Bukan sekali atau dua kali, aku menginginkan Ayah untuk menemaniku melalui sebuah kenangan atau bahkan kesulitan. Seakan pungguk merindukan bulan, atas nama kemandirian, Ayah selalu membiarkanku berjalan tanpa mengenggam. Rindu bukan kepalang, meski sosok nya selalu hadir di hadapan namun pelukannya hanya sebatas menjadi hayalan.

Dan kini, aku telah dengan tega menempatkan Kayla pada suatu ruang yang akan menggerogoti jiwanya dengan kerinduan akan sosok seorang Ayah. Aku menarik nafas panjang, berusaha melepaskan sesak pada rongga dada yang sedari tadi mencekik denyut nadiku. Aku bagai pesakitan yang terkapar lemah dan menunggu sang pencabut nyawa menarik ruh ku. Pertanyaan yang terus berdebam merontokkan nyali dan kekuatanku. Bagaimana cara ku menjelaskan kepada Kayla bahwa Ayah dan Ibu nya akan berpisah?

“Kayla harus ikut aku” kata suamiku malam itu. Malam disaat kami telah bulat memutuskan untuk menyudahi semua kemelut dalam mahligai pernikahan ini.

“Kayla masih kecil mas, biar aku merawatnya. Aku tidak akan menghalangi seandainya mas ingin menemui Kayla kapan saja.” Aku terbata mencoba melunakkan hati suamiku. Lelaki itu membuang muka, mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar.

“Aku tidak percaya akan pola pengasuhanmu. Biar dia ikut aku saja. Jangan paksa aku merebutnya dalam persidangan.” Ungkapnya tanpa sedikitpun menoleh kearahku.

“Beri aku waktu sampai Kayla lulus SD mas. Kita tidak boleh egois.” Aku memohon untuk merelakan Kayla dalam pengasuhanku sampai ia cukup usia untuk menerima kenyataan harus terpisah dari ibunya.

“Kamu yang egois. Kamu tau rasanya merindukan sosok seorang ayah. Kenapa kamu harus memisahkan aku dan Kayla.” Suara nya meninggi terarah kepadaku.

“Sudah mas cukup, semua sudah kita bahas. Aku tidak meminta apapun, hanya Kayla dan hanya sampai dia lulus SD. Bawa semua yang mas inginkan. Tapi jangan Kayla.” Aku menahan buliran pedih yang menyeruak akan tumpah. Lelaki itu bergeming dan tidak membuka suara. Kami terdiam beberapa lama.

“Mulai malam ini aku akan pergi, aku juga tidak akan datang ke persidangan kita. Aku akan datang ketika Kayla sudah lulus SD. “ Lelaki yang sudah 10 tahun menjadi suamiku beranjak dari duduk nya. Menyiapkan beberapa barang dan memasukkannya ke dalam tas berukuran cukup besar.

Malam itu, menjadi hari terakhir aku melihat sosok laki-laki yang ku harapkan mampu menjadi pemimpin dan imam dalam hidupku. Lelaki yang ku harapkan mampu menggantikan peran seorang Ayah yang selalu tegar menjaga dan melindungi serta melakukan segala macam cara untuk kebahagiaan ku dan Kayla. Dan nyatanya, aku kecewa. Kerinduanku akan sosok seorang Ayah tak pernah bisa berujung temu. Kini, aku dengan egoisnya telah menyuguhkan jalan rindu yang amat panjang bagi Kayla. Rindu akan dekapan seorang Ayah. Oh Tuhan, ampuni jiwa ini yang tidak kuasa memberikan kebahagiaan yang utuh kepada gadis kecil yang kau titipkan kepada kami.
 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    3 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Desy Febrianti memang paling jago menulis fiksi yang sanggup memunculkan gejolak emosi pembacanya. Kali ini tentang si kecil Kayla yang merindukan ayahnya untuk datang ke sekolah. Si bocah polos ini tidak tahu bahwa ayah dan ibunya sedang dalam proses perceraian. Cerita ini mungkin sudah bukan hal yang asing lagi di zaman sekarang. Yang unik di sini di bagian akhir dimana sang ibu meletakkan putrinya di posisinya dulu, yang sangat merindukan kehadiran ayahnya. Kayla pun merasakannya. Tetapi bisa dimaklumi setiap ibu pasti ingin lebih dekat dengan anaknya meski tanpa ayah sekali pun.

    Tulisan-tulisan Desy selalu khas dengan banyak potongan adegan dan dialog seperlunya. Dominasi penggambaran dan kilas balik yang ia masukkan makin membuat kesedihanKayla dapat dirasakan oleh pembaca. Kerja yang bagus, Desy!

  • Anis 
    Anis 
    3 bulan yang lalu.
    membaca tulisan mbak Desy selalu terbayang kalau ini kisah nyata.
    apalagi didukung thumbnail foto pribadi

    • Lihat 1 Respon