Darin

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Juni 2017
Perempuan Penyulam Sabar

Perempuan Penyulam Sabar


Ujian yang tak letih menghampiri, pilu yang belum bosan menyelimuti.. memaksa diri, menyulam benang-benang sabar agar hati tak terserak lalu mati.

Kategori Cerita Pendek

866
Darin

“Ayolah Rin, ini hanya reuni satu angkatan kok. Kita bisa bertemu beberapa kawan lama. Masak kamu gak kangen sama aku. Plis, datang ya.” Suara Marsha terdengar merayu di ujung sana. Ada sesak yang menyeruak seiring memory masa SMU yang bergantian berkelabatan. Slide-slide peristiwa tersaji di benak menambah pengap satu sisi hatiku.

“Aku usahakan Sha. Mudah-mudahan aku bisa pulang.” Suaraku terbata menyembunyikan gemuruh pilu di dalam dada.

“Aku sangat berharap kita bisa bertemu, Rin. Sudah 17 tahun kita tak saling bercerita. Kamu juga tidak suka bermain medsos, aku cukup kesulitan mencari jejak mu Rin. Aku mohon ya, datang ke acara reuni nanti.” Riang Marsha mengutarakan keinginannya bertemu denganku. Sejak lulus SMU aku memang menghilang, lebih tepatnya menghindari bertemu dengan kawan-kawan masa SMU ku. Aku memejamkan mata, peristiwa 17 tahun lalu masih tergambar jelas dalam kepala.

Hari itu, senja kekuningan mulai merambati cakrawala. Dengan sumringah, aku melangkahkan kakiku memasuki pelataran rumah. Beberapa mobil terparkir di halaman yang luas dan hijau, mungkin tamu ayah pikirku. Samar-samar terdengar suara gaduh dari ruang tengah. Dengan sedikit bergegas aku memasuki rumah dari pintu ruang tengah melintasi kolam koi yang tertata apik di halaman samping.

Beberapa orang pria berjaket kulit dengan badan tegap menarik ibu keluar kamar. Ketiga adikku menangis terduduk di sofa. Tak aku lihat ayah ada di antara mereka.

“Hey, ada apa ini?” Aku mengahmpiri ibu dan mencoba melepaskan pegangan erat salah seorang dari ke empat lelaki bertubuh besar itu.

“Maaf, kami tidak bermaksud menyakiti kalian. Kami hanya meminta kalian segera meninggalkan rumah ini. Kemasi barang-barang kalian secukupnya, lalu cepat serahkan kunci rumah ini pada kami. Rumah ini di sita perusahaan.” Seorang pria berkemeja biru muda menghampiri dan menyerahkan sepucuk surat ber kop perusahaan tempat ayah ku bekerja. Seketika dunia ku menjadi gelap kehilangan binarnya. Terbayang semua yang kami miliki akhirnya lenyap sudah berganti derita.

Sejak hari itu, kami mengontrak sebuah rumah di pinggiran kota. Hari-hari selanjutnya berjalan sangat berat, ibu belum bisa menerima kenyataan bahwa kini dia bukan lagi seorang nyonya besar yang dilayani. Aku, si anak sulung, juga tak bisa berbuat banyak dan masih syokdengan kondisi kehidupan yang tiba-tiba berubah tanpa di duga. Adik-adikku pun sama, mereka belum terbiasa hidup tanpa kemewahan dan nelangsa. Sedangkan ayah tak terdengar lagi dimana rimbanya. Tabungan yang ibu punya mulai menipis karena hanya sumber kehidupan kami enam bulan terakhir. Tak ada lagi keinginanku untuk melanjutkan kuliah, yang terpikir kini bagaimana aku harus bekerja untuk menghidupi keluarga. Seolah semua harapan dan mimpi melanjutkan sekolah berganti dengan kabut gelap karena aku harus bekerja dengan bekal ijazah SMU. Kondisi ibu yang belum sepenuhnya menerima membuatnya sering sakit dan mengurung diri di kamar. Secara terpaksa tulang punggung keluarga beralih kepadaku.

Rinai kesedihan berlompatan dari sudut mata ini. Aku bukan lagi Darin yang sama seperti saat SMU dulu. Darin yang populer dengan penampilan yang selalu up to date. Darin yang selalu bisa menjadi pusat perhatian cowok-cowok sekolah. Tak ada lagi barang-barang mewah melekat padaku, yang tersisa hanya baju lusuh dengan rambut terikat seadanya. Bagaimana bisa untuk membeli barang mewah, untuk makan, perawatan ibu dan biaya sekolah ketiga adikku saja masih kekurangan. Kini aku hanya seorang penjaga toko kelontong di warung Pak Haji Dahlan dengan penghasilan dibawah UMR kota.

Hari ini Marsha mengajakku datang ke acara reuni SMU, dengan wujud seperti apa aku harus menampilkan diriku. Apakah mereka tak akan mentertawai dan mencemooh diri ini? Darin yang sombong dan pongah berganti kumuh dan tak punya apa-apa. Cermin buram di hadapanku menegaskan penampilan wajahku yang terasa lebih tua dari usianya. Mata yang kehilangan pendar bahagia, kulit yang lama tak tersentuh perawatan salon langganan dulu, rambut kusam tergerai kehilangan pesonanya. Duh, sungguh Darin yang berbeda dengan sosok gadis populer 17 tahun yang lalu.

Hidup seolah menempatkan kami di bawah ceruk bumi kini. Tak bisa lagi ku menyalahkan Ayah sebagai pemantik kesengsaraan, cukuplah kami belajar bahwa dunia tak selamanya memihak. Apa yang terjadi hari ini bisa jadi adalah akibat perbuatan mu di masa lalu. Bukankah keadilan Tuhan juga tercermin dari keberlangsungan hukum sebab akibat sebagai equilibrium kehidupan. Aku patut bersyukur, kehidupan mengajari ku sedemikian keras namun tetap tak lupa terus menjagaku agar tak salah arah. Dan disinilah aku, Darin yang baru dan berbeda dengan Darin masa lalu. Semoga tak ada lagi kepongahan dan kesombongan dalam hatiku.

 

 

  • view 101