Ketika Senja Menemukanmu

desy febrianti
Karya desy febrianti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Januari 2017
Ketika Senja Menemukanmu

Tak banyak yang berubah dari kota ini. Pembangunan kota dan geliat ekonomi seakan lamban dan kentara terseok-seok. Hanya beberapa taman di pinggiran-pinggiran kota, menjadi pemanis dan pelipur duka bagi warga pinggiran yang haus akan hiburan. Ku lihat ramai sekali anak-anak bermain Roller Blade pada trotoar taman, girang mereka seakan menemukan kesenangan baru untuk mengisi sore hari. Semburat senja membiaskan sebuah harapan bagi para orang tua mereka yang ikut larut bangga saat anak-anak mereka bisa bermain permainan yang dianggap permainan kota itu. Meski aku tau, untuk membeli sebuah Roller Blade beserta perlengkapan keamanannya cukup menguras uang belanja bulanan. Kota ini memang dikenal sebagai kota miskin yang menempati urutan 5 terbawah di Provinsi paling timur jawa ini.

Aku menyesap kopi yang asap nya sudah mereda daritadi. Seorang ibu separuh baya menyuguhkan sepiring pisang goreng di hadapanku. Mataku masih tak lepas mengamati anak-anak yang bermain Roller Blade mengelilingi taman ini saat seseorang menyapaku dengan riang.

“Mas, sudah lama disini?” Suara yang aku kenal, akupun menoleh. Engkau tersenyum sumringah. Ku lihat engkaupun tak banyak berubah. Wajah ceria dan senyummu tetap sama seperti dulu. Aku tersenyum, mengulurkan tanganku. Kau meraih tangaku dan meletakkan punggung tanganku pada pipimu. Aku pun tergelak mengingat kebiasaan lamamu itu.

“Kok tertawa sih?” Katamu sambil tersipu malu. “Maaf, terbiasa nih.”

“Gak papa, aku gak menyangka aja kau masih melakukan itu. Sudah lama sekali sepertinya ya.” Kataku sambil tersenyum kecil. Kau mengangguk. Sekilas waktu melesat jauh kebelakang, saat dulu kita masih sering menemuimu di kota ini. Kita sering menghabiskan waktu hanya sekedar mengobrol atau melihat senja pada ujung lazuardi yang berpadu kecipak air laut. Sudah beberapa tahun berlalu, saat aku tak bisa lagi menemuimu. Pada senja itu, aku melihatmu tersedan sambil memelukku erat. Mungkin memang seharusnya aku tak berucap perpisahan kala itu, toh diantara kita memang tak pernah terjalin komitmen apapun. Namun aku hanya ingin memastikan bahwa kau tak perlu lagi mengharapkan aku menemuimu. Aku terlalu takut akan membuatmu terluka karena nyatanya aku tak bisa memenuhi harapanmu.

“Aku tak berharap apapun mas, aku tau kau tak mungkin membuka hatimu untukku. Bagiku, kita bisa menikmati senja begini saja aku sudah merasa cukup. Kamu ada untuk menemaniku, lalu kita saling berbagi cerita. Itu sudah memberi semangat yang cukup untuk aku bisa melanjutkan hidup.” Katamu dengan mata sembab penuh duka. Aku masih berkeras hati dan tetap memilih pergi.

Lamunanku terhenti saat kau mencubit lenganku. Matamu membeliak menatapku yang tercenung.

“Mas menyesal ya menemui aku sore ini?” Dari nada suaramu aku tau kau menyimpan kecewa atas sikapku barusan. Dengan cepat aku menggeleng dan tersenyum.

“Aku senang akhirnya mas mau menemui aku lagi. Apa kabarmu mas, sudah lima tahun ya kita tak bertemu. Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu mas.” Bias senja yang menyembul dari balik punggungmu, membuat senyummu samar. Tapi aku tau ada ketulusan disana, ketulusan yang masih sama seperti dulu. Mulutku masih rapat, enggan berucap meski hanya untuk mengabarkan bahwa aku baik-baik saja. Aku masih bimbang, akankah ini sebuah kesalahan. Menemuimu di kota ini, akankah menjadi sebuah kesalahan yang akan engkau sesali? Aku menghela nafas. Ku beranikan meraih tanganmu.

“Maafkan aku ya.” Aku menggenggam erat tanganmu. Kau terdiam menatapku.

“Maaf karena sudah meninggalkanmu dulu. Maaf karena akhirnya aku lebih memilih dia daripada kamu.” Aku melanjutkan. Kau tertunduk, lalu mengalihkan pandanganmu pada anak-anak yang riang bermain di tengah taman. Senja sudah berangsur tenggelam berganti petang. Lampu-lampu taman mulai menerangi pohon-pohon palem yang berjajar di pinggir taman. Kau menggeleng lemah.

“Sudahlah mas, semua sudah berlalu. Kau bahagia dengan dia sekarang, itu yang lebih penting.” Suaramu masih menyimpan kesedihan, aku mendengar jelas kesedihan itu.

“Oya, sudah punya berapa anak mas? Pasti mereka lucu-lucu ya. Ayah dan Ibu nya sempurna. Kalian adalah keluarga sempurna.” Suaramu berubah riang, bola matamu kembali memancarkan binarnya. Dan aku masih erat menggenggam tanganmu.

“Aku tidak menikah dengan dia.” Suaraku tercekat, dan sukses membuatmu melongo tak percaya. Kau mengerutkan alismu memintaku melanjutkan kalimatmu.

“Mungkin kami belum berjodoh. Pernikahan itu sudah kami rencanakan, dan batal. Entahlah, seolah semesta tak menyetujuinya. Aku tak lagi ingin mengingat kronologisnya karena itu sudah berlalu tiga tahun yang lalu. Dan aku sudah merelakannya.” Aku melepaskan genggamanku, lalu beranjak untuk membayar kopi yang tadi ku pesan. Lalu aku menarik tanganmu untuk menyusuri taman kota yang tak terlalu luas ini.

“Bolehkah aku memelukmu?” tanyaku ketika kita sudah berada di pinggir sebuah kolam ikan kecil persis di tengah taman. Kau masih menatapku bingung, tapi aku tak mempedulikannya. Karena yang aku tau, kini aku ingin memelukmu dan berjanji tak akan meninggalkanmu lagi seperti waktu itu. Senja telah menemukanmu dan menghantarkanmu kepadaku. Aku menyadari karena perempuan sepertimu lah yang bisa mengerti aku. Ketulusanmu dan kesabaranmu tak akan pernah aku sia-siakan lagi.

Aku merasakan dadaku basah dengan airmata mu.

“Aku bisa apa selain mengadukan semua kepedihanku kepada Tuhanku.. bukankah Dia akan selalu mendengarkan doaku, tanpa merasa bosan.. dan suatu kali, aku percaya Dia akan berhenti berhitung dan mulai mengabulkan doa2ku.. dan kini doaku terkabul mas.” Katamu sambil menatapku lekat.

“Menikahlah dengan ku” kataku berharap. Dan aku melihatmu tersenyum dan mengangguk lemah.

 

 

 

 

  • view 121