Koin-koin Kekuatan

Koin-koin Kekuatan

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Juni 2017
Koin-koin Kekuatan

Aku masih bergeming menatap catatan kecil yang di berikan seorang perempuan berparas cantik tadi. Seorang customer service sebuah bank di kota ini. Penampilannya santun dengan suara yang lembut dan penuh senyum. Namun seketika, aku merasai wajahnya bak monster bertaring panjang lengkap dengan kuku-kuku runcing yang siap mencekik leher. Aku menelan ludah, mencoba membasahi kerongkongan yang terasa kering dan retak. Bibir ini terkatup tak bergerak sama sekali, tenaga yang ku punya hanya mampu mengedipkan mata berkali-kali.

“Gimana bu, apakah jadi? Kalau memang jadi, kita akan proses sekarang. Ibu Rahma tinggal mengisi kelengkapan data-data berikut ini.” Suara lembut perempuan yang mengenakan setelan blazer warna biru mengembalikan kesadaranku. Aku gugup dan berupaya menjawabnya dengan suara bergetar.

“Astaqfirullah, masih banyak ya mbak. Boleh saya tau, per bulan ini sudah cicilan ke berapa ya?” Tanya ku dengan suara terbata yang kentara sekali menyembunyikan gelisah. Aku perhatikan raut muka wanita bermata indah itu berubah. Apakah dia mulai merasakan ketidaknyamanan diri ini melihat catatan kecil yang ia sodorkan tadi, entahlah.

“Per Juni tahun 2017 ini sudah cicilan ke 60 kali.” Suaranya terdengar mengiris sukma dan menggetarkan seluruh persendian kaki.

“Apa tidak ada keringanan atau potongan gitu ya mbak kalau saya mau melakukan pelunasan di percepat?” Aku masih mencoba tertap tersadar dan menerima kenyataan pahit ini.

“Ada kok bu, tapi pastinya berapa saya tidak bisa memutuskan. Karena pengajuannya kan harus ke kantor pusat. Nanti dari kantor pusat yang bisa memberi kebijakan.” Sekali lagi suara perempuan bersyal kuning keemasan didepanku terdengar menyayat. Duhai, alangkah tidak jelasnya sistem ini. Dia bahkan tidak memberikan perkiraan potongan yang bisa ku dapat, lalu bagaimana aku bisa mengetahui apakah dana ku cukup atau tidak untuk melakukan pelunasan ini.

“Baiklah, terima kasih atas informasinya mbak. Mungkin belum sekarang pelunasannya.” Kataku sambil melirik saldo tabungan yang ku pegang. Aku kemudian berpamitan dan berlalu meninggalkan meja customer service yang tetiba menjadi semacam meja eksekusi mati.

Langkahku gontai menyusuri lantai kantor bank yang kokoh dan seolah pongah ini. Dadaku masih mengombak dan terasa sesak hingga asupan oksigen ke otak terasa sangat menipis. Kepala mendadak berat dan pening. Aku menepi. Menyandarkan raga yang kehabisan tenaga ke dinding luar kantor bank ini.

Ya Tuhan, begini kah riba? Utang KPR yang ku pinjam lima tahun lalu sejumlah 200 juta, kini masih tersisa 170 juta. Padahal cicilan sudah berangsur separuh jalan. Ah, aku bergidik. Perhitungan bunga kredit yang dulu sempat aku pelajari sewaktu bekerja di sebuah bank asing di Jakarta menyadarkan aku betapa mengerikannya sistem pembayaran kredit di Bank. Cicilan sebesar 3 juta perbulan selama 60 kali ternyata hanya mengurangi pinjamanku sebesar 30 juta.

Tuhan, ampuni hamba.. Bantu lah aku membebaskan diri ini dari hutang riba.

Aku tergugu, tak terasa rinai kesedihan membayang di pelupuk mataku meluncur deras membasahi pipi. Membayangkan harus berjuang sendirian mengumpulkan koin-koin kekuatan untuk membayar cicilan kredit setiap bulan membuatku harus menguatkan kembali punggungku. Padamu aku berpasrah ya Robbi..bantulah hamba.

  • view 199