Part 7 : Salam pada Angin Perbukitan

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Mei 2017
Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan

Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan


Kisah seorang perempuan dusun yang memiliki perasaan cinta kepada seseorang yang sulit untuk diraih.

Kategori Cerita Pendek

1.7 K
Part 7 : Salam pada Angin Perbukitan

Hai Sekar,

Apa kabar mu? Apakah batu itu masih menyimpan tulisan-tulisan kita? Apakah kau masih suka mengunjungi bukit itu?

Sekar, ingin sekali aku menikmati senja di bukit kita itu. Tapi,, aku tak bisa.

Sampaikan salamku pada angin perbukitan, bahwa aku merindukan sejuknya.

***

Aku mendekap kertas putih lusuh itu. Entah siapa yang meletakkannya di depan pintu rumahku. Berkali aku mencubit pipiku, apakah ini mimpi? Aku menemukan surat mu di sore hariku. Dan membacanya sedikit mengobati rinduku yang telah lama menggebu.

Mengapa hanya ada suratmu? Apakah sudah terlalu sulit bagimu untuk menemuiku kini? Apakah kerinduanmu pada sejuk angin perbukitan tak cukup mampu membuatmu menapaki jalan menuju tempat ini? Duhai lelaki dari negri di atas awan.. tak adakah ingin mu menemuiku disini?

Berkali aku membaca suratmu. Apa yang menmembuatmu tak lagi bisa menemuiku di bukit itu? Berbagai tanya kembali memenuhi isi kepalaku.

***

Kau tau bukan, bahwa rindu selalu datang tanpa mengetuk pintu. Dia datang diam-diam, lalu menyelinap ke ruang hati terdalam. Berkali aku mencoba mengusirnya, membuatnya pergi dengan menutup semua jendela dan pintu. Membuatnya merasa pengap dan gelap lalu berharap akan menyerah saja. Namun nyatanya, dia hanya diam tak meronta sesaat untuk kemudian kembali membuat gaduh. Pernah pula suatu kali aku hendak membuatnya mati, mengendap-ngendap aku menghampirinya yang kelelahan di sudut ruangan. Aku pastikan pisau di tanganku cukup besar dan tajam, dan.. ku ayunkan sekuatnya. Aku ingin memenggalnya. Tapi nyatanya, aku yang akhirnya menyerah karena rindu itu begitu kuat mencengkeram pisaunya dan aku gagal memenggalnya.

Lalu..suratmu datang membuat rindu itu kembali menendang-nendang. Aku melihat dia tersenyum seolah mendapat kekuatan baru untuk merindu. Ah aku menyerah, karena setelah ini aku tau bahwa ia akan kembali mengerogoti sunyiku dan membuat sendu langit malamku.

Aku berjalan lesu, menyusuri jejeran pinus menuju bukit. Ini bukan lagi senja. Tapi aku ingin rindu tau bahwa duniamu bergemerlap, terang benderang berbintang dan seharusnya ia tak layak menyiksaku untuk mengharapmu datang.

Lihat lah rindu.. buka matamu. Dunianya begitu indah bergemintang. Apakah kau masih berharap dia datang? Apakah menurutmu kau layak untuk membuatnya terbang, menemuimu yang tak seindah bintang? Jangan kau siksa aku lagi, pergilah dari hatiku.

Lalu,tanpa aku duga... Rindu berteriak lantang. Suaranya menggema berpantul diantara bebukitan. Aku malu, sungguh malu. Aku berlari menemebus hutan. Tak ku pedulikan lagi kakiku yang kesakitan terantuk batu tajam. Aku berlari meninggalkan rindu yang masih saja berteriak-teriak pilu.

Ku dekap suratmu, kertas putih lusuh dengan kata-kata mu yang singkat. Aku memeluknya karena aku tau kaupun merindukanku meski rindu itu tak bisa membuatmu kembali datang kepadaku.

  • view 139