Pelangi Sore

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juli 2017
Perempuan Penyulam Sabar

Perempuan Penyulam Sabar


Ujian yang tak letih menghampiri, pilu yang belum bosan menyelimuti.. memaksa diri, menyulam benang-benang sabar agar hati tak terserak lalu mati.

Kategori Cerita Pendek

874
Pelangi Sore

Tanganku gemetar seperti buyutan, otak ini seolah kehilangan kendali atas gerakan-gerakan yang dilakukan oleh saraf jari jemari. Selembar kertas yang terpegang berasa sangat berat. Aku menatap perempuan di hadapanku dengan pandangan penuh tanda tanya. Dia masih larut dalam isak. Letak kerudung hitamnya tak lagi simetris, namun masih mampu membingkai wajah bulatnya dengan indah. Sepasang netra itu sembab berbalut duka dengan genangan air mata yang tak bisa lagi terbendung.

“Kalian sudah bercerai?” tanyaku perlahan menumpahkan tanya yang sedari tadi mengusik hati. Dia mengangguk. Aku menghela nafas, entah lega atau berat karena kini perempuan ini harus berjalan seorang diri menapaki tangga kehidupan.

“Aku lega, Sarah. Penderitaanku selama ini berakhir. Aku tak perlu lagi cemas dia tak pulang setiap malam.” Rinai itu belum mengering dari sepasang telaga teduhnya. Aku menggenggam jemari lentiknya yang gelisah. Memberi dia setitik kekuatan agar langkahnya tetap tegar.

“Syukurlah, aku turut lega mendengarnya. Simpan air matamu, sudah terlalu sering ia membasahi pipimu. Bukankah selama ini tangis itu tak jua reda?.” Aku berusaha menghiburnya. Ia mengangguk pasti.

“Aku menangis bahagia, Sarah. Aku lega.” Bahu nya terguncang menahan sedan. Aku tau, ini bukan hal yang mudah bagi Dhila. Perceraian tak pernah ada dalam rencana hidupnya. Suratan takdir yang membawa dia berada pada persimpangan jalan, berusaha mempertahankan mahligai rumah tangga yang sudah di bangunnya atau menyerah kalah pada kondisi yang tak mudah.

Aku ingat bagaimana beberapa bulan terakhir mata itu tak pernah lelah berurai tangis. Masih ku patri dalam benak, ketika Dhila harus terseok-seok mempertahankan bangun cinta dengan suaminya yang mulai rapuh. Dia berjuang sendirian, mengais sisa-sisa kepercayaan yang masih bisa di rajut. Sementara suaminya, tak pernah jera menorehkan luka atasnama pengkhianatan.

Pagi itu, bola sang surya masih tertatih menapak kaki langit. Sinarnya belum lagi hangat dengan kilau keemasan yang masih tersembunyi malu. Dhila sudah berdiri di depan pintu rumahku. Tatapan matanya lelah memancarkan aura duka yang tak kunjung usai. Rambutnya yang tergerai sebahu teracak kusut bagai tak tersentuh sisir sekian lama. Jiwaku yang masih terbuai mimpi belum lagi sempurna memasuki raga. Dhila terduduk lesu di sofa ruang tengah rumahku. Lengannya sibuk mendekap erat bantal sofa berwarna merah itu. Ku simpan berjuta tanya dalam benak, ku ulurkan segelas air putih hangat untuk membantunya menenangkan pikirannya yang kacau.

Beberapa menit setelahnya, dia mulai menguraikan kisah. Tapak-tapak usahanya mencari kebenaran mulai berujung bukti. Kecurigaannya selama ini kini mengurai sebuah kisah pelik yang membawa lara. Wildan, suaminya, telah menikah dengan perempuan lain. Ah, kalau hanya begini sih sudah yang ketiga kali terjadi. Setelah sebelumnya ada dua orang perempuan lain yang mengaku telah membangun kisah cinta bersama suaminya. Namun cerita kali ini sedikit berbeda. Wildan telah memiliki seorang bocah lelaki berusia 2 tahun dan kini mereka sedang menanti kehadiran buah hati yang kedua.

Dhila menangis, bendungan lara itu akhirnya tertumpah juga. Aku tak berusaha meredakannya, ku biarkan dia meluapkan semua keresahan jiwanya.

“Kenapa dia menghukum aku seperti ini, Sarah. Bukan kemauanku kalau sampai kini Tuhan belum mempercayai rahimku sebagai tempat bertumbuh jiwa mungil itu. Kau tau bukan, akupun menginginkannya.” Dhila menggigit bibirnya dengan menahan pedih. Aku tercekat, tak sanggup mengeluarkan kata untuk menghibur hatinya. Aku memeluk Dhila dengan perasaan tak menentu.

“Mungkin ini bukan semata-mata karena itu, Dhil. Bukankah ini sudah kali ketiga dia menikah dengan perempuan lain selain kamu. Aku rasa dia memang begini sifatnya. Dia tak pernah bisa menghargai upayamu menata rumah tangga.” Tanganku membelai punggungnya berusaha meredakan tangis yang belum lagi susut.

