Tuhan, jagakan dia

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Juli 2017
Tuhan, jagakan dia

Angin meniup lembut anak rambutnya. Lelaki itu masih memandang hamparan sawah di hadapannya dengan tatapan luas. Ia menarik nafas lebih banyak, seakan ingin mengisi penuh paru-paru nya dengan udara segar pagi ini. Mendung yang menggelayut manja pada cakrawala mengurangi dominasi panas sang mentari yang sudah naik sepenggala.

Aku masih menatap lelaki itu dengan pandang yang tak bisa lepas. Ku amati detail lekuk wajahnya dengan rasa berbunga. Merdu suara music instrumental dari audio mobil terdengar lamat-lamat memanjakan telinga. Menambah kesyahduan pagi ini dengan sempurna. Aku memeluk tubuh lelaki disampingku dengan perasaan bahagia.

Air mata tak terasa mengembang di sudut kedua bola mataku. Perasaan syukur yang membuncah mengundang telaga haru yang bersegera meluruh. Ia menggenggam erat tanganku, menautkan jari jemari kami seakan tak ingin melepaskannya kembali.

“Terima kasih, atas semuanya. Maaf selama ini aku sering mengecewakanmu.” Aku mencoba memecah keheningan diantara kami.

“Tidak ada yang perlu di maafkan. Justru kejadian ini, membuatku sadar bahwa aku belum bisa membuatmu bahagia. Aku menyesal telah menyia-nyiakanmu selama ini.” Lelaki bermata teduh itu memelukku erat.

Aku menyandarkan kepala ini pada dadanya. Mendengarkan detak jantunug itu yang teratur menenangkan jiwa. Telaga haru itu menetes perlahan, membasahi ceruk pipiku. Perasaan yang sulit aku ungkapkan. Bahagia, syukur, menyesal dan sedih bercampur aduk menyeruak dari dalam hati. Kelebatan kisah salah yang ku lakukan bagai slide tersaji di benak. Dan kini, lelaki itu memaafkanku sepenuhnya. Atas semua kesalahanku, atas sikap kasarku, atas kebohonganku, atas sikap acuhku padanya, atas semua pengabaian yang telah aku lakukan. Kesalahan yang bertubi kulakukan hanya untuk menunjukkan bahwa aku tak bahagia bersamanya.

Terima kasih Tuhan, untaian peristiwa dan masa tersulam menjadi sebuah pembelajaran baru bagi kami. Tapak demi tapak jalan takdir yang tersaji telah mampu kami lewati. Badai masalah yang datang mendera dan sempat meluluh lantakkan semua keyakinan yang ada, kini menghadirkan pelangi. Aku yang pernah tersesat arah kini telah kembali pulang. Dengan doa yang dia lantunkan di sujud panjangnya menuntunku kembali datang. Menemukan rumah tempat kami selalu menjalani hari berdua.

Terukir janji di hati, bahwa aku akan menjadikan lelaki itu satu-satunya cinta yang menjadi tumpuan jiwa. Terpatri harap di jiwa, bahwa Tuhan akan menguatkan hati ini untuk selalu membersamainya dalam suka dan duka. Ku benamkan sejuta lara dan kecewa atas sebuah asa yang mungkin tidak bisa ia wujudkan. Tak apalah, toh senyatanya tak ada manusia sempurna.

Tuhan, bantu aku mencintainya dengan baik. Menghormatinya dengan sempurna, melayaninya dengan segenap rasa.

Tuhan, syukur tiada terkira atas hadirnya dia dalam hidupku. Atas nikmat kasih yang tiada berkesudahan. Atas anugerah sayang yang tak lekang. Jagakan dia untukku, karena aku mau seluruh hidupku tetap bersamanya.

  • view 143