Kaca Benggala

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Mei 2017
Kaca Benggala

 

One upon a time..

Manakala dulu, sebuah cermin adalah barang langka.. “Kaca Benggala” yang mampu memantulkan lekuk wajah dengan sempurna, hingga terlihat jelas apa yang ada pada diri. Kaca Benggala yang untuk mendapatkannya, orang-orang Jawa harus membelinya dari pedagang dari negri atas angin yang jauh. Hanya sedikit golongan yang mampu mendapatkannya.

One upon a time..

Ketika seorang Sekar Kedaton Majapahit, Dyah Wiyat saja tak memilikinya. Kecantikannya hanya dapat ia amati melalui pantulan kecipak air. Sampai seseorang, emban bernama Sekar Tanjung Dyah Menur yang memberinya sebuah cermin kecil sebagai hadiah kepadanya. Hey, bagaimana mungkin seorang emban memiliki kaca benggala seperti itu? Karena sebenarnya, Dyah Menur adalah istri pertama yang tersembunyi, dari lelaki bangsawan yang saat ini menjadi suami Sang Sekar Kedaton.

Kaca Benggala atau cermin..

Mungkin aku, kamu, dia atau beberapa dari kita tak lagi memilikinya. Bukan karena saat ini cermin adalah barang langka, namun karena kita terlalu abai pada apa yang ada dalam diri kita. Kita terlalu sibuk menuding hingga lupa bercermin. Kita terlalu sibuk menyalahkan hingga lupa melihat ke dalam. Mengarahkan satu telunjuk kepada hidung orang lain memang lebih mudah, hingga tak sadar ke empat jari lainnya justru lurus mengarah pada wajah kita. Kita terlalu mudah menganggap diri sebagai korban sehingga lupa merunut sebab akibat. Kita terlalu mudah merasa benar sehingga terlupa melihat salah diri.

Bercerminlah..

Karena setan tak hanya berusaha menggodamu tapi dia juga terus membuatmu merasa benar dan menutupi kesalahanmu dari hatimu. Bisa saja kau merasa telah lepas dari godaan dunia, dan perasaan seolah telah menjadi benar mengembang dalam dadamu. Carilah cerminmu, temukan kaca benggalamu.. Lihat dirimu lebih lekat, pandang jiwa mu lebih dalam.. Mulailah untuk menemukan salahmu dan memaafkan kesalahan orang lain. Sibukkan dirimu untuk memperbaiki diri dan membaiki orang lain.

 

Pict: Google