Seperti Lagu Inul

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Februari 2017
Seperti Lagu Inul

Aku mau ke Gunung ya minggu depan.

Sama siapa? Aku diajak gak?

Mau ikut? Ayo..aku sama Mischa.

Hah?? Gak ah, aku bosen ke gunung. Mau ke tempat lain aja..

(Langsung gigitin sendal)

-----------------------

Aku di ajak ke pantai nih.

Sama siapa?

Rachel

Hah?? Kenapa harus sama dia? Untuk apa?

Katanya dia pengen ke pantai, mungkin mau bicarain sesuatu.

(Duh, sabar..sabar.. sambil ngelus dada)

--------------------------

Kamu kenapa, kok bales pakai icon mata melotot?

Kelilipan. Sini tiupin..

Ya udah ni aku tiup.

Gak nyampek, siniiiiiii...

Duh, kan jauh..280 Km loh.

Pokoknya siniiiii, cepeeeeet

Ditunda ya, sampai minggu depan.

Ntar mataku bengkak. Aku mau diajak jalan-jalan juga.

Iya, sabar. Kok ribet ya ngaturnya.

Hhhhmmmm

Ternyata sabar gak menyelesaikan masalah ya.

(Aku pun Langsung nyungsep ke kolong meja, sembunyi)

------------------------------

Lalu, sabar dan mengalah menjadi dua kata yang harus dipeluk erat-erat untuk kemudian menjadi semacam mantra penenang bagiku. Karena  aku harus melepaskanmu untuk membuat jadwal bertemu dengan seseorang di hari-hari lain. Jadwal kencan kita sudah seperti lagu dangdut yang dinyanyikan si Inul. Cinta ku di kocok-kocok, menunggu giliran. Dan, aku harus percaya bahwa kau benar mengupayakan dengan sebaik mungkin untuk segera membuat jadwal bertemu denganku.

Rasanya ingin punya hari khusus bertemu denganmu. Mungkin setiap senin atau Sabtu atau hari lain yang kau khususkan menemuiku. Berdua saja, tanpa diganggu gugat dengan jadwal lainnya. Bahkan juga tidak dengan rutinitas kerjamu. Jadi setiap hari tertentu, kita sama-sama meluangkan waktu untuk bertemu secara rutin. Jika saat itu ada, aku akan merelakan dan melepasmu untuk membuat janji bertemu dengan yang lainnya tanpa merasa perlu cemas atau gelisah. Mungkin sih.

Tapi sekarang, aku belum punya hari khusus untuk kita bertemu. Aku bisa apa, toh ketika aku punya rindu aku tetap tak bisa menyampaikannya kepadamu secara utuh. Setiap kita bertemu pun, rindu itu masih tersimpan rapi dalam peti kecil di ruang hati yang tersembunyi. Hanya bisa ku ungkap lewat peluk dan kecup pada kepalamu sesaat sebelum kita berpisah kembali.

Dan lalu, aku kembali dinomor sekiankan. Entah sampai kapan. Untuk menguji kesabaranku katamu. Mungkin kali nanti, bukan hanya aku yang harus sabar dan mengalah tapi mereka juga harus bisa dan mampu mengalah jika jadwal kencanmu adalah denganku. Biar mereka belajar untuk menunggu dan melatih kesabaran sebagaimana kau melatih kesabaranku.

Jika saja kita tidak terpisah ratusan kilometer, mungkin aku akan langsung berlari menuju tempatmu dan mencubit pipimu sepuasku. Karena kamu menggemaskan dengan semua janji-janjimu terhadap mereka, wanita-wanita itu.

--------------------

Ni, aku kasih bunga mawar..biar tambah sabar.  Katamu

---------------------

 

 

  • view 90