Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 9 Agustus 2017   09:32 WIB
7. Hai...

Aku masih memegang kertas itu dengan seksama. Rasanya telah ku lahap setiap untaian kata disana berulang kali bahkan mungkin ratusan kali, tiada bosan namun tetap tiada keyakinan. Aku melangkahkan kaki menuju jendela kayu pada sisi sebelah kanan kamar ini. Jemari yang langsung terasa dingin menapaki bagian-bagian ubin berwarna teracota. Angin bulan juli lembut membelai kulitku yang belum terbasuh air sedari tadi. Ah iya, beberapa jenak membuka mata aku sudah langsung membaca tulisan pada kertas itu lagi dan belum ingin mencuci muka.

Seharusnya surat ini sudah berpindah tangan. Dan kamu, adalah orang yang ku harap akan mencerna setiap diksi padanya yang sudah ku tata sedemikian rupa. Tau kah kau, bahwa merangkai kalimat pada kertas berwarna biru muda ini sungguh tak mudah. Bagaimana akan menjadi mudah, jika ada pertarungan antara logika dan hati yang tak sejalan. Dan kamu, menjadi bagian yang sangat menyulitkan bagiku untuk memenangkan salah satu di antaranya.

“Hai,,taukah kamu, bahwa dunia menunggu senyummu.
Hai,,sadarkah kamu, bahwa hadirmu sungguh berarti.
Hai,,mengertikah kamu, bahwa aku merindukanmu.”

Hanya tiga baris kalimat sederhana, sangat sederhana malah. Tidak ada pilihan diksi yang terangkai mempesona. Tidak ada untaian kalimat indah melenakan. Pada bagian ini, aku setuju bahwa kegugupanku mengetahui dirimu yang berlarian di sudut-sudut ingatanku membuat kemampuanku merangkai kalimat puitis lenyap tak bersisa. Dan perlu dicatat, bahwa tiga kalimat itu yang akhirnya terukir disana setelah berulang kali ku rangkai kalimat lain namun kembali ku buang dengan kesal.

Aku menghirup udara pagi, serentak rongga paru-paru ku terisi dengan sejuknya. Ku intip rembulan yang masih letih setelah semalaman menemani bintang. Auranya kusam dan tak lagi berpijar. Ah iya, sang raksasa siang sudah menguasai cakrawala dan menutup pendar sinar sang rembulan. Demikian pun diriku, yang masih belum mampu mengalahkan rasa ragu ku untuk mengirimkan surat itu kepadamu.

“Dan kau hadir merubah segalanya, menjadi lebih indah..” suara Adera menyenandungkan lagu Lebih indah terdengar dari hp ku yang berdering menampilkan namamu. Bagian yang paling aku suka saat kamu menelfonku adalah profil picture kontakmu yang menampilkan foto kita berdua dengan senyum lepas. Ku lirik jam tanganku, jam 9 pagi. Tanpa menunggu Adera bersenandung lebih lama, ku raih hp itu dan terdengar renyah suaramu dari seberang.

Ah, sesimple ini. Rasanya tak perlu lagi aku menulis surat itu kepadamu. Aku hanya tak sabar menunggu kabarmu di setiap waktuku. Iya benar sekali, aku terlalu mencemaskanmu. Oh bukan, aku selalu merindukan mu lebih tepatnya.

Karya : desy febrianti