Apa kau pikir aku hanya singgah sejenak?

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Februari 2017
Apa kau pikir aku hanya singgah sejenak?

Tunggu dulu, apa kau pikir aku hanya singgah sejenak? Sebenarnya aku tak tau pasti, namun yang aku tau disini aku nyaman dan bisa menikmati semua sajianmu dengan damai dan lapang hati. Aku masih belum bisa meyakinkah diriku sendiri apakah ini singgah hanya untuk menghilangkan penatku  ataukah aku menemukan tempat tinggal yang memang aku cari.

Tunggulah barang sebentar, meski aku sendiri tak bisa meyakinkanmu betapa aku masih ingin tinggal. Setidaknya percayalah kepadaku bahwa aku memang ingin sekali ada disini kini. Bukan hanya sekedar untuk menikmati teh manis darimu, tapi untuk berbincang denganmu. Aku ingin melewatkan waktu disini bersamamu, membagi banyak cerita denganmu.

Tunggulah sayang, jangan kemasi dulu barang-barangmu. Aku masih ingin tinggal. Tidak perlu bertanya seberapa lama, yang aku tau aku masih ingin disini. Kau harus percaya bahwa aku akan menemanimu dan memberikan apa yang kau butuhkan. Meski itu hanya sekedar memberikan senyum termanisku untukmu.

Tunggu sayang, ini bukan hanya tentang teh manis yang kau berikan. Dan bukan tentang apakah ada ketulusan yang kau hadirkan sewaktu menyajikannya. Ini tentang seberapa aku ingin terus melihatmu berbahagia dan menjadi dirimu apa adanya. Ya sayang, jadilah dirimu apa adanya. Menjadilah sebaik dan sehebat yang telah engkau harapkan karena tugasku bukan mengintervensi itu. Aku hanya ingin menjadi pendukung setia mu dan pemberi semangat yang akan berteriak nyaring sekali di tengah lapangan. Semua hanya untuk menunjukkan bahwa aku ada, bukan sekedar singgah.

Tunggu ya sayang, sampai aku benar-benar yakin bahwa ini bukan tentang aku singgah. Meski aku pun mulai ragu untuk kembali melanjutkan perjalananku. Karena nyatanya aku ingin menetap, meski belum memiliki keyakinan kuat untuk tinggal. Cobalah, renungkan sejenak dan perhatikan. Jika aku memang hanya sekedar singgah, aku tak butuh teh manis mu bahkan aku tak perlu memberikan hatiku kepadamu. Perhatikanlah, bahwa aku merelakan dan mengikhlaskan apa saja yang kau berikan kepadaku meski kadang itu tawar atau bahkan pahit.

Ingat-ingat lah sayang, ini bukan tentang teh manis mu, ini bukan tentang singgahnya aku, namun ini tentang seberapa mampu aku menerimamu dengan semua bentuk keinginan bahagiamu. Maka hargailah itu dan tetaplah disini menemaniku berbincang.

  • view 163