Apakah aku patah hati??

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Januari 2017
Apakah aku patah hati??

Kapan aku patah hati? Aku pasti ingatlah, mana mungkin aku lupa. Saat aku dikhianati oleh dia, seseorang  yang sempat menjadi bagian hari-hariku dulu.  Saat aku harus mundur dari perjuanganku untuk terus bertahan dalam sebuah hubungan yang rapuh. Bukan rapuh karena kami tak saling mencintai, tapi karena hubungan yang tak direstui.  Dan ditengah kerapuhan hubungan kami, dia pun bermain-main dengan perempuan lain. Dan kisah selanjutnya berjalan sangat menyedihkan, hingga akhirnya aku harus mengakhiri perjuanganku.

Apa aku patah hati karena itu? O iya, tentu saja. Rasanya semua harapanku hancur berkeping-keping. Musnah semuanya. Aku kehilangan kendali atas hatiku, atas diriku dan semua hal seolah menjadi suram dan gelap. Sunyi, sepi. Tak ada kata apapun sanggup aku ucapkan untuk melepas kepergianmu.

“Seharusnya, ketika seseorang sudah patah hati. Hatinya disimpan saja dan gunakan logika saja setelahnya.”

Ah iya, andai aku tau statement ini sebelumnya. Mungkin hati yang patah itu tidak lagi perlu di simpan, dibuang saja ke laut. Atau lemparkan ke kandang anjing biar bisa dilumat saja sekalian agar di kemudian hari aku tak perlu lagi menggunakannya. Tapi nyatanya, aku baru mendengar kata itu beberapa hari yang lalu. Dan sudah terlambat, karena hati yang pernah patah itu sudah dibenahi sedemikian rupa dan aku pikir sudah siap untuk kembali difungsikan. Ah bodohnya aku, ternyata dunia luar masih saja sama. Meski telah banyak sabar aku menghadapimu, meski telah banyak aku berusaha mengerti kamu, meski telah banyak aku mengalah untuk bahagia mu. Namun nyatanya, aku masih saja dibohongi dan masih saja pantas untuk di abaikan.

Apakah aku patah hati lagi? Entahlah, toh dari semula memang sudah retak dan tak sempurna. Jika ada luka lagi kali ini, pasti bukan hal sulit untuk membuatnya kembali berantakan.

“Maaf ya” kata mu.

Maaf untuk apa? Atas kebohonganmu? Atas sikap manismu selama ini terhadapku? Atas pelukanmu? Atas genggaman tanganmu? Atas ciumanmu di kepalaku? Atas upayamu menguatkan aku kemarin? Atas ucapanmu untuk tetap bersamaku kelak jika statusku berubah?

Maaf atas yang mana?

Ah biarlah, anggap saja semua hanya mimpi lalu. Mungkin aku yang terlalu terburu-buru bermimpi dan merindu. Mungkin memang aku yang terlalu lemah hingga butuh dikuatkan olehmu. Mungkin aku yang terlalu naif berusaha untuk mengabaikan perasaanmu.

Aku tak punya apapun lagi untuk disampaikan. Aku sudah belajar memahamimu dan aku sudah belajar mengerti kamu. Tapi mungkin itu tak cukup bagimu untuk bisa menghargai pengorbananku. Dan iya, aku patah hati lagi. Dimana harus aku simpan hati ini? Atau, aku buang saja ya. Karena aku terlalu takut nanti akan terpedaya dan mulai menggunakannya lagi. Dan aku juga takut, dunia masih sama seperti kini masih penuh dengan rona tak bersahabat untuk hatiku.

“Dulu, ada airmata untuk menguatkan aku. Kini, bahkan air matapun tak hendak membasuh kecewaku.”

Entah apa yang akan berubah di hari ku esok. Tapi yang ku tau, aku harus kembali belajar berdiri dan bersabar. Kalau kemarin kamu latihan berpoligami, mungkin sekarang aku latihan menjadi salah satu istri yang cemburu itu. Atau, aku latihan menguatkan telingaku sambil berkata :

 "Kenalkan, Namaku Bunga dan aku janda."  

  • view 142