Bila Habis Sudah..

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 April 2017
Bila Habis Sudah..

Aku terdiam membisu. Aku bahkan lupa bagaimana caraku membuka mulutku. Aku tidak menemukan kata yang tepat untuk menyampaikan ucapan maafku terhadapmu. Aku hanya mampu menatapmu lekat, menahan desiran halus dalam hatiku. Kau masih menyampaikan kekecewaanmu terhadapku.

“Jika kita tidak bisa lagi saling membahagiakan, kenapa kita tidak mengakhiri saja. Jika kita hanya ingin saling menyakiti, kenapa tidak di sudahi saja. Aku masih ingin terus berbahagia bersamamu, tapi aku tidak melihat kau berbahagia bersamaku.”

Kau menggenggam tanganku dengan erat. Aku masih bergeming menatapmu. Mengamati gerak bibirmu yang masih menguarakan keresahan hatimu tentangku. Aku mengambil nafas dalam, Berusaha mengisi rongga paru-paruku dengan penuh.

“Katakan kepadaku sayang, kau tidak bahagia denganku ya? Ada orang lain yang lebih membahagiakanmu lebih dari yang aku lakukan?”

Aku menggeleng perlahan. Tidak ada, tidak ada yang melakukan hal yang lebih baik dari yang engkau lakukan untukku. Hatiku terasa nyilu, aku berusaha keras menahan titik air mata yang mulai mengembang di pelupuk mataku. Kau meraih kepalamu, membawanya menelusup ke dadamu.

“Jangan lagi berbohong sayang, katakan yang sebenarnya. Agar aku bisa menentukan sikapku. Adakah kau mencintai orang lain? Apakah kalian saling mencintai dan membahagiakan?”

Aku memejamkan mataku. Mulutku terkunci rapat, seperti hatiku yang juga kehilangan kuncinya. Aku tidak tau bagaimana caraku membuka pintu untuk menemukan dirimu didalamnya. Yang tersisa saat ini hanya doa-doaku yang selalu ku tata untuk mu. Aku meminta Tuhan untuk menyatukan hati kita, aku memohon kepada Nya untuk bisa terus menjadi yang terbaik untukmu. Iya, aku masih memiliki doa yang sama seperti dulu, saat kita masih bisa tersenyum berbahagia bersama-sama.

Aku tidak percaya bahwa ternyata waktu bisa merenggut semua kebersamaan kita. Hingga yang ada kini hanya sebentuk perasaan ingin bertahan meski tak ada lagi perasaan mendalam. Aku hanya ingin bertahan karena takdir telah mempertemukan kita sekian lama. Aku ingin mempertahankan semua bentuk kenangan yang kini ada meski nyatanya, aku tak lagi menemukan cara untuk terus melakukan yang terbaik untukmu.

Waktu berlalu, dan aku masih tenggelam dalam pelukanmu. Aku ingin menangis dan berteriak, tapi mulutku masih rapat terkunci. Aku mulai meneteskan airmataku. Sekuat hati aku menahan isak dan sesak yang mengombak di dadaku. Aku tidak ingin kau melihatku terluka seperti ini.

Tuhan, jika aku tidak memiliki kekuatan untukB melawan takdirku. Maka buatlah aku bisa berdamai dengan takdirku. Mampukanlah aku membahagiakan orang yang mencintaiku. Dan berikan aku kesempatan untuk mencintai dengan baik.

Tuhan, jika aku tidak memiliki kemampuan untuk membahagiakan dirinya. Jangan biarkan aku menyakiti hatinya. Aku ingin kami berdua berbahagia meski akhirnya tak bisa bersama.

  • view 225