Aku Bukan Princess

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Februari 2017
Aku Bukan Princess

“Ternyata, hidup dia gak sempurna-sempurna amat ya. Tuh liat, anaknya gak normal begitu.”

Duh Gusti, ini kalimat tersadis yang pernah aku dengar selama ini yang ditujukan kepadaku. Bukan karena mengatakan hidupku tak sempurna, bukan pula karena dia mengatai anakku tidak normal tapi karena yang mengatakan ini adalah teman baikku sedari dulu dan mengatakannya dengan nada seolah mensyukuri ketidak sempurnaan hidupku.

Temanku, andai engkau tau dan seharusnya engkau tau sebagai sahabatku bahwa hidupku jauh dari sempurna. Jauh. Bukan hanya karena kondisi anakku tapi engkau tau kan bagaimana aku sejak dulu, sejak kita masih SMU hingga kini masih harus berjuang untuk tetap tegar menjalani hidupku. Lalu, kenapa kau baru menyadari sekarang kalau hidupku tak sempurna, hanya karena melihat anakku yang kau anggap tak normal. Kau salah, justru anakku itu adalah penyempurna kehidupanku karena dia dihadirkan Tuhan untuk menjadi penambah kesabaran dan kesyukuranku. Tidak semua orang tua mendapatkan kesempatan untuk belajar sabar seperti kesempatan yang aku punya. Dan bukankah engkaupun tau, bahwa Tuhan memberikan ujian kepada hambaNya sesuai dengan kemampuannya. Ini artinya, keberadaan dia dalam kehidupanku sudah diukur oleh Tuhan dengan tingkat kesabaran yang ada pada diriku. Aku bersyukur, Tuhan memilih aku untuk memiliki anak istimewa sepertinya sehingga aku bisa lebih baik lagi dalam bersabar dan bersyukur.

Ketika hidupmu sedemikian bahagia dan sempurna, bersyukur atasnya bukanlah hal yang sulit. Kamu memiliki semua yang kau impikan dalam hidupmu, orang tua yang sempurna, suami dan anak-anak yang sempurna serta teman-teman yang juga sempurna, maka bukan hal istimewa kamu masih bisa berbahagia dan bersyukur atas semua nya. Meski harusnya kau tau, bersyukur atas yang kau miliki bukan sekedar dengan menulis status syukur dan bahagia dalam laman-laman media sosial mu tapi juga harus kau sertai dengan sikap menerima dan menghargai setiap kebahagiaan itu dengan cara yang baik.

Dan disitulah letak beda kita, aku tak memiliki semua kesempurnaan seperti dalam perspektifmu. Jika kau mau melihat lebih detail lagi, maka kau akan menemukan tidak hanya satu ketidaksempurnaanku tapi banyak sekali. Namun aku, selalu tetap mau belajar untuk mensyukuri semuanya. Aku masih bisa tersenyum bahagia, masih mampu bersikap baik terhadap orang-orang yang terkadang tak selalu baik dan ramah padaku, aku masih mau belajar untuk menerima untaian takdirku dengan ikhlas. Meski kadang aku tertatih dan sesekali terpuruk letih. Karena tidak mudah untuk tetap berbahagia dan bersyukur dengan realita kehidupan yang tidak selalu seperti mauku. Hidupku bukan seperti princess seperti katamu dulu, mungkin hidupku hanya seperti kisah si upik abu dan aku bersyukur karena mendapatkan kisah hidup dengan segala letak ujiannya. Karena aku tau, Tuhan memilihku sebagai manusia yang menerima banyak ujian bukan tanpa alasan.

Maka kukatakan kepadamu temanku, tidak ada yang istimewa dari perasaan syukurmu karena hidupmu memang sempurna sesuai dengan perspektifmu. Tapi mungkinkah kau masih bisa berbahagia dan bersyukur sepertiku, jika alur hidupmu seperti kisah upik abu ku??

"Aku bahagia dengan semua ketidaksempurnaan hidupku."

  • view 134