Pesan Untuk Partner Ibadahku..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Agustus 2017
Pesan Untuk Partner Ibadahku..

Jemariku masih menari di atas layar hp yang menyala. Pancaran cahayanya membuat pasang netraku mulai kelelahan tapi tak jua cukup membuatnya ingin terpejam. Sekilas terbaca jam menunjukkan angka 23.15 pada sudut layar berukuran 6 x 12 cm itu. Ku perbaiki letak sandaran kepalaku pada bantal empuk berwarna ungu ini.

Hatiku berdesir halus, sudut bibirku tertarik membentuk seulas senyum membaca status seseorang pada medsosnya. Beberapa hari terakhir aku memang suka sekali membuka profilnya, sekedar mampir untuk melihat cerita apa hari ini yang dia bagi. Seorang perempuan cantik, dengan dua orang belahan hatinya yang di peluk mesra seorang laki-laki berwajah teduh. Bahagia sekali melihat mereka dalam bingkai mahligai sebuah keluarga sempurna.

Ku tata hatiku, ada gerimis menderu disana yang meluruh membasahi tiap jengkal retak bagiannya. Ada sesak yang lantas mendekap rongga paru-paruku, memaksanya mengempis dan menjadikanku manusia yang kekurangan oksigen. Tanganku kehilangan kekuatannya untuk menggenggam dan android itu pun tergeletak begitu saja. Ku tarik nafas perlahan, mencari kekuatan baru untuk mengerjap dan mengisi paru-paruku.

Aku tidak mengenal dekat perempuan itu, tidak juga suaminya. Kami hanya berteman lewat dunia maya. Tapi aku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh dan ku upayakan segala cara untuk mengetahui kehidupan mereka. Dan mengamati dia, seakan menjadi candu bagiku selama beberapa bulan ini. Dia perempuan yang bersahaja, seorang ibu yang sangat menomer satukan keluarga. Tidak sedikitpun aku melihat dia sibuk dengan urusan lain selain mengurus anak dan rumah nya. Satu-satunya aktivitas diluar rumah yang terlihat hanya pengajian atau acara bersama keluarga besarnya. Tipe perempuan rumahan yang baik, lembut dengan dikelilingi teman yang juga baik.

Dan suaminya, nampak nya juga sama. Tidak terlalu aktif di media sosial, hanya sesekali menampilkan status tentang kebahagiaan keluarga mereka atau kegiatan pekerjaan dan usahanya. Seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab dan pemimpin yang baik, terlihat dari cara istrinya serta beberapa rekan nya mengomentari postingannya.

Aku memejamkan sepasang kelopak mata yang mulai kelelahan. Menarik nafas perlahan dan ku kumpulkan kekuatan untuk kembali meraih hp yang tergeletak beberapa jenak. Ku tarik nafas panjang, mencoba mengisi penuh rongga paru-paruku. Malam sudah semakin larut dengan sepi yang meraja menyanding gemintang dan rembulan yang saling bercumbu mesra di langit yang pekat.

“Assalamualaikum, selamat malam mbak.. maaf atas keberanianku mengirim pesan ini kepadamu. Namaku Sahira, aku perempuan berumur 35 tahun, belum pernah menikah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta sebagai general manager, insya Allah pendapatan ku cukup untuk membiayai hidupku sehari-hari. Selain itu, aku punya beberapa anak asuh yang aku bantu biaya pendidikannya. Aku juga aktif dalam kegiatan pengajian dan masjid di dekat kompleks perumahanku. Orang yang bersahabat dan ceria, meski beberapa orang mengatakan bahwa aku sedikit tertutup untuk urusan pribadi. Bolehkah kita berteman, mbak? Secara nyata maksudku, karena kita sudah berteman di fb sejak setahun yang lalu.”

Ku rangkai kalimat itu perlahan, jemari ini menekan tombol kirim dengan penuh keyakinan. Ku ambil jeda sejenak, menarik nafas panjang dan lalu melanjutkan menulis pesan kepada perempuan itu.

“Mbak, dengan segala kerendahan hatiku..mau kah engkau berpartner menyulam kebaikan dan keikhlasan bersamaku? Maukah engkau mengajari dan membantuku menjadi seorang perempuan yang penuh ketaatan dan pengabdian kepada suamimu? Maukah engkau memberiku kesempatan untuk sama-sama merasakan kesempurnaan menggenapkan separuh agamaku dan menjadi makmum dari imam mu? Maukah engkau membujuk suamimu untuk menikahi ku? Aku bersedia menjadi temanmu dalam mengabdi kepada lelaki yang menjadi suamimu kini..”

Aku menahan nafasku sejenak, menahan rintik airmata yang mulai meluruh. Tuhan, semoga ini menjadi jalan bagiku menggenapi separuh agamaku.

“Dengan segenap ketulusan hatiku mbak, aku memohon keikhlasanmu...pesan ini juga sebagai ungkapan ku untuk melamar suamimu menjadi suamiku. Semoga Allah memberimu keterbukaan hati untuk membantu sesamamu..karena sudah sekian lama aku berdoa kepadaNya untuk memberiku seorang imam, dan ku pilih engkau sebagai perantaranya. Wassalamualaikum”

Ku akhiri pesan itu, ku seka air mata yang sedari tadi menuruni ceruk pipiku. Aku sudah melamar seorang laki-laki, yang aku yakini baik dan mampu menjadi imam bagiku dan anak-anakku kelak. Keyakinan yang ku peroleh hanya berdasar persepsi positif yang selalu di tampilkan seorang perempuan di laman media sosial nya, perempuan yang menyandang gelar istri dari lelaki tersebut.

Jika ini adalah jalan yang Engkau tunjukkan, semoga diberi kemudahan dan kesempurnaan. Aku percaya, jodoh adalah takdir yang di upayakan. Telah ku upayakan menjemput takdir Mu Tuhan, perkenankan dan kabulkan. Karena aku sudah sangat merindu untuk dapat bergelayut manja kepada dia yang terpilih menjadi imam dan pendamping hidup ku. Semoga kesabaranku selama ini menjalani takdir Mu dalam sendiri, berbuah kebahagiaan. Tidak mudah menjalani kesendirian dengan menjaga kehormatan. Godaan selalu saja datang mendera. Cemoohan juga tak pernah lelah menerjang logika. Jodoh yang tak kunjung tiba menjadi airmata dalam sujud malamku. Dan kini, Tuhan membalikkan hatiku untuk memiliki keberanian memilih seorang perempuan yang ku anggap bisa menjadi teman ibadahku. Aku tidak bermaksud merebut kebahagiaan perempuan itu, justru aku ingin membantunya menggenapi pengabdiannya kepada suaminya.

  • view 135