8. Tak adakah Lelah mu ?

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Juli 2017
Untuk Lelaki yang Ku cemaskan

Untuk Lelaki yang Ku cemaskan


Beberapa hal mungkin tak bisa terjawab..sedangkan hal yang lain lebih indah tersimpan.

Kategori Cerita Pendek

2.1 K Creative Commons (CC) Atribusi
8. Tak adakah Lelah mu ?

Subuh masih memeluk tubuhku dengan dingin. Jiwa ku belum utuh terbangun dari lelap tidur malam ku saat terdengar suara pesan masuk di hand phone ku. Waktu menunjukkan jam 4.10 pagi.  Sebuah nama terbaca saat ku nyalakan hp itu.

Pesan yang di tulis dengan panjang dan ku yakin sepenuh hati itu mampu membuat hatiku bagai di sengat puluhan tawon. Lalu, beberapa jenak kemudian aku menarik nafas panjang menahan rinai haru meluruh dari sudut kelopak mataku.

Bagaimana aku tidak merasa di cinta, jika penerimaan dan ketabahanmu sebesar itu terhadapku. Bagaimana aku tidak merasa bahagia, jika pemberianmu tak berhenti karena pengabaian. Bagaimana aku tidak merasa amat terpuruk, jika balasan atas semua kebaikan itu justru malah melukai batinmu. Bagaimana aku tidak merasa berdosa, jika hatiku tak kunjung bisa mengupayakan kebahagiaanmu dengan baik.

Mentari yang mulai merangkak langit tak jua mampu menghangatkan jiwa ini yang semakin terasa dingin. Ada sudut hati berteriak pedih bersama sapaan pagi dari seseorang yang tak henti mencintai. Ku hempas telefon genggam itu di atas kasur berseprei ungu ini. Kaki-kaki ku memijak lantai kamar berubin coklat yang masih terasa dingin membeku. Tuhan, apa dosanya? Kenapa engkau mempertemukan kami jika hanya sakit yang bisa ku beri untuk nya?

Keteduhan wajahmu lantas membayang di pelupuk, berkelebatan menyajikan segala hal-hal indah dan baik yang selama ini telah kau suguhkan untuk membuatku tersenyum. Segala upayamu membuat jalan kita bahagia tiba-tiba semakin membuat diriku lemah dan terjatuh. Semua luka yang tertoreh karena kebodohanku justru meneguhkan hatimu untuk bertahan dengan jiwa ini yang tak lagi utuh. Duh Gusti, manusia macam apa yang kau kirim menjadi kekasihku ini?

Tak adakah dia kecewa dengan semua sikapku kepadanya? Tak adakah jenuh pada hatinya menunggu aku berubah? Tak adakah hasratnya untuk menikmati bahagia dan melihat dunia di luar sana? Tak adakah lelah pada raganya yang membiarkan hatinya terus mengalah untuk membairkan aku merasa menang?

“Berat rasanya aku melepasmu. Aku selalu cemas, aku mengkhawatirkan kamu. Apakah setelah kepergianku kamu akan baik-baik saja atau tidak.” Tanganmu erat menggenggam tanganku sore itu. Aku masih bergeming membisu. Ku tatap lekat sepasang telaga yang memancar teduh menatap wajahku. Pelupuk itu mengembun, kecemasan itu telah berurai menjadi bulir-bulir kesedihan. Ku tebalkan hatiku agar tak runtuh.

“Aku tau kamu wanita kuat dan tangguh. Aku percaya engkau bisa melewati semua ini dengan baik. Tapi aku tak bisa berhenti mencemaskanmu. Aku masih menyayangimu.” Suaramu parau menggema berdentum-dentum di lubuk hati ini. Ada jiwa yang kemudian terbang mengawang kehilangan arah.

“Apa memang tidak ada lagi peluang bagi kita untuk tetap bersama?” kau membawa kepalaku menelusup dalam dekapan dadamu. Tak ada hasrat di bibirku untuk tergerak menjawab pertanyaanmu. Luluh lantak kekuatanku dan hanya menyisakan hening. Aku masih angkuh berdiri.

“Maaf, aku tidak bisa.” Kataku sambil perlahan menarik kepalaku dari dekapanmu.

“Apa yang membuatmu begitu membenci ku?” Wajahmu tampak kuyu dengan jejak-jejak kepedihan yang belum berlalu.

“Aku tidak membencimu, aku hanya tidak ingin terus menyakitimu. Jika kamu masih memaksa untuk tetap mencintaiku, maka kamu akan terus mendapati kecewa terhadapku.” Suaraku mulai meninggalkan rasa sabarnya.

“Aku siap, itu pilihan yang lebih baik bagiku dibandingkan harus meninggalkan kamu.”  Suara lemah mu yang mampu membuat ku kehilangan kekuatan untuk berdiri. Ingin rasanya aku berlari membiarkan mu termangu sendirian dan tak perlu lagi menoleh agar aku tak melihat raut wajahmu yang penuh dengan duka itu.

Sore yang terasa sangat melelahkan kala itu, saat aku harus berjuang menahan pedih untuk bisa membebaskanmu dari semua rasa sakit yang aku lakukan. Aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk mendapatkan jalan bahagiamu sendiri tanpa aku. Karena sejujurnya aku sadar bahwa aku bukanlah tempat terbaik bagimu meluruhkan segala cinta dan sayangmu.

Dan pagi ini, aku kembali mendapati dirimu yang masih keras kepala. Aku menghirup kesejukan pagi yang menelusup lewat jendela kayu yang baru saja ku buka. Tuhan, peluk aku.. beri aku kekuatan untuk mengambil keputusan terbaik. Aku tidak ingin terus menyakitinya, aku tidak mungkin terus menyakiti diriku sendiri.

Jika dia tidak bisa meninggalkan aku karena mengkhawatirkan kebahagiaanku. Maka beri aku kebahagiaan agar aku bisa  berhenti membuatnya kecewa.

 

  • view 136