Perempuan dan Secangkir Kopi

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 April 2017
Perempuan dan Secangkir Kopi

Kopi di hadapanku sudah mulai dingin. Ku raba cangkirnya, dingin terasa ke telapak tanganku. Sedingin udara yang menelusuk ke tulang-tulangku. Ku benahi kain panjang yang menyelimuti bahu dan dadaku untuk sekedar menghalau udara dingin di April ini. Musim hujan yang tak biasa, hampir setiap hari turun hujan. Bahkan malam ini pun, masih saja ada gerimis setelah seharian tadi pekat dan deras.

Ku sesap kopi yang mulai hilang hangatnya ini. Entah ini cangkir keberapa yang ku sajikan untuk menyambutmu. Namun nyatanya, tak ada ku lihat sosokmu melangkah melalui deretan pohon cemara yang tertata di hadapanku. Dan aku masih duduk melawan angin malam di beranda ini. Kopi yang mulai dingin tak lantas kehilangan rasa pahitnya. Aku menikmatinya, melelapkan hatiku untuk meresapi rasa pahit yang hadir malam ini karena menunggumu sedari tadi.

Aku merisaukan dirimu yang belum juga datang. Hujan deras macam apa yang menahanmu tidak datang menemuiku malam ini? Atau, akankah dirimu masih lelap dalam dekap hangat perempuan itu? Racikan kopi seperti apa yang ia seduh untukmu sehingga kau lupa untuk datang menikmati kopi bersamaku? Aku gelisah membayangkan dirimu yang enggan melangkah dari sisinya.

Aku sadarkan punggungku pada kursi rotan yang mulai menua ini. Empuknya bantal pada sandarannya tak cukup membuatku nyaman, karena nyatanya mataku belum juga mau memejam. Meski malam sudah semakin larut, namun mataku tak juga penat dan mau terlelap. Bayanganmu masih memenuhi ruang di kepalaku, menari-nari seolah tiada jemu.

Aku beranjak menuju dapur. Ku putuskan untuk kembali menyeduh kopi untukmu. Secangkir kopi hangat untuk menyambutmu. Karena aku masih berharap kau akan datang dan menikmati kopi bersamaku. Kali ini, aku memperhatikan dengan teliti rasa kopi yang aku buat. Racikan gula serta airnya, karena aku menginginkan kopi yang sesuai dengan inginmu. Aku ingin menyajikan kopi yang tak kalah nikmat dari kopi seduhan perempuan itu.

Perempuan berambut sebahu, dengan tubuh semampai berbaju biru yang kau kenalkan kepadaku seminggu lalu. Raisa, nama yang dia sebutkan menjawab uluran tanganku. Perempuan yang menggamit mesra lenganmu, dari senyumnya aku liat dia adalah perempuan yang sangat bahagia membersamaimu. Pancaran matanya mengisyaratkan dia adalah seseorang yang manja.

Aku menarik nafas, berharap udara mampu mengisi paru-paru ku hingga penuh dan tak meninggalkan rongga yang dapat menyebabkan sesak dadaku. Apakah perempuan itu yang menahanmu untuk datang menemuiku malam ini? Kalian sedang apa malam ini? Ah, aku benci ketika pikiranku sampai pada prasangka tentang kalian berdua. Lekas ku tepis pikiran itu dan menata kembali hatiku untuk meyakini bahwa kau akan datang menemuiku. Meski itu artinya aku harus menunggumu hingga larut bahkan hingga pagi menjelang.

 

Aku merasakan seseorang menggenggam tanganku, beriringan dengan suara cericit burung yang sayup-sayup terdengar di telingaku. Aku berusaha membuka mataku,  dan melawan silau matahari yang menerpa wajahku.

“Selamat pagi” terdengar suara yang tak asing di tekangaku. Aku menoleh, ku dapati senyummu di pagi hariku.

“Kenapa harus tidur di luar?” tanyamu, lelaki yang aku tunggu kedatangannya hingga pagi menjelang.

