CLBK ala Tuhan

CLBK ala Tuhan CLBK ala Tuhan

“Non, kamu sudah menikah lagi ya?” tanyaku lewat pesan pribadi menanggapi sebuah status yang ia tulis di beranda media sosialnya.

Ia kirim emoticon senyum bahagia.

“Iya say. Alhamdulillah.” Ia menjawab singkat.

Lalu aku intip foto profilnya, yang menampilkan foto seorang laki-laki dengan background tempat usahanya. Aku mengernyitkan kening, merasa mengenal sosok yang ada di foto profil temenku itu.

“Yang di profil pict ini suamimu ya?” Tanyaku melanjutkan rasa keingintahuanku. Ah biar saja, daripada aku menggunjing di belakang, bukankah lebih baik aku tanyakan langsung pada temanku.

“Iya say.” Dia lagi-lagi menjawab singkat

“Ooo, aku kok berasa kenal ya. Tapi lupa dimana ya.” Kataku, sambil mencoba mengingat wajah itu yang mungkin pernah aku kenal.

Lalu, temenku pun bercerita tentang latar belakang dan asal suaminya. Berharap aku menemukan jawaban atas keingin tahuanku.

“Non, bukannya itu dulu mantanmu ya. Kayaknya aku ingat deh.” Kataku kemudian

Lalu diapun mengirim emoticon tertawa. Dia adalah temen sebangku ku sewaktu SMP. Dan benar, suaminya kini adalah mantan pacarnya ketika dia SMP.

“Iya say, setelah 18 tahun gak ketemu. Sekarang ketemu sudah jadi duda dan janda. Lalu dia datang melamar dan kamipun menikah.” Dia tampak bahagia, terlihat dari kiriman emoticonnya yang penuh senyum dan cinta.

“Ah jalan Tuhan tidak ada yang bisa menduga ya. Selamat Bu, semoga Samawa selalu.” Kataku mengakhiri percakapan kami lewat pesan pribadi itu.

 

Ya Tuhan, Engkau adalah penulis skenario terhebat. Kau menuliskan kisah hidup anak manusia yang sudah terpisah puluhan tahun untuk kemudian berjumpa kembali dalam kondisi yang Insya Allah lebih baik. Mungkin temanku itupun tidak akan menduga bahwa akhirnya dia akan menikah dengan seseorang yang pernah menjadi cinta monyetnya jaman SMP dulu. Itupun terjadi setelah keduanya sama-sama mengalami pernikahan yang berujung pada perceraian.

Aku tersenyum sendiri. Merasa terkadang lucu dengan semua yang terjadi. Terkadang Tuhan seolah bercanda, membiarkan temanku menikah dengan orang lain dulu sebelum akhirnya menyatukannya dengan orang yang pernah dekat dengannya di masa lalu. Apakah hal ini bisa disebut bercanda? Rasanya tidak, karena Tuhan pasti memiliki skenario yang baik untuk diambil sebuah pelajaran. Bukankah Tuhan yang lebih tau saat yang tepat untuk menyatukan mereka?

Lalu, jika kini ada anak-anak manusia yang merasa galau atas perpisahannya dengan seseorang, atau duka anak manusia karena tak bisa meraih cintanya kini, apakah seharusnya memang demikian khawatr? Atau seharusnya nikmati dan jalani saja skenario Tuhan yang hadir saat ini? Toh, tidak akan ada yang pernah tau akan kemana arah jalan takdir membawanya?

Ya, memang seharusnya semua jalan kehidupan dijalani dengan senyum dan baik-baik saja. Tidak perlu berlebihan dalam menanggapi kedukaan ataupun kebahagiaan. Karena duka hari ini belum tentu akan menjadi duka dikemudian hari. Pun sama, bahagia hari ini belum tentu akan menjadi bahagia selamanya. Tidak perlu berlebihan memang, ikuti saja alurnya. Nikmati prosesnya.

Teringat, seorang teman dekat pernah berkata “Kita ini hanya wayang, semua yang ada pada kita sudah ada yang mengatur.” Maka, teruslah menjalani hidup dengan tetap berprasangka baik terhadap apapun jalan takdir yang sudah dipilihkan Tuhan untuk kita. Bukankah tugas kita hanya tetap berjuang dan berdoa, berharap Tuhan memberi belas kasihan untuk merubah takdir kita seperti rancangan kita. Jikapun tidak, maka pastilah rancangan terbaik dariNya yang akan dipilih untuk kita.

Selamat untukmu teman, semoga ini adalah jalan takdir terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk memberimu kebahagiaan hidup. Semoga sakinah mawaddah selalu hidupmu.

 

 

desy febrianti

CLBK ala Tuhan

Karya desy febrianti Kategori Catatan Harian dipublikasikan 01 Maret 2017
Ringkasan
Kata temenku, Gak dapat prawane dapat rondone.
Dilihat 110 Kali