“Iya, Sarah. Aku sudah terlalu lelah dengan semua sikapnya. Kemarin aku juga menemukan di gudang, dia menyimpan alat-alat menyabu. Sepertinya dia juga pemakai. Oh Tuhan, kenapa selama ini aku buta akan hal-hal seperti ini.” Terbata Dhila menceritakan kisah pilunya yang lain. Bagaimana selama ini suami yang ia cintai menjadi seorang pemakai dan mungkin juga pengedar tanpa ia tau. Dan beberapa tetangganya bahkan pernah mencurigai bahwa rumahnya pernah menjadi tempat pesta shabu oleh Wildan dan beberapa teman kerjanya. Dhila yang selama ini percaya, selalu mengunci diri di kamar manakala Wildan dan beberapa temannya berkumpul di ruang tengah. Tanpa rasa curiga sedikitpun.

“Dia mungkin tidak menganggapku ada Sarah. Aku hanya seperti wanita bodoh yang tak tau apa-apa. Aku pikir selama ini rumah tangga kami baik-baik saja. Aku masih percaya bahwa cinta kami berdua sanggup membuatnya menjaga komitmen yang sudah dibangun selama ini. Tapi kenyataan kita berkata berbeda. Tuhan kini menunjukkan bahwa kepercayaanku kepadanya hanyalah sia-sia. Upayaku bersabar dengan sikap nya ternyata hanya kebodohan baginya.” Dia menarik nafas berat. Aku masih tercekat tak percaya. Tuhan kini menunjukkan kuasaNya. Kegelisahan Dhila selama ini terjawab sudah. Suami yang sangat dikasihinya bukan hanya menduakan cintanya, namun juga mengabaikan tanggung jawabnya.

“Sudah dua bulan ini dia jarang pulang ke rumah. Pulang hanya untuk mengambil beberapa hal. Alasannya sibuk keluar kota. Dan kamu tau Sarah, ternyata sekarang dia sudah di pecat dari pekerjaannya dan lebih memilih tinggal di apartemen dengan perempuan yang tengah hamil itu.” Isaknya tak lagi kentara. Air matanya mulai menyusut, tapi luka itu masih baru dan berdarah.

“Aku akan mengajukan gugatan cerai, Sarah. Sudah cukup selama ini aku bersabar dengan semua sikap dia. Sepuluh tahun dia berbuat sesuka hati terhadapku. Aku tak pernah mengeluh, karena aku berharap sang waktu akan menuntun dia kembali pada komitmen kami. Dalam sujud malamku, tak letih aku mendoakan kebaikannya. Dan kini Tuhan menjawab doaku dengan cara berbeda.” Dhila menahan rinai air mata dengan sisa kesabaran yang ada. Dadaku tiba-tiba sesak dan penuh, kelebatan perceraian yang mengguncang Arsy Ilahi menjadi kegetiran tersendiri.

Ya Tuhan, jika Engkau membenci perceraian apakah lantas perempuan seperti Dhila bisa dikatakan tak sabar dengan semua ujian takdir Mu itu? Aku menggeleng lemah, aku percaya Tuhan Maha Adil. Dia tidak akan mendholimi hamba Nya. Sekian tahun Dhila menyulam sabar dan ketegaran, menjalani biduk rumah tangganya dengan keikhlasan. Berupaya sekuat hati menapaki tugasnya sebagai seorang istri terbaik. Mempercayai doa baik yang selalu di hatur ke pangkuan Ilahi Robbi. Dan kini semua terbuka, menjadi sangat jelas bahwa suaminya tak lagi bisa menjadi imam bagi hidup dunia akhiratnya.

Meski berat, Dhila akhirnya mengajukan gugatan. Dia memilih mundur untuk menata hidup tanpa orang yang dicintainya. Bukan sebuah pilihan yang mudah, karena selama ini dengan landasan perasaan cinta yang membuncah Dhila sering kali abai memperhatikan ulah suaminya yang tak menghargainya. Dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menuntun kekasih hatinya pulang, Dhila masih memanjatkan doa itu pada sujud sujudnya. Berupaya mengiba agar skenario langit memihak pada kekuatan cintanya. Nyatanya, Tuhan menunjuki jalan yang berbeda. Kenyataan tak bisa lagi ditentang, Dhila menyerah dan mengaku kalah.

  • view 175

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    4 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Tulisan Desy ini juga mengandung elemen yang kurang lebih sama dengan tulisan sebelumnya yang juga kami pilih sebagai pilihan redaksi. Berkat pemilihan kata yang tepat dan teknik penceritaan yang banyak memainkan symbol alias digambarkan bukan dijelaskan secara langsung, tulisan ini terasa kuat secara emosi.

    Pembaca sukses diajak membayangkan adegan dua tokoh dalam cerita ini, tenggelam dalam rasa sakitnya hingga benar-benar mulai merasakan apa yang ia alami. Seperti yang bisa dibaca, fiksi ini tentang wanita yang akan mengajukan gugatan cerai sebab mengetahui suaminya telah berselingkuh dan ia menilai tidak ada harapan bagi suaminya berubah sikap. Bagus, Desy!