3. Tetaplah Disini

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Mei 2017
Untuk Lelaki yang Ku cemaskan

Untuk Lelaki yang Ku cemaskan


Beberapa hal mungkin tak bisa terjawab..sedangkan hal yang lain lebih indah tersimpan.

Kategori Cerita Pendek

1.3 K Creative Commons (CC) Atribusi
3. Tetaplah Disini

Laila ditanya, “Apakah cintamu pada Majnun lebih besar daripada cintanya padamu?”

Laila menjawab, “Justru cintaku padanya (yang lebih besar).”

Laila ditanya, “Bagaimana bisa?” Laila menjawab, “ Karena cintanya padaku terkenal (ditampakkan), sedangkan cintaku padanya tersembunyi”.

 

dikutip dari Kitab Kebijaksanaan Orang-Orang Gila (Uqala al-Majanin)

Oleh Abu Al-Qasim An-Naisaburi

Halaman : 48

****

Di pagi hari yang sangat mendung, ketika embun masih teramat basah. Dan udarapun masih sangat dingin hingga mampu membuat gigiku gemeretak. Ku lihat engkau tertatih diantara pohon pinus di depan rumahku. Langkahmu gontai dan sesekali tanganmu meraih pohon pinus yang baru ku lukai kemarin untuk ku sadap getahnya.

Kau berdiri di pintu pagar rumahku yang masih terkunci. Seolah tidak hendak masuk, hanya menatap. Lalu merunduk dan berbalik arah hendak beranjak pergi. Aku mengintip dari jendela lalu bergegas membuka pintu rumahku. Ku panggil namamu, namun kau masih melangkahkan kaki mu menjauh dari halaman rumahku. Aku mengejarmu, mencoba menjajari langkahmu. Kau tetap diam dan terus melangkah tanpa mau menoleh kepadaku.

Aku melihat sayapmu patah dan berdarah. Darah menetes membasahi sela-sela bulu putihmu. Ku percepat langkahku untuk mendahuluimu. Aku berdiri tepat di hadapanmu berharap bisa mencegahmu. Kau menghindar, melangkah ke arah lainnya yang tak ada halanganku disana. Aku terpaksa menghentikanmu dengan meraih sayapmu yang lain yang tak patah.

“Datanglah ke rumahku, biarkan aku merawat sayap patahmu.” Kataku memohon kepadamu. Engkau masih diam tak menjawab. Matamu menatap ke arah berbeda seolah tak hendak mengabarkan kepadaku tentang lukamu.

“Aku mohon, ijinkan aku membersihkan darahnya. Dan biarkan aku mengobatinya.” Kau menggeleng.

“Bagaimana mungkin, kau sendiri masih terluka. Lihat itu, sayapmu masih patah.” Katamu sinis. Aku menelan ludah pahit. Kau bergegas melangkah, dan aku tak kuasa tuk mencegah. Ada rasa pedih saat menatap langkah demi langkah kakimu yang beranjak menjauhi ku yang sedang berdiri kaku. Kau berjalan tertatih, menahan luka yang darahnya terus membanjiri. Aku hendak mengejarmu. Kau menoleh dan menatapku.

“Tak usah kau kejar aku, aku butuh waktu sendiri untuk mengobati lukaku.”

Aku tercekat, menatap kepergianmu nanar.

****

Hari kedua, aku mulai merindukan gelak tawamu. Aku berjalan mondar mandir di halaman rumahku, berharap engkau akan melintas di jalan depan rumahku. Tapi tak ada apapun disana, hanya gemerisik daun pinus yang saling beradu tertiup angin bulan Mei. Aku melangkahkan kaki menuju rumahmu. Aku harus menemui, aku harus tau kabarmu.

“Aku baik-baik saja, tak perlu mencemaskan aku.” Katamu sambil memperbaiki posisi tidurmu. Aku mengambil kain yang ada di meja dekat tempatmu berbaring. Ku balutkan pada sayap patahmu. Kau meringis menahan sakit. Ku lihat darah berceceran di lantai kayu dekat pembaringanmu. Aku bergegas keluar, mengambil air dan kain untuk mengelap darah yang sudah mengering di lantai kayu.

Hening.

Setelah membersihkan darah yang berceceran di lantai. Aku kembali mencari beberapa daun yang ku harap bisa mengobati lukamu. Ku buka balutan kain dari lukamu dan membalurnya dengan ramuan yang telah ku buat. Engkau meringis menahan perih. Aku berharap luka itu akan membaik besok. Aku meraba keningmu, kau demam.

“Tidak perlu, cepat tinggalkan aku.” Kau membentak. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dalam keadaan begini. Aku tak menghiraukanmu. Aku melangkah keluar, mencari sesuatu yang bisa ku gunakan untuk meredakan demammu. Aku kembali, ku letakkan selembar daun yang kuketahui bisa meredakan demam. Kau mendengus. Aku meneteskan air mata. Ku palingkan wajahku agar kau tak tau aku menangis.

“Pulanglah, aku tidak suka ada orang yang menangisiku. Cepat pulang.” Katamu dengan nada sangat dingin. Aku tak bisa lagi menahan isakku.

“Biarkan aku merawat lukamu. Jangan kau usir aku.” Kataku terbata.

“Untuk apa? aku tidak membutuhkannya. Luka ini akan sembuh seiring berjalannya waktu. Dan aku ingin menikmati rasa sakitnya. Agar aku bisa ingat, bahwa sayap patah itu menyakitkan.” Katamu

Aku menangis pilu, bagai ada sayat sembilu membelah hatiku.

****

Aku telah merelakan diriku untuk merawat sayap patahmu, meski pun aku tau mungkin bukan aku yang nanti akan menemanimu terbang. Tak mengapa, aku hanya ingin engkau tau bahwa aku tulus kepadamu. Aku berduka manakala melihat kau datang dengan sayap patah, lebih menyedihkan lagi secara tidak langsung akulah menyebabkan patah itu terjadi.

Oh Tuhan,, tolong katakan kepadanya bahwa sungguh aku tak berniat menyakiti hatinya. Bahwa aku menerima apapun tentangnya, baik dan buruknya, hitam dan putihnya serta semua masa lalunya. Aku hanya cemas jika melihat ia terus menerus merasa sesak di dada. Aku risau manakala sayapnya seolah tak bisa mengepak ketika tau hal terpenting dalam hidupnya akan hilang.

Tolong katakan kepadanya Tuhan, bahwa aku mencemaskan kebaikannya. Terlebih kini, setelah sayapnya patah dan dia menjadi begitu dingin kepadaku. Katakan bahwa aku hanya ingin merawat lukanya dan aku akan membiarkan dia terbang nanti. Karena mungkin bukan sayapku yang di harapkan mengepak bersamanya.

Beri dia pengertian Tuhan bahwa,

Tidak semua luka harus di ceritakan pada semesta

Tidak semua cinta harus di ungkap pada pemiliknya

Dan tidak semua rindu harus berujung temu

 

Aku bukan Laila, dan kuharap iapun bukan Majnun. Dari Laila aku belajar bahwa mencintai dalam diam lebih membutuhkan perjuangan besar daripada cinta yang ditampakkan. Karena semestinya, aku memang harus diam. Bentangan takdir diantara kami yang tak sejalan. Cukuplah aku menjadi teman dalam perjalanan nya membalut luka karena mungkin dia tidak mengerti bahwa ada aku disini yang selalu menunggu dan mencemaskannya.

  • view 140