“Kau menungguku semalaman?” tanyamu lagi sambil mendekatkan wajahmu ke arahku. Aku mengangguk, ku edarkan pandanganku ke meja di sebelah kiriku. Ku lihat kopi yang ku buat masih utuh, kau belum menyentuhnya.

“Kau belum meminum kopi mu? Aku mebuatkannya untukmu. Tapi pasti kini sudah dingin, karena aku mebuatnya kemarin malam untuk menyambutmu. “ Kataku sambil tersenyum kecut. Kau tersenyum, sambil membelai kepalaku.

“Aku sudah terlalu banyak ngopi kemarin malam. Maukah pagi ini kau menemaniku berjalan-jalan sejenak. Aku sangat lelah, tapi aku ingin menghirup udara pagi ini dulu sebelum aku tidur.” Katamu sambil berdiri dan meraih tanganku untuk kemudian berjalan.

Kita menyusuri jejeran pohon cemara dan melalui jalan berbatu kecil. Dikana kirinya dipenuhi bunga matahari yang mulai mekar menghadap arah sang Bagaskara.

“Kau bersama perempuan itu hingga larut malam? Atau hingga pagi ya?” tanyaku sambil menata suara agar tak terdengar tercekat. Ku lihat engkau mengangguk dengan lemah.

“Kau pasti bahagia ya, bisa kembali bersama dia.” Tanyaku memasang senyum terbaikku pagi ini. Ku hapus jejak-jejak kecewa di wajahku. Kau menggenggam erat tanganku. Wajahmu masih menatap lurus ke depan.

“Apa saja yang kalian bincangkan hingga pagi?” aku bertanya sambil mengimbangi langkahmu yang terus menyusuri jalan menurun di hadapan kita.

“Udara pagi ini sejuk, aku suka.” Katamu menghentikan langkahmu tepat di depan sebuah batu yang menghadap ke hamparan taman bunga.

“Kau baik-baik saja? Aku mencemaskanmu semalaman. Dan mungkin aku kelelahan menunggumu, hingga tertidur” Kataku sambil menatapmu.

“Apa aku perlu minta maaf atas itu? Bukankah aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku akan mengupayakan datang tapi tak perlu menungguku.” katamu sambil tersenyum kearahku. Tiba-tiba dadaku sesak. Aku menggeleng lemah, dan kembali mengupayakan senyum terbaikku untukmu.

“Tidak, anggap saja tidak terjadi apa-apa.” Aku menatap taman bunga di depanku. Kau meraih kepalaku dan meletakkannnya ke dadamu. Aku merasakan tenggorokanku tercekat dan mataku mulai basah.

“Maafkan aku ya, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu menunggu. Kau tidak boleh lagi menungguku seperti itu. Jangan menyiksa dirimu sendiri duduk di beranda seperti itu. Karena aku akan merasa sangat bersalah kepadamu. Aku pasti akan datang, tapi tidak perlu menungguku.” Katamu sambil membelai rambutku.

Aku mulai menangis.

Oh Tuhan, bagian mana dari kisah ini yang tak aku mengerti. Bagian mana dari kisah ini yang tak bisa aku terima dengan nalarku. Apakah lantas boleh lelah dan berhenti mencemaskan seseorang yang ternyata tak mencemaskan kita. Apakah lantas aku harus tak menyeduh kopi untukmu hanya karena kau sudah terlalu banyak menikmati kopi bersama perempuan lain? Apakah aku harus menyerah untuk menunggumu hanya karena kau terlalu larut menikmati malammu bersama perempuan itu? Apakah aku lantas tak memiliki kesempatan untuk menghabiskan pagi berbincang berdua denganmu sementara kau sudah menghabiskan ratusan kata di malam sebelumnya bersama perempuan itu?

Tak apa, aku akan tetap ada disini. Untukmu.

 

 

 

  • view 218