Part 8. Lembayung Jingga

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Project
dipublikasikan 15 Juni 2017
Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan

Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan


Kisah seorang perempuan dusun yang memiliki perasaan cinta kepada seseorang yang sulit untuk diraih.

Kategori Cerita Pendek

2 K
Part 8. Lembayung Jingga

Dia menatapku lekat. Pandangannya menyapu ke seluruh bagian inci tubuhku. Perempuan bermata coklat bening di hadapanku terlihat ayu dengan rambut sebahu. Busana sederhana nan bersahaja menyempurnakan pembawaan anggunnya sore ini. Tak ada kata ataupun senyum menyapa diri ini yang telah 15 menit berdiri mematung di depannya. Raut wajah itu kentara menggambarkan keterkejutan mendapati diriku yang berbeda jauh dari penampilannya.

Aku, perempuan dusun dari lereng Gunung Anjasmara, yang tak beralas kaki dengan lilitan kain lusuh serta atasan dengan warna tak sempurna. Rambut tergerai sepinggang, lurus hitam tapi nampak kusut karena tak tersentuh perawatan optimal. Wajahku? Ah jangan di tanya, jika perempuan mematung didepanku memiliki kulit bak pualam dengan rona merah dipipi, aku memiliki kulit kecoklatan dengan bentuk wajah oval dan mata bulat. Beberapa orang menyebut mata ku berpendar indah. Ya mungkin itu satu kelebihanku selain senyum yang selalu mengembang untuk  mengurangi sedikit kusam pancaran wajahku.

“Benarkah kau yang bernama Sekar?” Suara lembut perempuan itu menyapa. Aku hanya bisa mengangguk. Dia masih saja enggan melepaskan tatapannya dari wajahku. Penuh selidik terdengar dia berkata,

“Aku sungguh tidak percaya. Kau.. kau tidak selevel dengan ku.” Suaranya terdengar menahan kecewa. Berulang kali dia menggelengkan kepalanya seolah tak percaya dengan kenyataan di hadapannya.

“Maaf, maksudnya gimana ya? Mbak ini siapa?” tanyaku meluruhkan kebingunganku sedari tadi. Aku masih belum menemukan alasan masuk akal kenapa perempuan cantik ini seolah kecewa mendapati diriku yang berdiri  beberapa langkah dari dirinya.

“Aku Anjani, kau mengenal lelaki ini?” Dia menunjukkan sebuah foto yang di ambil dari tas merah miliknya. Jantung berdesir halus, tiba-tiba saja kerinduan kembali menyesakkan dadaku. Lelaki dari negri di awan yang sudah tak aku ketahui lagi kabarnya. Aku memperhatikan wanita berbaju biru itu dengan seksama. Bekelebatan tanya tersaji di kepala, mencoba mencari-cari memori adakah aku pernah mengenal perempuan berhidung bangir ini.

“Aku masih tidak percaya, bagaimana mungkin seorang gadis seperti mu bisa merebut perhatiannya. Bagaimana bisa dia membagi sayang ku dengan mu? Bagaimana bisa..” suaranya terdengar sangat lantang membuat jantung lebih cepat berpacu. Dia melangkah memutari ragaku yang semakin beku berdiri.

“Sekar, kau ini apa... kau sama sekali tak berarti. Harusnya kau tau diri. Dia tidak akan pernah meninggalkan aku hanya demi kamu. Lelaki itu hanya menjadi kan mu persinggahan sementara. Apakah kau tidak sadar itu?” tangan lembutnya kasar menarik lengan ku hingga membuatku berbalik arah tepat menghadap wajahnya. Sepasang matanya mencengkeram lekat menghunjam ke relung sukmaku.

“Aku tidak paham dengan semua ini. Tolong lepaskan.” Aku meronta sekuat tenaga. Perempuan itu melepaskan genggaman tangannya dan menghempaskan dengan kuat. Aku sedikit limbung. Kayu saka di teras rumah menahan badanku agar tak terjatuh.

“Tinggal kan lelaki ku, jangan pernah mendekatinya.” Telunjuknya tepat menuding hidungku.

“Maaf mbak Anjani, jika aku memang dirasa tak selevel denganmu kenapa harus terganggu dengan kehadirank? Bukankah tadi mbak sendiri yang bilang bahwa Lelaki itu tak akan meninggalkan dirimu demi perempuan seperti aku? Bukankah kau sendiri tadi mengatakan bahwa aku tak cukup berarti untuknya dan aku hanya persinggahan sementara? Lalu, kenapa harus sedemikian khawatir jika kamu sudah punya keyakinan sebesar itu.” Ku tahan suaraku agar emosiku tak tumpah ruah. Dadaku mengombak menahan sesak atas semua penghinaan ini.

“Kau.. apa maksudmu? Kau ingin mengatakan bahwa kau siap bersaing denganku? Hey, apa kau tak punya cermin. Lihatlah, kita tidak sepadan. Kau bukan sainganku.” Tangan nya mencoba mendorongku. Ku tepis lengan itu dengan kuat.

“Iya, kita memang bukan saingan. Iya, kita memang tak sepadan. Aku tak bisa bersikap kasar seperti ini. Meski hanya perempuan dusun, aku masih punya norma kesopanan dan kelogisan.” Aku berusaha membalas tatapan matanya yang penuh marah.

“Kau berani bicara seperti itu, aku akan membuat dia melupakanmu. Kau tidak berarti apa-apa Sekar, kau bukan siapa-siapa baginya. Kau hanya perempuan dusun yang berimajinasi dan mengaharap ada lelaki mencintaimu.  Aku..hanya aku yang akan menjadi perempuannya.” Terdengar deru nafas perempuan itu memburu.

“Iya mbak, silahkan buat dia menjauhi aku. Aku cukup tau diri dan aku terima semua tuduhanmu terhadapku. Tapi perlu kau tau, aku punya doa baik dan tulus untuknya, dan aku yakin kamu pun tak akan bisa menghentikanku berdoa untuk kebaikannya.” Mataku mulai menghangat, ada genangan lara di sudut netraku. Sekali kedipan saja, maka rinai itu akan meluruh menghanyutkan perasaan penuh duka. Aku berjalan cepat meninggalkan perempuan itu yang masih penuh amarah. Terdengar suaranya memanggil namaku berulang kali dengan sangat keras.

Aku melangkah semakin cepat, menyusuri barisan pinus dan pohon randu. Menapaki jalanan licin berbatu menuju bukit tempat kita dulu biasa bertemu. Harus ku kabarkan pada ilalang di sana bahwa kini aku berduka. Aku yang katanya terlalu berimajinasi mengharapkan ada seseorang seperti lelaki itu mencintaiku. Duhai engkau, lelaki dari negri di atas awan, apakah memang kau datang hanya untuk singgah? Apakah benar bahwa aku tak cukup berarti bagimu. Kenapa Anjani yang harus datang menemuiku disini, kenapa bukan kau yang mengabarkan padaku bahwa aku memang bukan siapa-siapa bagimu.

Senja sore di bukit ini, berhias lembayung jingga di ufuk barat yang sedikit buram berselimut kabut yang mulai turun dari Gunung Anjasmara. Ilalang pun terdiam kaku tanpa angin yang mampu meliukkan batang-batangnya. Telaga duka itupun tumpah ruah menyapu semua lara yang ada.

  • view 98