2. Maafkan..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 April 2017
Untuk Lelaki yang Ku cemaskan

Untuk Lelaki yang Ku cemaskan


Beberapa hal mungkin tak bisa terjawab..sedangkan hal yang lain lebih indah tersimpan.

Kategori Cerita Pendek

1.3 K Creative Commons (CC) Atribusi
2. Maafkan..

Kau tidak pergi atau belum pergi?

Layakkah aku menanyakan itu? Bisakah aku mengharap jawab atas pertanyaanku?

 

Kau ada di hadapku, menatapku lekat. Seakan ingin menggerataki setiap inci wajah ini. Mengamati gerak bola mataku yang tak kuasa menatap tajam ke bola matamu. Aku menunduk. Memasrahkan diri.

“Rain, liat aku. Apa yang sebenarnya terjadi?” Kau mengguncang bahu ku dengan kedua matamu. Mengangkat daguku tepat berada di depan wajahmu. Aku memejamkan mata. Menahan mataku yang terasa memanas. Bahkan aku tidak kuasa untuk sekedar menepis tanganmu yang mengangkat daguku.

“Kenapa Rain, ada apa ini?” Kau kembali bertanya dengan merendahkan suaramu. Aku menggeleng, mencoba mengatakan bahwa tak ada apapun yang terjadi. Aku baik-baik saja. Aku mencoba membuka mataku, memasang senyum disertai binar mataku yang ku upayakan ceria.

“Tidak ada apa-apa kok. Aku hanya butuh cooling down saja.” Kataku sambil memelukmu. Ku lepas pelukan singkat itu. Aku beranjak. Mencoba menikmati suasana di luar yang terasa dingin menyelimuti kulitku.

Engkau berdiri mensejajari ku. Memasang jaketmu lebih rapat karena angin malam memang terasa sekali dingin. Engkau tersenyum ke arahku sambil menepuk pundakku.

“Tetaplah bersikap baik padaku seperti kemarin-kemarin ya. Aku belum siap kehilanganmu.” Kataku sambil tersenyum tipis ke arahmu.

“Ah kau ini..iya, pokoknya baik. Entah seperti kemarin atau lebih baik di masa depan.” Katamu sambil meraih dan mengayunkan tanganku.

****

Dan kini, aku mencemaskanmu. Merisaukan keberadaanmu, akankah kau masih sama seperti kemarin-kemarin. Ataukah telah ku dapati dirimu berubah? Terkadang muncul ke engganan di hatiku untuk memulai perbincangan dengan mu. Entah kenapa.

Aku rindu untuk berbincang hal-hal tidak penting denganmu. Aku rindu mendengarmu berbagi tentang hal-hal yang kau alami setiap hari. Ya Tuhan, aku rindu?? Bukankah baru beberapa hari yang lalu kita berbincang lama. Bukankah baru lima menit yang lalu bertanya kabar?

Aku mendekap sendiri dadaku. Kenapa aku tak henti mencemaskan sikapmu? Kenapa aku harus takut kehilangan sesuatu yang memang tak ku miliki? Kenapa aku harus merasa perlu menggenggam erat sesuatu yang bukan kepunyaanku? Kenapa aku sungguh tidak rela jika kita tak lagi saling berbagi rasa dan cerita?

Apakah sejatinya kini telah aku dapatkan kau berubah?Apakah sejujurnya aku telah kehilangan keberanian untuk sekedar duduk menunggumu?

****

“Aku tidak berubah Rain, masih sama. Atau kau yang telah berubah?” tanyamu sore itu. Ketika kita duduk menikmati kopi panas tanpa gula. Pahit dan asam langsung mencengkeram lidah. Aku tiba-tiba kelu.

Aku ingin sekali tidak ada yang berubah di antara kita, masih hangat seperti kemarin. Tapi dadaku terasa hampa. Tidak lagi ku rasakan ketulusanmu untuk menemaniku. Ah, aku benci. Aku benci semua hal yang harus membuatmu berubah. Dan ternyata, aku yang menyebabkanmu berubah. Aku yang tidak jujur tentang perasaanku. Aku yang tidak bisa menjawab pertanyaanmu tentang rasa ini. Maafkan aku...maafkan aku.

  • view 258