Mozaik Duka dan Kerinduan pada Abah

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Juni 2017
Mozaik Duka dan Kerinduan pada Abah

Aku tak mau pulang. Meski Ratna mengabarkan kepadaku bahwa kali ini kami bisa mudik gratis berkat bantuan Bu Fatma, nyonya rumahnya yang mendaftarkan kami ke mudik gratis di kantornya. Rasanya pulang ke kota itu sudah tidak masuk daftar keinginanku. Bukan tak rindu emak dan bapak, bukan tak ingin memeluk adik-adik kecilku yang kini beranjak mendewasa. Ada rasa rapuh yang harus ku tata jika kaki ini sangat terpaksa pulang. Dan untaian masa beratus purnama belum sanggup membalut lara yang menggenang di ceruk hati terdalam.

Berkelabatan mozaik peristiwa tentang sebuah nama. Seseorang yang pernah begitu lekat dan dekat. Sepasang netra yang selalu mampu menyejukkan kalbu dan sukma ini. Genggaman yang selalu menguatkan disaat aku rapuh dan terjatuh. Dia, yang tak pernah pergi meski tau bahwa aku tak sempurna.

Hanya dalam hitungan hari, bangunan cinta yang kami bangun akan menemukan muaranya. Saat semua orang berdecak kagum atas jalinan rasa yang terpaut diantara kita, Kau pemuda tampan di desa menyanding gadis pujaan seluruh pemuda. Tak sedikit pemudi yang patah hati, pun sangat banyak lelaki yang harus undur diri. Tinggal beberapa saat lagi semua menjadi indah tak terperi. Namun Tuhan memberiku tidak seperti yang menjadi mimpi selama ini.

Sore itu, gerimis tak kunjung reda sedari pagi. Basah semua daun-daun kapuk dan pisang di halaman belakang rumahku. Tanah menjadi berlumpur dan licin meski air hujan tak sampai menggenanginya. Angin sedikit ribut menandakan ia gelisah mengapa rinai tak jua lelah. Aku berjalan perlahan, berbunga hatiku membayangkan masa depan yang akan ku lalui bersama lelaki pujaan hati.

Dan, bayangan itu tiba-tiba musnah. Berkeping berserakan di tanah. Gerimis dan angin lalu menghamburkan semua mimpi dan imajinasi. Kau, lelaki terdekat yang ku anggap hebat, berdiri tepat di hadapan. Diantara rimbun pepohonan, memadu kasih dengan ia yang tak lagi perawan. Janda kembang dengan tubuh semampai dan aduhai. Hanya berjarak sekian depa, tak ada penghalang bagiku menyaksikan semua. Engkau mencumbunya begitu mesra, berpeluk berkesah dalam aroma cinta.

Rinai sore itu tak jua reda. Kaki ini ku seret untuk melangkah. Tak sanggup menahan genangan duka yang semakin nyata dan menyiksa. Tanah basah, bebatuan tajam, hujan, angin dan semua semesta seakan mencibir sukma ini yang nestapa. Engkau yang ku cinta ternyata berdusta.

Aku menahan sesak didada mengingat kenangan masa lalu. Gerimis sore itu mungkin sudah reda, namun tidak dengan gerimis hatiku. Ini adalah tahun kelima aku tak lebaran di rumah. Senandung rindu pada segenap kelurga tak mampu menguatkan hatiku untuk pulang. Aku masih belum sanggup membalas tatapan sinis para tetangga, juga belum mampu mengangkat kepala jika harus bertemu dengan mu, lelaki pendusta.

“Pulanglah, Nis. Emak dan abah merindukanmu nduk.” Suara emak kemarin sore menusuk-nusuk hati dan ingatanku. Aku menggeleng lemah dan tak mampu bersuara.

“Ini lebaran Nis, semua orang yang kerja di kota mudik dan pulang. Dan disini lah rumahmu, disini seharusnya kamu pulang.” Dengan suara lembutnya emak mencoba mengajakku pulang.

“Maaf Mak, Anis belum bisa pulang. Semoga uang yang Anis kirim untuk emak dan abah cukup untuk persiapan hari raya. Maaf Mak, hanya itu yang Anis bisa.” Suara yang ku tata masih terasa getar duka. Sesekali terdengar batuk abah yang mulai menua. Aku sesak, ingin rasanya memiliki sayap untuk terbang dan datang memeluk Abah yang mulai renta. Di usianya yang menuju senja, harusnya aku sudah bisa membahagikannya dengan anugerah cucu yang lincah. Ah Abah, ada duka yangmenitik dari ujung netra.

“Mak, doakan saja Anis disini. Anis juga selalu mendoakan Emak dan Abah.” Aku berpamitan dan menutup telfon hari kemarin dengan lara tak terkira. Senandung rindu pada keluarga berpilin dengan nyanyian duka yang ada karena dia.

“Sampai kapan Nis kamu akan seperti ini? Ini sudah lebaran kelima kau tak mudik.” Kedatangan Ratna pagi tadi ke kostanku terngiang kembali di telinga. Temanku berbagi duka di kota, yang juga sahabat dari desa. Angin pagi tadi tiba-tiba terasah gerah. Ku nyalakan kipas angin di kamar meski sedikit berdirit mengiba minta di ganti.

“Tidak kali ini Rat, semoga bisa tahun depan.” Kataku melemah menahan sesak di dada.

“Tidak akan ada tahun depan jika kau masih saja tak rela. Kau pantas bahagia Nis, jalani takdirmu dengan rela. Luka itu tak akan pernah sembuh jika kau tak mau melupakan.”  Ratna menggeser duduknya mendekat kerahku. Aku masih diam membisu, menahan buliran dipelupuk mata.

“Mungkin dengan ini Tuhan ingin kau belajar. Luka yang menyakiti, tapi ia akan menjadikanmu lebih dewasa dan tegar.Relakan Nis, lepaskan semuanya. Meski perlahan tapi kau harus mencoba. Jangan terlalu lama ada dalam kubangan lara. Karena itu tak tentu akan membuat semuanya mereda. Malah mungkin tambah parah. Nikmati jalan hidupmu, meski harus terseok tetaplah melangkah.” Suara Ratna kembali menggema, memberangus semua kenangan indah sekaligus duka.

Mak, Abah..haruskah aku pulang? Sanggupkah aku meraih kepingan-kepingan masa lalu untuk kemudian menyimpannya pada peti kehidupan? Bisakah aku berjalan tegar menyusuri setiap inci kenangan yang ada di desa itu?

Suara sms masuk terdengar dari Hp kecilku. Sebuah pesan dari Emak.

“Abah masuk rumah sakit, Nis. Pulanglah..”

Nanar mataku menatap tulisan singkat namun meruntuhkan keegoisanku selama ini. Terbayang wajah Abah yang penuh kerut dengan rambut yang mulai memutih. Masih kah aku berkeras demi kerapuhan hati yang belum juga terobati? Haruskah kerinduanku pada Abah meranggas hanya karena nestapa yang dicipta sosok tak berperasaan itu?

 Iya Abah, Anis pulang..

 

  • view 76