Kehilangan itu Menguatkan

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Januari 2017
Kehilangan itu Menguatkan

Tak pernah ada kata siap ketika harus bertemu dengan sang kehilangan. Bagaimanapun kita meneguhkan hati, toh nyatanya sayap kokoh sang kehilangan akan selalu sanggup mendekap kita hingga kita merasa sesak dan sulit bernafas. Sepandai apapun kita mengebalkan hati kita, nyatanya cengkraman jemari sang kehilangan bisa melukai hati yang kita jaga. Kemudian pedih dan menyisakan kesakitan yang mendera.

Lalu kitapun limbung merasa keseimbangan diri dan dunia kita terganggu oleh hadirnya sosok berjubah kelam yang bernama kehilangan. Tak pernah ada kata siap, karena kenyataannya sakit akan selalu menjamah relung hati manakala Sang kehilangan telah berkunjung. Berharap pada air mata yang tumpah melalui ceruk pipi untuk sekedar membasuh bekas sayatan kuku sang kehilangan. Menengadah penuh harap pada Sang Maha Kuasa untuk kembali meberi pelipur lara bagi jiwa yang kini seperti pesakitan. Senyum tiba-tiba juga menghilang, kebisuan mendekap hari-hari seolah mengusir semua mimpi dan keceriaan.

Dan kini, setelah terlalu sering aku mendapatkan dekapan sayap sang kehilangan aku tetap saja merasa sesak. Kehilangan kali ini kembali menyapa, dalam wujud yang mungkin lebih ramah. Jauh-jauh hari ia berkirim pesan, bahwa kali ini kembali aku mendapat giliran untuk di kunjungi. Oh Sang kehilangan, kenapa tiada rasa bosan memelukku. Adakah raga yang belum kau sentuh hingga kau kembali ingin mendekapku?

Kali ini sangat sesak, entahlah apakah lebih sesak dari sebelumnya ataukah sama saja. Ada rasa sakit di dada yang kembali tak bisa aku abaikan. Aku terduduk pada sudut kegelapan, memeluk lututku yang mulai lunglai. Mencoba kembali memaknai kedatangan sang kehilangan. Lalu dia pun berkata “Apa yang ku ambil, bukankah engkau tak pernah benar-benar memiliki nya?” Seolah tertampar, kata-kata sang kehilangan semakin membuatku terpuruk.

Yah, apa yang hilang? Apakah memang dia benar ada ataukah hanya sebatas impian? Apa aku memang telah kehilangan ataukah aku hanya merasa kecewa atas kenyataan yang ada?

“Aku datang bukan untuk mengambil sesuatu darimu, aku hanya ingin engkau sadar bahwa kau tak pernah memiliki apapun. Tidak atas dirinya, tidak atas mimpimu.” Kehilangan kembali menamparku.

“Perih. Aku sesak.” Kataku mengiba mencoba memelas pada sang kehilangan.

“Tidak. Sadarlah. Bukan aku yang membuatmu terluka. Aku hanya membawa pergi yang bukan untukmu. Bahkan meski itu hanya harapan, jika itu bukan milikmu maka aku akan mengambilnya. Percayalah. Aku tak akan mengambil yang memang untukmu.” Kehilangan mendekapku erat, aku sesak seakan tak dapat lagi bernafas. Lalu semua pekat, lantas beku dan bisu.

Aku kehilangan atas apa yang tak aku miliki. Bukan karena sang kehilangan telah mengambilnya, tapi karena kenyataannya semua imaji dan mimpiku telah lantak  terbentur kenyataan yang ada.

Duhai engkau, yang memang ditakdir bukan untukku..pergilah, aku melepasmu dengan rela. Biarkan aku berkawan dengan kesabaran, karena aku sadar sang kehilangan hanya akan tunduk pada kesabaran.

  • view 146