6. Tak adakah Diksimu Untuk Menenangkan ku?

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Juli 2017
Untuk Lelaki yang Ku cemaskan

Untuk Lelaki yang Ku cemaskan


Beberapa hal mungkin tak bisa terjawab..sedangkan hal yang lain lebih indah tersimpan.

Kategori Cerita Pendek

2.1 K Creative Commons (CC) Atribusi
6. Tak adakah Diksimu Untuk Menenangkan ku?

Aku hanya bisa terduduk lemah pada deretan batu karang. Memandangi butiran pasir putih yang bermain-main pada telapak kaki terbawa arus pantai. Angin memainkan anak rambut hingga menutupi sebagian pipi ini. Semburat jingga pada cakrawala mengabarkan kepadaku bahwa mentari akan segera rebah berganti rembulan. Sore sudah semakin menua.

Lima belas menit berlalu. Tak ada dari kita yang bersuara. Sepi. Suara debur ombak yang bergemuruh tak lantas meramaikan lintasan pikiran yang masih saja tertuju menunggu kata-katamu. Ku tajamkan pendengaran ini seolah khawatir akan ada rangkaian kalimatmu yang tiba-tiba terucap dan tak tertangkap oleh gendang telingaku.

Mataku mulai mengembun dan nafas yang sedikit terdengar tak teratur. Sekuat tenaga diri ini meredam keinginan di hati atas sebuah jawabmu. Bibirmu masih tak bergerak dan membisu. Tatapan matamu menerawang jauh ke batas cakrawala yang menyilaukan. Senja membiaskan bayang wajah di hadapanku dengan sempurna. Aku masih saja menunggu.

“Sebaiknya engkau pulang, sebentar lagi akan gelap.” Suaramu pelan namun terdengar jelas di telingaku.

“Tidak adakah penjelasan yang layak untukku?” aku mengiba berharap ada sedikit rangkaian diksi mu yang akan menenangkanku.

“Kamu berlebihan, aku tidak melanggar komitmen kita. Tak ada yang perlu aku jelaskan.” Angkuh suaramu dengan mata masih terpancang jauh ke ufuk barat. Ku tarik nafas perlahan, takut engkau semakin menyalahkan kekhawatiranku akan perubahan sikapmu.

“Baiklah. Semoga esok komunikasi kita lebih baik.” Aku mengalah, tak ingin ada perdebatan lagi menutup pertemuan sore ini.

Senja mulai lelah dan meninggalkan batas cakrawala. Rembulan separuh menyembul malu diantara awan sore yang berarak perlahan. Ku langkahkan kaki menyusuri bibir pantai yang berpasir putih ini. Tak ada suaramu melepas kepergianku. Hanya sesekali terdengar suara camar yang tertinggal oleh gerombolan camar lainnya yang telah mendahului pulang. Ku tekan hasrat ku untuk menoleh sekedar memastikan kau benar mengabaikanku.

Berkelebatan ingatan pertengkaran demi pertengkaran yang terangkai beberapa waktu terakhir. Tanya yang tak terjawab, sapaan yang tak berbalas serta tak ada lagi kepedulian mu untuk menanyakan kabarku semakin memperburuk komunikasi beberapa hari terakhir. Ah, sepele sekali rasanya. Ini bukan masalah yang berat tapi cukup menguras pikiran. Mencoba menekan tanda tanya kamu dimana, sedang ngapain, dan pertanyaan remeh temeh lain yang tak terjawab cukup melelahkan. Belum lagi mendapati jawabanmu yang singkat dan sebenarnya malah bukan menjawab sekedar menanggapi pertanyaanku juga membuat ku menarik nafas lemah. Kamu kenapa?

Lamunanku tiba-tiba membuyar, dikagetkan oleh suara mu yang memanggilku dari jauh. Aku menoleh, memastikan bahwa suara panggilan itu bukan ilusi ku. Kau berjalan mendekati dengan terburu. Senja sudah tak terlihat lagi jejaknya berganti gemerlap bintang di kaki langit yang mengelam. Kau menghambur memelukku erat. Sepasang netraku tak lagi mengembun, titik-titik tanya itu telah luruh menjadi buliran air mata. Ada apa sebenarnya, batinku bergolak. Pelukanmu ku rasa tak seperti biasanya.

“Maafkan aku Ra, ada yang harus aku katakan kepadamu.” Kau melepaskan pelukan pada tubuhku, menatap wajahku lekat. Aku menunggu. Tarikan nafasmu kurasa berat dan hangat mengenai wajah ini.

“Jangan lagi menunggu, tak perlu lagi kamu bersabar menghadapi semua ulah ku. Menyerahlah Ra. “ Datar suaramu menusuk tepat di ulu hatiku membuat rongga dadaku penuh. Aku masih menunggu kelanjutan kalimatmu dengan tenggorokan tercekat.

