1 : Risau Malam

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Maret 2017
Untuk Lelaki yang Ku cemaskan

Untuk Lelaki yang Ku cemaskan


Beberapa hal mungkin tak bisa terjawab..sedangkan hal yang lain lebih indah tersimpan.

Kategori Cerita Pendek

1.5 K Creative Commons (CC) Atribusi
1 : Risau Malam

Aku terbangun dari tidurku, ku usap sedikit peluh di dahiku. Jam menunjukkan 1.30 dini hari. Hanya  terdengar suara kodok dari petak-petak sawah di sebelah rumahku yang baru kemarin ditanami  benih padi baru. Teringat pada sosok dirimu disana, ku baca lagi pesan yang kau kirim tepat jam 12 malam tadi.

“Tidak perlu mencemaskanku, aku baik-baik saja.”

Aku tidak bisa mengendalikan hatiku yang terus mengkhawatirkan dirimu. Tiba-tiba kau mengatakan ingin menyendiri, menyepi.  Mengingat lagi percakapan kita sebelum aku tertidur dan membiarkanmu menyepi seperti maumu. Aku belum bisa mempercayai “baik-baik saja” yang kau ucapkan. Entah, seperti ada ganjalan di hatiku sehingga aku tidak benar-benar bisa mempercayai ucapanmu itu. Dan kecemasanku membuatku terbangun kini.

Aku mengambil handphone ku, ingin sekali menelfonmu untuk sekedar memastikan apakah kau benar baik-baik saja disana. Aku bimbang, ku letakkan kembali handphone itu di sebelahku. Aku bangun dan duduk di bibir pembaringan. Lantai terasa sangat dingin melingkupi telapak kakiku. Aku memutuskan untuk tidak menghubungimu, kubiarkan engkau dengan kesendirianmu. Aku melangkah menuju teras belakang. Ku buka pintu pintu yang memnghubungkan ruang tengah dan teras belakang. Angin dingin menerpa wajahku menghilangkan tetesan keringat yang masih membasahi wajahku.

Aku duduk menatap langit yang jernih, tidak ada awan dan pekat. Sempurna untuk menampakkan gemintang yang tersebar indah di hamparan langit. Sejauh mata memandang, kerlip bintang membuatku tak henti ingin menatapnya.

Sudah dua jam aku duduk disini, pikiran dan hatiku masih belum bisa teralih dari memikirkan dirimu disana. Apakah disana engkaupun sedang menatap bintang. Hatiku pun belum usai mencemaskanmu, ia masih terus saja berdenyut mengkhawatirkan dirimu disana. Aku menarik nafas dalam-dalam, seolah ingin mengisi penuh rongga paru-paru ku dengan oksigen subuh ini. Meski kantuk tak juga datang, aku mencoba memejamkan mataku. Bukan karena kelelahan mencemaskanmu, hanya sekedar menenangkan hatiku yang tak kunjung berdamai dengan pikiran-pikiran buruk tentangmu.

Matahari sudah mulai bersinar. Pagi menjelang. Aku melangkahkan kaki menuju kamarku. Ku raih handphone ku, ku putuskan untuk melefonmu.

“Iya, aku pulang sekarang. Maaf, sudah membuatmu khawatir ”

Namun kata-katamu tak kunjung meredakan kecemasanku, justru semakin bertambah. Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Ah, mungkin saja aku berlebihan. Bukankah kamu sudah dewasa dan mampu menentukan jalan hidupmu sendiri.

Satu minggu berlalu, hubungan kita juga baik-baik saja seperti sedia kala. Aku pun bernafas lega, mungkin aku yang memang terlalu berlebihan mencemaskanmu. Harusnya aku bisa mempercayai dirimu, toh sikapmu tidak ada yang berubah masih sama seperti sedia kala. Namun siang ini, kau harus tau bahwa kecemasanku ternyata beralasan. Dikala aku tidak bisa memejamkan mataku karena mimikirkanmu dan disana engkau sedang menikmati malam bersama perempuan lain. Ah mas, kau jahat sekali. Harusnya kau tak perlu membiarkan aku mencemaskan mu seperti malam itu.

  • view 232