Oase Bahagia

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Juli 2017
Perempuan Penyulam Sabar

Perempuan Penyulam Sabar


Ujian yang tak letih menghampiri, pilu yang belum bosan menyelimuti.. memaksa diri, menyulam benang-benang sabar agar hati tak terserak lalu mati.

Kategori Cerita Pendek

912
Oase Bahagia

Tanah itu masih basah, begitupun kedua kelopak mata ini yang tak lelah mengurai rinai lara. Aku masih bersimpuh didepan pusara ini. Sementara tapak-tapak kaki pengantar jenazah mulai melangkah pulang. Ayah meraih kedua bahuku, mencoba menguatkan dan menegarkan hati ini. Jiwa yang terasa berkecamuk berkali mencoba bangun berharap semua hanyalah bunga rampai tidur. Namun nyatanya, tanah merah di depanku bukan sekedar mimpi. Jemari tanganku mampu merabanya dengan jelas. Semerbak wangi melati yang menyeruak memantik saraf otakku untuk segera sadar bahwa semua adalah realita.

Tuhan, mengapa kau memanggilnya begitu cepat? Boleh kah aku meggugat Mu Duhai Zat Maha Pengasih? Kemana aku hendak mencari jawab atas pusara tanya yang mengiris segenap relung hati?

Lelaki, yang baru dua bulan ku sebut suami, kini tlah menghadap ilahi. Ku tinggalkan tanah basah itu dengan langkah tertatih. Tangan kokoh Ayah memapah jiwa yang kehilangan simpul simpul kekuatannya. Aku masih tidak percaya, lelaki yang kemarin pagi mencium keningku dengan kasih kini telah terbaring dalam timbunan tanah itu. Wangi tubuh dan lembut sentuhannya masih terekam jelas dalam memori di kepala. Seulas senyum dan pandang teduh kedua netra itu masih terlukis di pelupuk mataku dengan jelas.

Seperti biasa, pagi ini dia mengantarku ke kantor. Sebelum turun, dia memeluk tubuhku erat, mengecup keningku dan membelai pipi ini dengan lembut. Aktivitas rutin yang selalu dia lakukan setiap hari. Tidak ada tanda-tanda yang berbeda, sekedar salam perpisahan atau apapun. Semua berjalan seperti biasanya. Selalu melepasku dengan mesra, apalagi kami baru satu bulan menikah. Rasanya sepanjang hari diselimuti cinta dan kerinduan.

Menit dan jam berlalu. Hingga waktu pulang sore hari tiba. Beberapa pekerjaan di kantor memaksaku untuk pulang telat. Aku mengabari suamiku, berbincang singkat lewat chat.

“Mas, aku pulang telat ya. Ada meeting. Jam 8 aku pulang.” Ketikku di layar handphone dengan sedikit terburu-buru karena masih harus bersiap rapat 30 menit lagi.

“Iya, Sayang. Aku sudah di rumah. Kepalaku agak pusing.” Diapun menjawab singkat. Aku menarik nafas perlahan. Beberapa hari ini dia memang mengeluh pusing, tapi tidak parah karena datangnya hanya sesekali. Tidur sebentar sudah mampu mengusir rasa sakitnya.

“Istrahat dulu mas. Nanti aku belikan mie goreng kesukaanmu.” Balasku segera sambil bergegas ke ruang rapat.

“Terima kasih sayang. Jaga diri baik-baik. Jangan tinggalkan solat ya.” Pesan balasan yang terbaca di layar handphone ku. Aku meletakkan handphone di meja dan mulai mengikuti agenda meeting.

Dua jam kemudian, meeting pun selesai. Aku bergegas keluar ruangan dan berkemas merapikan meja kerjaku. Langkahku sedikit aku percepat, mendahului beberapa rekan kerjaku yang lain. Setelah menaiki taksi, aku menuju ke tempat penjual mi goreng langganan suamiku yang letaknya tak jauh dari perumahan kami. Jalanan yang sedikit lengang mengantarkan kami tiba di warung gerobak Pak Sholeh setelah perjalan 30 menit berselang. Antrian pun tidak terlalu ramai, Pak Sholeh menyiapkan mie dengan cepat. Dan taksi pun segera bergerak menuju rumah yang baru satu bulan ini kami tinggali.