“Tidak perlu lagi kamu berjuang untuk selalu memahamiku. Aku.. aku sepertinya tidak mungkin bisa menjadi seperti yang kau mau. Aku tidak bisa Ra.” Kamu berpaling, pasang mata kita tak lagi terpaut. Apakah hati kita juga tak lagi beriringan?

“Aku tidak mengerti. Apa memang ada sesuatu yang terjadi?” Lirih aku bertanya.

“Bisakah kamu meninggalkan aku, Ra.. aku bukan lelaki yang tepat untukmu, aku tidak selalu bisa menemanimu.” Kamu melirikku yang berdiri di sebelahmu.

“Kau tidak lagi menyayangiku?” masih lirih aku bertanya meredam semua gejolak dalam hati ini. Kau menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tanganmu meraih batu yang tergeletak tak jauh dari tempat kita berdiri. Lalu melemparkan nya ke air laut yang mulai pasang.

“Ada seorang perempuan yang beberapa saat lalu menarik hatiku, Ra. Entahlah..saat ini fikirku terbagi antara kau dan dia. Apakah menurutmu aku sudah tidak menyayangimu?” Hatiku berdesir, bagai dirambati ribuan semut. Aku memejamkan mata, meresapi luka yang kau gores perlahan.

“Aku tak ingin menyakitimu, Ra. Karena nampaknya bukan hanya peduli ku yang mulai terbagi, tapi juga rasa ini yang tak lagi utuh kepadamu. Apakah kau bisa mengerti?” Ada telaga kegetiran yang mengembang di sudut pasang mata ini mendengar tata kalimatmu yang mengiris. Mulutku rapat terkunci, hanya nafasku yang ku rasa tak lagi bisa teratur.

“Ra, selama ini kamu selalu bisa memahami aku. Tolong pahami kebodohanku kali ini. Kamu juga tau, bahwa aku tak berniat pergi. Maafkan aku Ra, kehadiran dia membuat hariku lebih berarti.” Aku menunduk kehilangan semua kemampuanku menatapmu.

“Kamu tidak berniat pergi, lalu kau mengusirku..begitu?” Kali ini telaga kesedihan itu susut dengan sendirinya. Ia tak meluruh karena ku upayakan ketegaran untuk tetap terlihat tak menangis di hadapanmu.

Senyap beberapa jenak. Hanya terdengar deru ombak melingkupi pikiran kita masing-masing yang berkelana entah dimana. Angin dingin membungkus kulit tubuhku yang menghangat karena meredam amarah kepadamu, lelaki yang selalu ku cemaskan. Dan kini, kecemasanku seolah semakin membuncah. Gambaran ilusi dan mimpi yang selama ini ku rangkai seolah nyata, berserakan menjadi kepingan sandiwara hati yang berlakon utama kamu.

“Dengarlah, kau lelaki yang ku cemaskan.. aku mencintai mu, pergilah..jika dengan pergi akan membuatmu menemukan bahagiamu. Aku akan tetap tinggal disini menunggumu lelah. Jika pun engkau tak akan pernah lelah dan kembali kepadaku,  maka biarlah aku ada disini sekedar untuk mendoakan mu. Kau taukan, aku sangat keras kepala. Pergilah, aku rela kau membagi rasaku dengan dia.” Ku tatap dekat kedua pasang mata yang tatapannya selalu mampu menenangkan hatiku. Ku peluk dirimu yang masih diam mematung dan membisu. Kali ini bulan separuh yang bersinar setengah hati menjadi saksi kebodohan dan keteguhanku. Ah, ternyata benar..terlalu mencintai menurunkan derajat kecerdasan seseorang hingga sekian level di bawahnya.

“Jika aku selalu mengingatmu seperti mentari mengingat pagi.. maka cukuplah engkau mengingatku seperti mentari mengingat senja di lelah harinya.”

  • view 226

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    5 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan

    Tulisan galau yang asyik dan sangat layak dibaca. Banyak memainkan symbol, memilih perumpamaan alam atau benda untuk mewakili suara hati menjadikan karya Desy Febrianti ini jadi tulisan sendu berkelas.

    Walhasil, teknik semacam ini membuat perasaan tokoh, terutama sang wanita sebagai tokoh utamanya, tersampaikan secara total ke pembaca. Hal ini berbeda jika lebih banyak menggunakan dialog. Penjelasan alam dan kondisi saat momen terjadi juga memberi nilai lebih tersendiri. Cerita ini mengisahkan seorang wanita yang masih mau mencintai pria yang mengaku telah membagi hatinya untuk orang lain. Kondisi yang bisa mewakili perasaan wanita atau pria di luar sana yang pernah mengalaminya. Teruslah menulis di sini, Desy.

    • Lihat 1 Respon

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    5 bulan yang lalu.
    Suka sekali quote terakhirnya mbak.. hehe..