Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan : Angin di Awal Februari

Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan : Angin  di Awal Februari Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan : Angin  di Awal Februari

“Hubungan kami sekarang membaik, Sekar. Dia tak lagi menjengkelkan seperti dulu. Setiap pertemuan kami tak lagi penuh emosi. Semuanya baik-baik saja kini.”

Masih aku teringat ucapanmu malam itu, ketika kita berdua duduk bersisian menikmati bulan separuh yang menggantung di ujung timur Bukit. Malam hari di akhir bulan Januari yang sedikit kelabu dengan bintang yang malu-malu berkerlip di balik awan. Januari dengan frekuensi hujan yang masih kerap kali datang dan menyelimutkan dingin menggigil pada bukit ini. Malam ini pun masih, meski tak ada derai air hujan menitik namun dingin yang ada cukup membuatku menggigil dan membutuhkan berlapis-lapis kain untuk menghangatkan diriku. Kau berkisah tentang dia, perempuan yang sempat membuatmu hilang ketenangan beberapa saat. Menceriatakan dia yang tiba-tiba saja menjadi lebih baik. Aku berharap kau sungguh bisa berbahagia bersamanya.

Aku masih duduk di tangga teras rumahku, menatapi gerak pohon pinus yang tertiup angin di awal Februari ini. Dingin nya masih sama seperti bulan lalu, masih sanggup membekukan tulang-tulangku dan membuat gigiku gemeretak. Baru beberapa minggu kau pergi dengan menyisakan kisah bahagiamu bersamanya, entah kenapa aku merasa sangat sepi. Seolah semua menjadi bisu, bahkan suara serangga hutan pun tak ada lagi. Angin, hujan dan alam tetiba menjadi sepi seolah kehilangan keinginan menghiburku. Apakah mereka akhirnya pun memilih pergi bersamamu dan tak lagi mau menjadi temanku.

Apa hal yang lebih aku takutkan didunia ini selain menjadi sendiri tanpa ada lagi dirimu? Bahkan aku melapangkan hatiku untuk mendengar semua kisahku tentang dia atau tentang lainnya, hanya untuk bisa dekat denganmu. Aku menegarkan jiwaku untuk selalu merelakan diriku melihat mu dengan dia. Mengikis semua ketidakrelaan bahkan ketidaksukaan ku atas kisah kalian. Memangkas habis tak bersisa semua rasa cemburu yang terkadang liar menggerogoti alam pikiranku.

Aku menarik nafas gelisah. Mencoba meredakan alam khayalku yang tiba-tiba melayang kedunia mu dan dia. Membayangkan kau tak lagi mengingatku dan terlalu sibuk menjalani hari bersama dia membuat hatiku pilu. Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menghapus bayangan itu. Bukankah aku seharusnya bahagia melihatmu berbahagia? Bukankah aku seharusnya rela dengan apa saja yang menjadi kebaikanmu?

Aku merabai dadaku, memejamkan mataku. Sabarlah duhai hati, lelaki dari negri di awan, yang kau sayangi itu sedang mencecapi bahagia dengan orang lain. Ikhlas lah duhai jiwa, bahwa dia tak pernah benar-benar ada untuk menemanimu. Rela lah duhai raga, karena tak ada lagi sandaran bahu darinya yang bisa menenangkanmu.

Kau yang datang tanpa pernah aku harapkan dan kau yang kini hilang tanpa pernah aku bayangkan, harusnya engkau tau..aku belajar sabar untukmu, aku belajar ikhlas menerimamu, dan aku belajar rela untuk melepaskanmu. Aku percaya, kau akan menyimpanku dalam indah hatimu. Menempati salah satu ruang di hatimu, meski itu hanya sebatas tempat pengap dan gelap.

desy febrianti

Sekar dan Lelaki dari Negri di Awan : Angin di Awal Februari

Karya desy febrianti Kategori Project dipublikasikan 21 Maret 2017
Ringkasan
Kau yang datang tanpa pernah aku harapkan dan kau yang kini hilang tanpa pernah aku bayangkan, harusnya engkau tau..aku belajar sabar untukmu, aku belajar ikhlas menerimamu, dan aku belajar rela untuk melepaskanmu.
Dilihat 26 Kali