Aku membuka pintu pagar rumahku setelah panggilan salam sebanyak 3 kali tak berjawab. Mungkin suamiku tertidur pikirku, bukankah tadi dia mengeluh pusing. Aku melangkahkan kaki melewati garasi dan menuju pintu samping. Membuka pintu samping yang langsung mengarah ke ruang tengah dengan menggunakan kunci cadangan yang aku punya. Ku lihat suamiku terbaring di sofa dengan tangan memeluk buku yang baru ia beli weekend kemarin.

Ucapan salamku pun masih tak berjawab. Sekilas ku lihat suamiku masih terlelap dalam tidurnya. Aku menuju dapur, mengambil segelas air putih untuk menyegarkan tenggorokanku yang sedari tadi kering. Ku letakkan segelas air putih hangat di meja yang terletak di samping sofa ruang tengah. Ku pindahkan buku yang sedari tadi dia dekap. Ku cium kening suamiku. Terasa dingin kulitnya. Ku genggam tangannya, sekali lagi aku mendapati tangannya terasa dingin kaku.

Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalari hatiku. Sedikit panik, ku bangunkan lelaki yang tepat 60 hari yang lalu menjabat erat tangan ayah ku dalam khidmat ijab qobul. Dia bergeming. Kedua tangan yang sedari tadi memeluk buku kemudian terkulai lemas ke arah lantai. Rasanya jantungku mencolos dari dada ini. Detaknya tak lagi teratur. Ku guncang bahu suamiku dengan keras, berkali ku panggil namanya namun ia masih terbujur kaku. Ku raba dadanya tak kudapati ada detak disana. Aku mulai panik.

Sendi-sendi kaki dan tanganku seperti kehilangan tenaga untuk bergerak. Otakku tiba-tiba saja buntu. Mulutku masih tak mampu mengeluarkan sepatah kata meski hanya ucapan permintaan tolong. Aku bingung, antara sadar dan tidak. Ku tata ragaku agar tak jatuh. Aku harus tenang.

Cepat ku raih handphone dari dalam tas putih itu.

“Ma, tolong ma. Mas Yuda ma. Ma..”suaraku tercekat isak tertahan. Air mata tak mampu lagi terbendung dari pelupuk mataku. Handphone ku lalu terlepas dari tanganku. Tak menunggu lama, mama dan papaku muncul dari balik pintu. Rumah mama dan papa hanya berjarak beberapa rumah dari tempat tinggalku.

“Ya Allah, Farah. Kenapa dengan Yuda.” Teriak mama panik dan membuatku semakin gugup. Aku tak sanggup menjawab. Aku masih terdiam bisu di samping tubuh mas Yuda yang dingin. Papa merabai denyut nadi lelaki yang ku cintai itu. Papa tak berkata apapun. Dia hanya melangkah keluar dan mulai menelfon keluargaku yang lain. Setelah itu, dunia seakan lambat berputar dan tanpa suara. Kepalaku menjadi pening dan mata ini berkunang-kunang. Beberapa detik kemudian menjadi gelap dan sunyi.

Entah berapa kali sudah aku kehilangan kesadaran atas raga ini. Mama erat memeluk tubuhku, memberiku beberapa aroma terapi untuk memantik sarafku agar tetap tersadar.

Aku kehilangan orang yang ku cintai lagi Tuhan..aku kehilangan lagi. Lelaki yang baru dua bulan menjadi imamku telah meninggalkan dunia ini. Kehilangan orang yang menjadi tuampuan hati untuk yang kedua kalinya, setelah tiga tahun yang lalu kejadian itu terjadi. Lelaki yang namanya tercetak dalam undangan pernikahan bersanding dengan namaku tanpa ku tahu memutuskan pertunangan kami tepat satu minggu sebelum pernikahan itu di gelar. Tak ada penjelasan ataupun permintaan maaf darinya yang tiba-tiba saja pindah ke luar negri untuk bersekolah. Duh, rasanya saat itu dunia runtuh seketika. Malu yang tak tertanggungkan, menjadikan tahun-tahun setelahnya berlalu dengan rasa berat. Dan kini, setelah aku berjuang membangun kembali kepercayaan diriku untuk mengenal lelaki lain. Tuhan kembali mengujiku dengan memanggilnya tepat di hari ke 60 dia menjadi suamiku.

Aku kembali terisak. Rinai lara itu deras tak terbendung. Mama mendekap tubuhku yang kehilangan kendali nya. Tuhan, jika semua ini adalah ujian darimu...maka bantulah aku menyulam kesabaran dan keikhlasan untuk melepasnya pergi. Beri aku kekuatan untuk merajut kepingan hati yang kembali terserak karena ditinggalkan yang tercinta.

  • view 131